<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561</id><updated>2011-11-03T18:33:25.741+07:00</updated><category term='Teologi'/><category term='Sejarah'/><category term='gerakan sosial'/><category term='tubuh perempuan'/><category term='kesehatan'/><category term='gerakan perempuan'/><category term='Keluarga'/><category term='Kritik feminis'/><category term='Pendidikan'/><category term='Sejarah Kolonial'/><category term='Filsafat'/><category term='Tafsir Sejarah'/><category term='Komunikasi'/><category term='Feminisme'/><category term='cerita perempuan'/><category term='Agama-agama'/><title type='text'>Kodrat Bergerak ...</title><subtitle type='html'>journey as a home</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>59</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-3014405666359691699</id><published>2010-05-31T23:00:00.006+07:00</published><updated>2010-09-24T14:36:33.241+07:00</updated><title type='text'>Launching bukuku 7 tahun lalu, KODRAT YANG BERGERAK</title><content type='html'>Teman-teman, hari ini persis tujuh tahun lalu saya menerbitkan buku KODRAT YANG BERGERAK, dengan Penerbit Kanisius (2003). Buku itu didiskusikan di beberapa tempat seperti di Yogyakarta, Jakarta, bahkan sampai ke Purwokerto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tujuh tahun... banyak perubahan yang terjadi pastinya, baik dalam perkembangan dan perubahan empirik yang terjadi di dalam masyarakat dan gereja, namun juga menyangkut pemikiran saya pribadi, sebagai perempuan yang feminis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tujuh tahun... saya bertanya-tanya apakah buku itu memiliki dan membawa dampak atau ada pengaruhnya ya, baik bagi pembaca maupun dalam advokasi persoalan-persoalan perempuan, khususnya dalam ranah Gereja Katolik Indonesia. Atau jangan-jangan, saya masih terlalu hidup dalam mimpi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TAPggkeMSbI/AAAAAAAAAak/J0vvwNiQvYM/s1600/Cover+Kodrat+yang+Bergerak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 216px; height: 313px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TAPggkeMSbI/AAAAAAAAAak/J0vvwNiQvYM/s320/Cover+Kodrat+yang+Bergerak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5477468421963401650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berikut ini saya sertakan beberapa resensi buku tersebut, yang waktu itu, ada di beberapa media. Ada resensi dari teman Daan Dini Khairunida (aktivis Rahima, Pusat Pelatihan dan Informasi Islam dan Hak-Hak Perempuan, yang dimuat di Majalah TEMPO; ada resensi yang ditulis teman Her Suharyanto, penulis lepas, pemerhati masalah sosial, yang dimuat di http://www.bisnis.com//; ada liputan diskusi buku di Gereja MBK, yang dimuat di GEREJAKINI.COM; dan juga tulisan Mbak Maria Hartiningsih yang dimuat di KOMPAS 14 Juli 2003. Kepada mereka saya mengucapkan terimakasih!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam, iswanti &lt;span id="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-3014405666359691699?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/3014405666359691699/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=3014405666359691699&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/3014405666359691699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/3014405666359691699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2010/05/launching-bukuku-7-tahun-lalu-kodrat.html' title='Launching bukuku 7 tahun lalu, KODRAT YANG BERGERAK'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TAPggkeMSbI/AAAAAAAAAak/J0vvwNiQvYM/s72-c/Cover+Kodrat+yang+Bergerak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-6771971548837215859</id><published>2010-05-31T22:56:00.004+07:00</published><updated>2010-09-24T13:19:15.612+07:00</updated><title type='text'>Membicarakan "Kodrat yang Bergerak"  (Buku Pertama Mengenai Posisi Perempuan dalam Institusi Agama Katolik)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;DAHULU, nenek dan ibu kita ingin dipersunting para priayi. Sekarang saya bertanya, "Apa yang boleh saya inginkan?" Di masa depan, anak-anak perempuan kita boleh menjadi apa saja yang mereka inginkan! (Iswanti, Maret, 2000)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;KETENANGAN di permukaan rupanya menyimpan gejolak yang tidak terlihat di permukaan. Mirip seperti laut. Dalam lautan sejarah kehidupan yang sesak oleh pengalaman manusia, seorang perempuan awam beragama Katolik bernama Iswanti (34) meluncurkan buku yang bisa mengentakkan siapa saja yang memahami agamanya hanya pada tataran iman yang intuitif dan literal mistis (tradisi, ritual simbol).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BARANGKALI inilah buku pertama mengenai perempuan dan agama (Katolik), yang ditulis secara terbuka, mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang jujur mengenai kerisauan dalam hubungan-hubungan yang bersifat hierarkial dalam institusi agama serta antara institusi agama dan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku setebal 257 halaman itu, Iswanti mempertanyakan makna agama bagi perempuan, setelah mencoba memaparkan warisan tafsiran tekstual dari teks-teks kitab suci (yang adalah firman Allah) yang sangat misoginis dan merendahkan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxB2Sy-YdI/AAAAAAAAAbE/-umGY0wMwcE/s1600/19558_314407894827_763409827_3373929_2142096_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 234px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxB2Sy-YdI/AAAAAAAAAbE/-umGY0wMwcE/s320/19558_314407894827_763409827_3373929_2142096_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520359644263768530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada halaman 74 ia menulis, "Bagaimana agama bisa menjadi pegangan bagi perempuan jika bentuk-bentuk konkret lahiriah yang muncul sebagai ungkapan relasi antara manusia dengan Tuhan telah mendiskriminasikan serta meminggirkan perempuan? Bagaimana mungkin melalui agama, khususnya perempuan, merasa diri diperkuat oleh Allah yang telah direduksi dan dipenjara dalam dogma-dogma sempit, penafsiran-penafsiran, ajaran-ajaran, maupun tradisi-tradisi keagamaan yang misoginis, namun sering diberi label sebagai "kehendak Allah"? Bagaimana legitimasi terhadap suatu ajaran, penafsiran, maupun praktik keagamaan yang tidak adil terhadap perempuan mesti dipertanggungjawabkan sebagai "kehendak Allah"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iswanti, dengan realitas hidup yang membentuk identitasnya sebagai perempuan-ia adalah anggota komunitas keluarga dan pertetanggaan, anggota komunitas Gereja, mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara serta gerakan perempuan, dan aktif di Jaringan Mitra Perempuan serta anggota Kelompok Perempuan Sadar (KPS)-dengan cerdas menguraikan pandangan-pandangannya melalui "pintu masuk" kodrat dalam pengertian yang umum diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia masuk dari kodrat yang dipahami tidak bisa dipersalahkan, tetapi bisa diubah, yang bergerak," tanggap Afra Siowarjaya, dari Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), dalam diskusi setelah peluncuran buku berjudul Kodrat yang Bergerak di Jakarta, Jumat petang. Diskusi itu merupakan yang kedua setelah yang pertama dilakukan di Yogyakarta pada bulan Juni lalu.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KODRAT yang Bergerak menyoroti secara kritis dengan menguakkan hal-hal yang selama ini seperti tidak boleh dipertanyakan, ditabukan, disakralkan, dan dipenuhi misteri. Judul dari bab-babnya "menyengat". Bab I dikerangkai oleh pandangan penulis tentang "Perempuan dan Vatikan". Bab II, "Feminisme dan Agama", Bab III "Martabat Perempuan di Hadapan Gereja para Bapa", yang dengan terinci mengulas tentang Gereja dan Tantangan Hak Asasi Manusia (HAM). Bab IV, "Tidak Ada Kuasa Padamu, Perempuan", dan Bab V "Perubahan yang Tidak Bisa Dihindari".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iswanti mengakui, isi buku itu lebih diwarnai oleh realitas-realitas historis, sosiologis, dan kultural yang melingkupi perempuan. "Buku ini hadir dari sebuah ’retret’ panjang dalam menggeluti berbagai dimensi dari permasalahan perempuan dalam gereja Katolik, yang bukan hanya mengobok-obok pikiran, melainkan juga menguras perasaan," tulis Iswanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam kesendirian, saya berjumpa dengan dentaman- dentaman kekecewaan dan kemarahan, luapan-luapan kekesalan atas kekerdilan dan kebodohan, ataupun sentuhan- sentuhan lembut kebijaksanaan, ataupun percikan-percikan kecil harapan, ataupun gelora dahsyat semangat pembaruan para perempuan." Buku ini merupakan proses panjang yang diawali dengan keraguan ketika ia mulai belajar mengenali kemanusiaan dirinya sendiri. "Saya tidak pernah memulai dengan pertanyaan ’apa artinya menjadi perempuan?’ melainkan ’apa artinya menjadi manusia?’" ungkap Iswanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iswanti sebenarnya tidak mempertanyakan sesuatu yang baru atau asing bagi mereka yang telah melalui proses atau yang sedang berproses untuk menuju kepada pencerahan. Inti dari pertanyaan Iswanti, "Siapa saya sebenarnya?" adalah pertanyaan yang senantiasa mengusik, yang juga digunakan oleh Elizabeth Fiorenza yang selama bertahun-tahun menyusun penelitian sejarah dan menggunakan hermeunetika sebagai metode untuk mendekonstruksi dan merekonstruksi sejarah dalam bukunya, In Memory of Her, A Feminist Theological Reconstruction of Christian Origin (1983).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, buku Kodrat yang Bergerak sebaiknya tidak dilihat sebagai suatu usaha pemberontakan untuk menghancurkan atau merobohkan tatanan institusi agama yang telah mapan. Kesinisan akan muncul tak hanya dari laki-laki. Pada perempuan, yang telah membatinkan hubungan-hubungan atas dasar relasi kuasa yang dilegitimasi oleh penafsiran dalam kitab suci, semangat pembaruan yang diusung para aktivis juga akan membuat mereka gerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada halaman 115, Iswanti menuliskan gambaran perempuan Katolik dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) yang nyaris tidak ada bedanya dengan ideologi perempuan yang diciptakan oleh rezim Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kodrat yang Bergerak sebaiknya dibaca sebagai media refleksi, kaca untuk bercermin, memandangi diri sendiri. Gambaran di cermin itu bisa mendatangkan kekecewaan, kesenangan, kemarahan, kesedihan, atau memperlihatkan kekurangan dan kelebihan. Tanggapannya bukan lalu "Buruk muka, cermin dibelah", seperti diungkapkan Afra, ketika menanggapi seorang penanya, tetapi bagaimana kita mampu menerima pandangan yang kritis mengenai diri sendiri dan apa yang bisa dilakukan untuk mengubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh tindakan itu sebenarnya ada, meski gemanya tidak bergemuruh. Gereja Katolik yang tidak mengenal perceraian, perlahan melihat persoalan kekerasan terhadap perempuan sebagai hal serius. Para aktivis, perempuan dan laki-laki, bersama-sama mendirikan "Rumah Kita", untuk memberi dukungan pada para perempuan dalam perkawinan Katolik yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gereja bukanlah sesuatu yang statis," ujar penanggap lainnya, BS Mardiatmadja SJ, yang menguraikan perbedaan antara "gereja" dan "Gereja". "Seperti halnya kodrat perempuan yang tidak statis, tetapi selalu bergerak. Gereja sebagai institusi formal baru ada pada tahun 1930-an," sambungnya. Meskipun lambat, ia melihat adanya perubahan-perubahan dalam Gereja untuk menjawab tantangan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaruan sikap Gereja Katolik dalam berbagai isu kritis untuk menjawab tantangan zaman memang tampak dari waktu ke waktu, melalui keputusan-keputusan yang tercakup di dalam Konsili Vatikan. Mardi juga mengakui pentingnya sikap kritis yang terus dikembangkan dari pandangan sosio-teologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, menurut Mardi, Iswanti memandang Gereja sebagai institusi, bukan solusi untuk memecahkan masalah, tetapi sebagai masalah itu sendiri, karena memang Iswanti menggunakan sosiologi sebagai pisau untuk membedah persoalan. "Dan, kita adalah orang-orang yang harus menyelesaikan problem," sambung Mardi, seraya menambahkan, pendekatan itu merupakan pilihan sah, meskipun di dalam buku itu Iswanti mereduksi Gereja sebagai satu oknum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku kritis semacam Kodrat yang Bergerak sebenarnya telah banyak ditulis di luar negeri, dengan kritik yang paling ringan dan sopan, sampai yang paling sarkastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari buku semacam The Catholic Woman: Difficult Choices in a Modern World (Jeanne Pieper, 1993) dan buku-buku lain yang diterbitkan tahun 1990-an, seperti New Roles of Women in the Instutional Church sampai buku-buku yang menjadi acuan yang ditulis oleh Mary Daly, seperti Beyond God the Father: Toward an Philosophy of Women’s Liberation (1973) dan The Church and the Second Sex (1968), yang "kekritisannya" bisa disejajarkan dengan buku-buku yang ditulis oleh Nawal el-Saadawi dalam tradisi Islam. Buku kedua Daly itu seperti digunakan sebagai acuan oleh Iswanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap kritis perempuan terhadap institusi formal Gereja terus bermunculan dari waktu ke waktu. Namun, semangat dan roh teologi pembebasan juga banyak menjadi dasar perjuangan banyak perempuan. Tokoh yang paling terkemuka dalam hal ini adalah Dorothy Day. Jurnalis yang lahir tahun 1897 itu adalah pendiri gerakan the Catholic Worker yang mendekatkan kepedulian sosialnya dengan nilai-nilai religius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang bolak-balik masuk penjara karena mengupayakan gerakan menolak ketidakadilan sosial dengan cara yang damai dan nonkekerasan itu adalah salah satu tokoh yang mendorong keluarnya Ensiklik Pacem in Terris oleh Paus Paulus Yohannes XXIII tahun 1967. Day menulis beberapa buku, di antaranya yang sangat dikenal adalah The Long Loneliness (1952).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DISKUSI hari Jumat kemarin juga terasa sebagai tempat untuk mencurahkan secara jujur perasaan-perasaan kesesakan yang dialami sebagian perempuan-yang dalam tingkat tertentu telah mencapai kesadaran kritis-atas perlakuan pemegang otoritas kekuasaan dalam institusi agama, dan bagaimana berbagai label dengan mudahnya ditempelkan kepada mereka yang dinilai "sudah tidak patuh lagi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam posisi pengambilan keputusan di dalam institusi formal nasional Gereja, juga tampak bagaimana posisi tersebut berjender. "Di Jakarta, dari 55 anggota Dewan Paroki, hanya ada dua perempuan," ujar Afra, "meskipun diakui oleh pemegang otoritas kekuasaan sebagai katekis berpotensi dan memiliki loyalitas tinggi, saya tidak mudah mendapat posisi di Komisi Kateketik KAJ. SK-nya tidak dikeluarkan, meskipun ada posisi kosong yang memang harus diisi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Afra ini seperti memberikan gambaran dari apa yang dikemukakan sosiolog Dr Mely G Tan yang hadir sebagai peserta diskusi, bagaimana hierarkis dan patriarkhis-nya institusi formal agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seluruh institusi agama- agama yang mapan bersifat seperti itu," sambung Ciciek Farha, Direktur Eksternal organisasi nonpemerintah Rahima, yang bergerak di bidang advokasi hak-hak perempuan dan Islam. Ujarnya, "Ketika membaca buku Iswanti, saya seperti melihat diri saya sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pamaparan Ciciek dalam diskusi itu memperlihatkan semangat perempuan lintas agama dan lintas budaya yang senantiasa berdialog atas dasar semangat pembaruan dan pembebasan. Ciciek pernah aktif dalam Tim Relawan Kemanusiaan (TRK) yang bekerja bersama-sama kelompok lainnya untuk korban kerusuhan Mei, dan merasakan semangat kebersamaan itu senantiasa hidup di dalam dirinya. Pengalaman pada saat yang paling kritis dalam sejarah bangsa ini juga telah mengajarkan kepadanya untuk menghilangkan berbagai fobia, yang menempel akibat konstruksi-konstruksi yang dibangun sebagai pegangan beku dari dogma dan "moralitas".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciciek, yang juga menyelesaikan S2-nya di bidang sosiologi, juga menyatakan keengganan para pemimpin agama (apa pun) pada sosiologi karena pisau analisisnya akan membedah berbagai hal dalam praktik agama-agama secara kritis. Hal inilah yang membuat hubungan antara agama-agama besar yang acapkali diwarnai ketegangan, menjadi lebih cair, ketika harus bernegosiasi mengenai isu-isu tertentu, menyangkut perempuan, seperti isu kesehatan reproduksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita lihat di Kairo dalam Konferensi Internasional mengenai Kependudukan tahun 1994 dan di Beijing dalam Konferensi Dunia mengenai Perempuan tahun 1995, sikap Vatikan dan Timur Tengah saling mendukung," ujar Ciciek, menyinggung persoalan pro-life dan pro-choice yang juga menjadi bahan pembahasan Iswanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Iswanti mempertanyakan posisi perempuan sebagai pemimpin agama, Ciciek pun berada pada posisi yang sama. Tuturnya, "Dalam Islam telanjur disosialisasikan bahwa perempuan tidak layak menjadi pemimpin, apalagi pemimpin agama, karena perempuan itu satu otaknya, tetapi sembilan nafsunya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan ini telah coba direvisi oleh beberapa ulama kritis, meskipun tampaknya akan membutuhkan waktu karena seperti halnya dalam agama-agama besar lain, mengubah pandangan yang telanjur diyakini dari teks yang interpretasinya sangat bias gender bukan hal yang mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hubungan saya dan Iswanti sangat dekat," ujar Ciciek. Iswanti adalah orang yang ada bersamanya di dalam saat-saat kritis kehidupan Ciciek. "Ketika saya menikah, ia ada di sana karena pernikahan saya dengan laki-laki Jawa tidak direstui keluarga besar saya. Saya hanya didukung oleh ibu saya. Ketika ibu saya meninggal mendadak, Iswanti juga ada di samping saya. Ketika saya berada pada situasi kritis di saat melahirkan, Iswanti menemani saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan seperti itu juga menjadi bagian dari harapan akan dunia yang lebih setara, lebih adil, dan lebih damai, seperti terus diupayakan para aktivis, yang terus bergandeng tangan-dalam perbedaan- untuk menolak diskriminasi dan berbagai perlakuan tak adil lainnya terhadap perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya Ciciek, upaya Iswanti menulis buku Kodrat yang Bergerak itu adalah merupakan upaya untuk sedikit meringankan beban, ketimbang banyak berutang pada anak-anak perempuan di masa depan. (mh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Kompas, 14 Juli 2003&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-6771971548837215859?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/6771971548837215859/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=6771971548837215859&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/6771971548837215859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/6771971548837215859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2010/05/membicarakan-kodrat-yang-bergerak-buku.html' title='Membicarakan &quot;Kodrat yang Bergerak&quot;  (Buku Pertama Mengenai Posisi Perempuan dalam Institusi Agama Katolik)'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxB2Sy-YdI/AAAAAAAAAbE/-umGY0wMwcE/s72-c/19558_314407894827_763409827_3373929_2142096_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-3986809859174122386</id><published>2010-05-31T22:38:00.003+07:00</published><updated>2010-09-24T13:28:29.038+07:00</updated><title type='text'>Gereja Katolik digugat perempuan Indonesia</title><content type='html'>Resensi buku: Kodrat yang Bergerak-Gambar, Peran dan Kedudukan Perempuan dalam&lt;br /&gt;Gereja Katolik&lt;br /&gt;Penulis: Iswanti&lt;br /&gt;Penerbit: Kanisius, Yogyakarta, 2003&lt;br /&gt;Tebal: XVI + 257&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah suatu ketika seorang perempuan ditahbiskan menjadi pastor dalam&lt;br /&gt;Gereja Katolik? Pertanyaan ini terasa provokatif, dan menggebrak situasi&lt;br /&gt;adem-ayem yang ada dalam Gereja Katolik saat ini, khususnya di Gereja&lt;br /&gt;Katolik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, pertanyaan ini bukanlah persoalan paling mendasar yang hendak&lt;br /&gt;disampaikan oleh Iswanti dalam bukunya tersebut. Tetapi ketika perempuan&lt;br /&gt;muda ini mulai membahas detail demi detail soal peran perempuan dalam&lt;br /&gt;gereja, mau tak mau kita akan sampai pada diskusi mengenai masalah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini adalah satu refleksi teologis yang berakar pada kegelisahan pribadi&lt;br /&gt;si penulis, menyangkut peran perempuan dalam gereja. Kegelisahan itu&lt;br /&gt;terutama menyangkut peran perempuan dalam penentuan arah gereja sebagai&lt;br /&gt;sebuah kapal yang sedang mengarungi zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxEjNJlpKI/AAAAAAAAAbM/xfnfx4KBD88/s1600/26011_338212274827_763409827_3456401_5710892_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 210px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxEjNJlpKI/AAAAAAAAAbM/xfnfx4KBD88/s320/26011_338212274827_763409827_3456401_5710892_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520362614865372322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Iswanti mencatat dan gereja mesti mengakui bahwa bahtera gereja mengarungi&lt;br /&gt;zaman dengan awak yang kesemuanya adalah laki-laki, yang dikenal dengan&lt;br /&gt;sebutan hierarki, mulai dari Pastor, Uskup sampai Paus. Dalam seluruh&lt;br /&gt;sejarah gereja, laki-laki lah yang selalu mengambil posisi menentukan&lt;br /&gt;hitam-putihnya gereja.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dalam menelaah kegelisahan ini terasa bahwa Iswanti berusaha untuk bersikap&lt;br /&gt;adil dan bertanggung jawab. Dia merunut satu demi satu dokumen resmi gereja,&lt;br /&gt;mulai dari ensiklik (surat edaran) yang ditulis oleh para Paus sampai dengan&lt;br /&gt;dokumen Konsili dan ayat-ayat Kitab Hukum Kanonik (Hukum Gereja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi semakin tekun Iswanti melakukan penelaahan terhadap dokumen-dokumen&lt;br /&gt;itu, semakin tergarisbawahilah diskriminasi yang dilakukan oleh gereja&lt;br /&gt;terhadap kaum perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsili Vatikan II, yang disebut-sebut sebagai konsili yang paling terbuka&lt;br /&gt;terhadap dunia modern, ternyata juga menyisakan cerita kelabu tentang&lt;br /&gt;perempuan. Pada sidang-sidang awal konsili itu awal dekade 60-an, perempuan&lt;br /&gt;sama sekali tidak mendapatkan peran kecuali sebagai pendengar di tempat yang&lt;br /&gt;terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaku utama konsili tetap saja Paus, para Kardinal dan para Uskup dengan&lt;br /&gt;jubah kebesaran mereka. Kaum perempuan baru diterima dalam sidang setelah&lt;br /&gt;konsili berjalan lebih dari tiga tahun, itupun dalam jumlah yang sangat&lt;br /&gt;sedikit karena 'undangan terlambat dikirimkan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan sikap ini terutama merupakan reaksi atas diskusi hangat di media&lt;br /&gt;massa di luar tembok Vatikan plus rangkaian panjang demonstrasi kaum&lt;br /&gt;perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil Konsili Vatikan II sendiri memang sangat radikal. Salah satu hasil&lt;br /&gt;radikal tersebut adalah perumusan ulang definisi gereja. Gereja yang&lt;br /&gt;sebelumnya dimaknai sebagai hierarki, pada konsili itu disebut sebagai Umat&lt;br /&gt;Beriman atau Umat Allah, yang dasar keanggotaannya adalah iman pada Yesus&lt;br /&gt;Kristus yang ditandai dengan baptisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor, biarawan, biarawati dan kaum awam adalah anggota penuh gereja,&lt;br /&gt;sehingga tidak ada satu yang mempunyai status keanggotaan yang lebih&lt;br /&gt;istimewa dibandingkan dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi apa yang terjadi puluhan tahun setelah konsili itu berlalu? Tetap&lt;br /&gt;saja hanya kelompok terbatas yang menentukan hitam-putihnya gereja. Dalam&lt;br /&gt;diskusi-diskusi formal memang perempuan selalu disebut-sebut memiliki peran&lt;br /&gt;penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pada tataran praksis, perempuan tetap berada pada posisi yang sangat&lt;br /&gt;pinggiran. Dan puncak dari keterpinggiran itu adalah perempuan tidak berhak&lt;br /&gt;masuk dalam elite penentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi publik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui bahwa buku ini secara teologis sangat mendalam, dan sangat bisa&lt;br /&gt;dipertanggungjawabkan. Kedalaman buku ini pertama-tama justru terletak pada&lt;br /&gt;perumusan persoalannya (status questionisnya), yang merupakan kegelisahan&lt;br /&gt;hidup penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru karena persoalannya adalah sesuatu yang dialami dan hidup, maka buku&lt;br /&gt;ini terasa menjadi satu buku teologi yang membumi. Dan lebih dari itu,&lt;br /&gt;proses refleksi buku ini juga sangat mendalam dan bisa&lt;br /&gt;dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini pula letak perbedaan buku teologi ini dibandingkan dengan buku&lt;br /&gt;teologi karya para teolog profesional Katolik (Iswanti sendiri berlatar&lt;br /&gt;belakang filsafat) yang lebih cenderung membahas tema-tema yang baik secara&lt;br /&gt;emosional, apalagi eksistensial sama sekali tidak tersangkut-paut dengan&lt;br /&gt;hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Kodrat yang Bergerak&lt;br /&gt;adalah buku teologi Katolik paling mendalam yang pernah ditulis oleh seorang&lt;br /&gt;awam Katolik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi tema, harus diakui tinjauan teologis soal perempuan bukanlah hal&lt;br /&gt;baru. Saat ini sudah ada sede-mikian banyak (de facto) teolog perempuan,&lt;br /&gt;yang mempunyai gelar master atau doktor dari fakultas teologi gerejani,&lt;br /&gt;'yang siap ditahbiskan menjadi pastor begitu Vatikan meng-izinkan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam negeri persoalan ini juga sudah mengemuka kendati sekadar dalam&lt;br /&gt;tahap bisik-bisik. Dalam kuliah teologi, misalnya di Fakultas Teologi&lt;br /&gt;Gerejani Wedhabakti, Kentungan, Yogyakarta, hal ini juga sering menjadi&lt;br /&gt;diskusi serius dosen-mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bahwa buku ini kemudian ditulis oleh seorang perempuan (!!!!!) dan&lt;br /&gt;diterbitkan oleh penerbit katolik (Kanisius) yang sangat dihormati, tentu&lt;br /&gt;maknanya menjadi berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna yang berbeda itu adalah, bahwa diskusi mengenai peran perempuan dalam&lt;br /&gt;gereja, suka atau tidak, sudah secara formal memasuki ruang publik. Terbuka.&lt;br /&gt;Siapapun boleh menilai, menanggapi, bereaksi, menolak, mendukung, menerima&lt;br /&gt;atau apapun yang selayaknya diterima oleh Iswanti dan bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bagi gereja sebagai institusi, pilihannya tidak sekadar boleh atau&lt;br /&gt;tidak boleh menilai atau menanggapi manifesto Siswanti ini. Pilihannya&lt;br /&gt;hampir tak ada lain kecuali memikirkan secara serius pertimbangan yang&lt;br /&gt;diajukan Siswanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Her Suharyanto&lt;br /&gt;Penulis lepas, pemerhati masalah sosial&lt;br /&gt;(sumber: http://www.bisnis.com//)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-3986809859174122386?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/3986809859174122386/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=3986809859174122386&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/3986809859174122386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/3986809859174122386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2010/05/gereja-katolik-digugat-perempuan.html' title='Gereja Katolik digugat perempuan Indonesia'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxEjNJlpKI/AAAAAAAAAbM/xfnfx4KBD88/s72-c/26011_338212274827_763409827_3456401_5710892_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-4519245353813057917</id><published>2010-05-31T22:35:00.002+07:00</published><updated>2010-05-31T22:37:40.735+07:00</updated><title type='text'>Perempuan: Kodrat Yang bergerak</title><content type='html'>Gerejakini.com Dalam beragam tradisi, perempuan dikodratkan di bawah laki-laki di hampir semua posisi di masyarakat. Tradisi Jawa mengatakan bahwa perempuan dikodratkan sebagai yang masak, manak, dan macak (memasak, beranak, dan berhias diri). Perempuan diposisikan menempati wilayah domestik dan sekadar patner belakang laki-laki. Di Gereja Katolik sendiri, posisi perempuan untuk berbagai hal masih tersubordinasi di bawah laki-laki. Peranan kunci ada pada hierarki yang note bene terdiri dari laki-laki semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kadang kita memahami kodrat sebagai sesuatu yang terberi (the given), sudah harga mati dan tidak bisa diotak-atik lagi. Padahal, konsep kodrat harus dikaji ulang,” ungkap Iswanti saat diwawancarai di Kafe Semarang, Taman Ismail Marzuki (TIM), Selasa siang (28/5). Iswanti adalah aktivis perempuan dari Jaringan Mitra Perempuan (JMP) yang menerbitkan buku perdananya “Kodrat Yang Bergerak: Gambaran, Peran, dan Kedudukan Perempuan dalam Gereja Katolik” (Kanisius, 2003). Seperti dalam bukunya, Iswanti menyatakan kodrat perempuan itu dinamis dan buka harga mati. “Sebenarnya, apa sih kodrat itu, kok bisa-bisanya masak itu kodrat perempuan? Itulah warisan yang kita terima selama ini. Kita harus mendekonstruksi atau membongkar lagi konsep kodrat itu,” tegas perempuan yang lagi menyelesaikan tesisnya tentang Paul Ricoer di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kodrat, kata Iswanti, adalah hasil konstruksi sosial yang dinamis seturut perkembangan kesadaran manusia. Dengan kata lain, kodrat pun mengalami perkembangan, perubahan, dan mengandaikan masa depan yang terbuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku setebal 257 halaman ini merupakan hasil refleksi Iswanti tentang pengalamannya sebagai perempuan Katolik. Buku ini hadir karena langkanya khasanah kepustakaan mengenai perempuan dalam Gereja Katolik, khususnya dalam bahasa Indonesia dan ditulis oleh perempuan Indonesia sendiri. “Ide praktisnya, karena saya sendiri melihat buku macam ini dalam bahasa Indonesia dan ditulis oleh perempuan Indonesia masih sangat kurang. Susah, sih, cari perempuan dengan pendidikan teologi Indonesia,” kata puteri Solo kelahiran 1969 ini.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai agenda, buku ini akan dibedah pada hari Minggu, 1 Juni 2003 di Penerbit Kanisius, Yogyakarta dengan pembicara Mgr. Sunarka, SJ (Moderator JMP-KWI dan Uskup Purwokerto) dan Ita F Nadia (Komnas Perempuan Jakarta). Rencananya, buku ini juga akan di bedah di Jakarta pada 11 Juli 2003. Iswanti berharap buku ini bisa menjadi sumbangan bagi meluasnya perbincangan mengenai isu dan agenda dalam Gereja Katolik, khususnya di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan buku itu juga berangkat dari keprihatinan Iswanti pada posisi perempuan yang hanya jadi partisipan pasif dalam gereja. “Banyak yang bilang, termasuk para teolog feminin, tidak ada tempat bagi perempuan Katolik di dalam Gereja kecuali sebagai umat yang baik, yang manis, yang selalu doa bersama. Mereka masih menempati peran-peran klasik, seperti bagian konsumsi, sekretaris, penghias altar, dan sebagainya…” ungkap Iswanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyitir gagasannya almarhum Romo Mangunwijaya, Iswanti mengatakan dalam bentuk Gereja yang piramida di mana hierarki sangat kuat, posisi perempuan selalu ada di bagian paling bawah. Tetapi, kalau Gereja dipahami sebagai umat Allah, semua orang mempunyai kedudukan sederajat, egaliter, baik laki-laki maupun perempuan. Bagi Iswanti, Gereja Katolik masih sering bersikap ambigu pada perempuan. “Di satu sisi, Gereja sangat welcome dengan perempuan; tetapi di sisi lain, Gereja, baik formal maupun informal, mendiskriminasikan dan meminggirkan perempuan. Ada banyak tafsiran yang sangat mesogini dan simbol-simbol yang sangat patriakis,” ungkap perempuan yang sedang freelance mengadakan penelitian buku di sejumlah penerbit ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Iswanti tetap percaya dan optimis bahwa masa depan itu terbuka, khususnya masa depan perempuan dalam Gereja Katolik. Baginya, posisi-posisi kunci dalam hierarki Katolik yang sekarang dipegang kaum maskulin, suatu saat pasti akan memperhitungkan partisipasi perempuan karena kesadaran manusia berkembang. Dengan kata lain, Iswanti tetap percaya adanya proses perubahan. “Yah, mungkin inilah yang membuat saya masih bertahan dalam Gereja Katolik karena saya yakin bahwa masa depan itu terbuka dan perubahan akan berproses,” kata Iswanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, menurut perempuan berpostur gemuk ini, perubahan terjadi tidak semudah membalik telapak tangan. Proses yang lama dengan seribu satu tantangan dan mungkin menyakitkan. Tantangan juga bisa datang dari perempuan Katolik sendiri. “Jangan salah, lho. Perempuan kadang mentalitasnya lebih patriarkis ketimbang laki-laki. Hal ini disebabkan karena ia tumbuh dan berkembang di lingkungan patriarkis sangat kuat,” papar Iswanti. Di Gereja Katolik, banyak wadah bagi perempuan seperti WKRI, JMP, dan lainnya. Dialog antar wadah, bagi Iswanti, sangat dibutuhkan. Tapi, Iswanti mengajak agar wadah itu jangan sampai menjadi Dharma Wanita yang hanya diperalat oleh rezim di zaman Orde Baru lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menututp wawacaranya, Iswanti tetap yakin bahwa masa depan itu terbuka dan kodrat manusia itu dinamis dan bergerak sesuai perkembangan kesadaran manusia. Isawanti optimis kelak perempuan Katolik pun bisa menempati posisi kunci dalam Gereja Katolik. (SK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: GEREJAKINI.COM&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-4519245353813057917?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/4519245353813057917/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=4519245353813057917&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/4519245353813057917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/4519245353813057917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2010/05/perempuan-kodrat-yang-bergerak.html' title='Perempuan: Kodrat Yang bergerak'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-4373205404829177000</id><published>2010-05-31T21:59:00.002+07:00</published><updated>2010-05-31T22:34:10.964+07:00</updated><title type='text'>Perempuan, Gereja, Pemberontakan</title><content type='html'>Resensi buku: Kodrat yang Bergerak: Gambar, Peran, dan Kedudukan Perempuan dalam Gereja Katolik &lt;br /&gt;Penulis : Iswanti &lt;br /&gt;Penerbit : Kanisius, Juli 2003 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa ”keluar” dari gereja, Bunda Teresa membutuhkan waktu dua tahun. Ia sadar bahwa tenaganya lebih dibutuhkan orang-orang miskin di luar biara. Tapi gereja tak langsung setuju. Para petinggi agama Katolik ketika itu berpendapat, tempat perempuan adalah di dalam gereja. Dasarnya adalah teks di dalam Bibel: ”Perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan berbicara, mereka harus menundukkan diri…” (1 Kor. 14:34). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pernah dikatakan Dr. Nasarudin Umar, agama bukan hanya telah dipakai untuk melanggengkan kekuasaan konsep patriarki, melainkan juga dijadikan dasar untuk melegitimasi kekerasan terhadap perempuan. Dalam hal perkawinan, dalam tradisi Katolik atau Islam, perempuan tak diizinkan menggugat cerai pada suaminya, walaupun sang istri tidak lagi mendapatkan hak-haknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis buku ini adalah aktivis Jaringan Mitra Perempuan dan alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku ini adalah jawaban dari kegelisahan berkepanjangan dan beribu pertanyaan yang menjuntai dalam kehidupan perempuan dalam pandangan Gereja Katolik. Dalam buku ini pengarang bergulat dalam posisinya sebagai perempuan Katolik. Ia percaya: Tuhan mengasihi siapa pun—laki-laki maupun perempuan.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kodrat yang Bergerak mengajak pembacanya merenungkan dan mengkritik agama dan tradisi beragama, yang merendahkan perempuan. Penulis juga memberikan fakta-fakta sejarah agama (gereja) dalam pandangan seorang perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara berani penulis mengajak pembaca agar tidak tabu lagi mempertanyakan mengapa perempuan tidak bisa menjadi imam. Juga mengapa gereja tidak konsisten dalam memandang kemajuan perempuan. Di mata Iswanti, sang pengarang, kegelisahan perempuan semacam ini harus dipandang sebagai ekspresi spiritualitas perempuan yang rindu akan keadilan Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daan Dini Khairunida (aktivis Rahima, Pusat Pelatihan dan Informasi Islam dan Hak-Hak Perempuan) &lt;br /&gt;Sumber: Majalah TEMPO&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-4373205404829177000?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/4373205404829177000/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=4373205404829177000&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/4373205404829177000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/4373205404829177000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2010/05/perempuan-gereja-pemberontakan.html' title='Perempuan, Gereja, Pemberontakan'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-1393836359793414932</id><published>2010-05-26T00:05:00.005+07:00</published><updated>2010-09-24T14:27:22.704+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gerakan sosial'/><title type='text'>Upahmu Besar di Surga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxGdOiIffI/AAAAAAAAAbU/ePV7CsPzTxY/s1600/10419_160307274827_763409827_2626388_3258364_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 280px; height: 210px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxGdOiIffI/AAAAAAAAAbU/ePV7CsPzTxY/s320/10419_160307274827_763409827_2626388_3258364_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520364711180795378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya pernah tinggal selama beberapa bulan di sebuah biara di Belanda. Di biara besar, yang memiliki puluhan kamar, kapel, banyak ruang dan perabotan plus kebun yang sangat luas dan cantik itu, hanya memiliki beberapa orang karyawan atau pekerja. Di dapur terdapat  2 koki yang saling berganti tugas. Dari 2 koki perempuan ini, dua-duanya selalu datang naik mobil (yang satu malah pakai mobil BMW lagi). Mereka mendapatkan strandart gaji yang sama. Mereka bisa hidup layak dengan gaji mereka sebagai koki di biara, seperti umumnya orang Belanda, bisa memiliki rumah, membayar pajak dan berbagai asuransi, menyekolahkan anaknya, hingga jalan-jalan keluar negeri kalau liburan.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxHIzl-OdI/AAAAAAAAAbk/JkhyxQS4M-E/s1600/10419_160309624827_763409827_2626410_4029810_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 232px; height: 173px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxHIzl-OdI/AAAAAAAAAbk/JkhyxQS4M-E/s320/10419_160309624827_763409827_2626410_4029810_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520365459863386578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu mungkin mimpi bagi para pekerja di berbagai biara di Indonesia. Tentu saja, saya tidak akan membandingkan angka nominal dari gaji para karyawan biara; itu bukan tandingannya. Yang saya ingin bicarakan adalah bagaimana cara mereka menggaji karyawan biara. Biara-biara di Belanda itu biasanya tunduk pada hukum perburuhan setempat, dalam menetapkan standar gaji dan hak-hak pekerja. Sementara itu, kalau di Indonesia, para pekerja di biara-biara, paroki/keuskupan, atau instansi Katolik lainnya, untuk menilainya, minimalnya berapa banyak yang digaji sesuai standar UMR setempat. Ternyata, masih banyak yang digaji di bawah UMR (walau tentu dengan berbagai pernyataan minta maaf, atau permakluman lainnya). Kalau ada kurangnya, ya nanti ditambahkan di surga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Suatu ketika, saya mendapat kesempatan mengikuti pertemuan teman-teman pekerja kerumahtanggan di paroki-paroki dan biara-biara se-Keuskupan Agung Jakarta, yang &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;didampingi teman-teman dari Mitra ImaDei, Jakarta. Acara itu mempertemukan para pekerja kerumahtanggaan dari berbagai biara dan paroki di Jakarta, supaya mereka mendapatkan wadah bersosialisasi dengan sesama teman pekerja. Mendengarkan curhat mereka sangatlah menarik. Mereka ada yang sudah belasan bahkan puluhan tahun bekerja di lingkungan biara, sudah dianggap sebagai keluarga sendiri di komunitas, mendapatkan perhatian kalau sakit atau keluarga yang meninggal, dan kehidupan iman dapat terpelihara dengan baik. Mendengarkan dan mendapatkan perintah yang berbeda-beda (bahkan untuk satu hal) dari banyak suster atau bruder atau pastor adalah hal biasa walau cukup memusingkan mereka, ketemu suster atau &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;pastor yang galak sudah biasa, kurang kebebasan pribadi atau agak sering diatur ditanggapi dengan&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; sikap pasrah (katanya, risiko kerja di susteran atau pastoran sih!). Harapan mereka juga tidak muluk-muluk, mereka ingin diperlakukan adil di antara sesama pekerja, adanya kepastian status, persamaan hak laki-laki dan &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;perempuan, adanya kenaikan gaji berkala dan mendapatkan tunjangan di hari tua. Wadah pertemuan seperti ini diperlukan untuk menjadi oase bagi mereka ini, yang memiliki kebutuhan yang berbeda dan kadang lupus dari perhatian para pimpinan dan&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; penghuni komunitas biara/kongregasi, apalagi kalau mereka tinggal di dalam komunitas biara/kongregasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mbak Maria Goretti dari komunitas Kampung Ambon, yang dulu dipilih menjadi koordinator teman-teman Paperta (Paguyuban Pekerja Rumah Tangga, KAJ), setelah beberapa kali pertemuan, sudah mulai fasih bicara tentang pentingnya pertemuan dan kelompok. Dia sudah pandai memberi masukan pada teman-teman sepaguyuban yang mengalami banyak masalah dan tekanan dari para suster atau romo di komunitas-komunitas biara atau paroki, bahkan terlibat dalam kegiatan hari PRT Nasional bersama teman-temannya. Kegiatan yang sangat positif itu perlu didukung, bukan malah dikhawatirkan macam-macam. Mereka juga punya hak untuk berkumpul dan membuat organisasi; dan patut disayangkan jika ada pihak-pihak dalam gereja yang berkeberatan dengan adanya organisasi pekerja di lingkungan instansi katolik/gereja. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan jika Mbak Maria yang sudah belasan tahun menjadi juru masak di komunitas para romo dan frater itu, bersama-sama dengan teman-teman pekerja lainnya diberi kesempatan untuk lebih maju, mereka bisa menjadi pendorong bagi upaya-upaya perubahan para pekerja rumah tangga lainnya secara umum yang masih sangat memprihatinkan nasibnya. Misalnya, mereka bisa terlibat dalam organisasi pekerja rumah tangga yang lebih luas, atau mendiskusikan rancangan UU atau berbagai perda tentang perlindungan pekerja rumah tangga. Kita merindukan peran-peran seperti ini muncul dari lingkungan anggota gereja, seperti saya merindukan Dorothy Day ala gereja Indonesia. Dorothy Day adalah pendiri the Catholic Worker (1933), yang selama hidupnya bersama bersama the Catholic Worker menyuarakan dan mengkritisi isu-isu perburuhan, kemiskinan, urbanisasi, kebijakan yang diskriminatif, dan berjuang untuk melakukan perubahan sosial yang adil, dan menempatkan nilai-nilai religius serta ajaran sosial gereja sebagai roh dan kompas &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;perjuangannya. Walau tidak diundang datang pada Konsili Vatikan II, dia datang dan berbicara mengenai berbagai isu sosial dengan para uskup yang sedang membahas Gaudium et Spes. Sampai sekarang, dia dihormati layaknya sebagai seorang santa bagi para pekerja dan pejuang sosial-kemanusiaan.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Saya jadi ingat kembali mbak Maria Goretti. Mbak Maria hanya tersenyum di kulum, ketika saya bilang, “Jangan lupa untuk menikah ya! Tidak perlu ikut-ikutan selibat seperti para pemilik dan penghuni komunitas biara lho!” Mimpi kali, kalau saya berharap Mbak Maria bisa jalan-jalan keluar negeri seperti juru masak di biara Belanda itu. Tetapi sepertinya lebih berharga bermimpi jika Mbak Maria bisa menjadi salah satu tokoh pekerja rumah tangga yang bisa menjadi penggerak para pekerja rumah tangga lainnya untuk mendapatkan hak dan perlindungan yang layak sebagai pekerja, seperti yang dulu pernah dilakukan Dorothy Day. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 23 April 2010&lt;br /&gt;Iswanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Mingguan HIDUP, 2 Mei 2010.&lt;br /&gt;Type rest of the post here&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-1393836359793414932?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/1393836359793414932/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=1393836359793414932&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/1393836359793414932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/1393836359793414932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2010/05/upahmu-besar-di-surga.html' title='Upahmu Besar di Surga'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxGdOiIffI/AAAAAAAAAbU/ePV7CsPzTxY/s72-c/10419_160307274827_763409827_2626388_3258364_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-8645853817933847617</id><published>2010-05-25T23:18:00.005+07:00</published><updated>2010-09-24T14:42:05.477+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama-agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tubuh perempuan'/><title type='text'>Perda-perda Diskriminatif dan Paranoia Moralis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxVnkDlQ4I/AAAAAAAAAb0/dnPcVYPpi-s/s1600/7335_147977494827_763409827_2531084_53566_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxVnkDlQ4I/AAAAAAAAAb0/dnPcVYPpi-s/s320/7335_147977494827_763409827_2531084_53566_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520381381431346050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Suatu ketika saya melihat dua orang pengamen (maaf) banci di pinggir jalan yang dikejar dan dilempari batu kerikil oleh anak-anak sambil berteriak dan tertawa, “Banci, banci!” Kedua pengamen itu segera berlalu setengah lari dengan sepatu hak tinggi mereka, tidak mau meladeni anak-anak kecil itu. Dari mana anak-anak itu belajar memperlakukan orang lain seperti itu? Dari mana anak belajar kata ‘banci’? Jawabnya jelas, anak-anak itu belajar dari kita, yang mengaku orang dewasa. Kita sendirilah, masyarakat, yang mengajarkan kelakuan dan menanamkan pemahaman kenapa kita boleh memperlakukan orang-orang transgender seperti itu. Setiap hari kita melihat tayangan di televisi pak polisi dan satpol pp mengejar-ngejar dan melecehkan mereka dengan sangat jelas di depan mata publik pemirsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxWFn7Cl_I/AAAAAAAAAcE/PXdTCH56ld4/s1600/11645_167566284827_763409827_2696393_7320234_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 322px; height: 241px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxWFn7Cl_I/AAAAAAAAAcE/PXdTCH56ld4/s320/11645_167566284827_763409827_2696393_7320234_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520381897865336818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ternyata, walaupun kebanyakan masyarakat kita sudah memegang dunia di tangan (dengan 1, 2 atau 3 buah hand phone), tetapi kita masih hidup dalam alam pikiran sempit, sektoral/sektarian, parsial. Contohnya, kita masih menyukai dan memelihara kekuatan-kekuatan diskriminatif, hirarkis, patriarkis dsb dalam diri kita. Jangankan mereka yang dianggap ‘banci’ dan tidak normal oleh masyarakat, lha anak-anak remaja yang sedang berjalan-jalan di sebuah mall saja dirazia karena orang dewasa menganggapnya ‘tidak sopan’ (Batam, Februari 2008), atas nama Perda Batam No. 6/2002 tentang Ketertiban Sosial (yang mengkopi RUU Antipornografi dan Pornoaksi yang waktu itu belum disahkan).&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap seperti itu juga tercermin dalam perda-perda diskriminatif yang  ada di sekitar kita. Bertahun-tahun saya ikut berjuang menolak RUU  Antipornografi yang sarat dengan pro dan kontra dalam masyarakat, tetapi  Pemerintah di bawah presiden yang sekarang terpilih lagi, ngotot untuk  segera mensahkannya tahun lalu, berkongsi dengan partai-partai yang  menurut saya, ya itu tadi berpikir sempit, sektoral, parsial plus  paranoid. Pemerintah Daerah juga dihinggapi penyakit yang sama, malah  lebih parah, dengan berlindung di balik payung hukum dan atas nama  Otonomi Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan Komnas Perempuan, selama 10 tahun terakhir, terdapat 154  kebijakan daerah yang diskriminatif. Catatan itu diperoleh dari  penelitian  di 69 kabupaten/ kota di 21 provinsi di Indonesia. Sebanyak  64 dari 154 kebijakan daerah yang diskriminatif tersebut merupakan  bentuk diskriminasi langsung terhadap perempuan. Berdasarkan pantauan  Komnas Perempuan, diskriminasi ditemukan dalam bentuk pembatasan  kemerdekaan berekspresi melalui 21 kebijakan yang mengatur cara  berpakaian, juga pengurangan hak atas perlindungan dan kepastian hukum  karena mengkriminalisasi perempuan melalui 38 kebijakan tentang  pemberantasan prostitusi. (Maret, 2009). Dan, teman-teman perempuan  Muslim menemukannya dalam berbagai bentuk seperti peraturan daerah,  qanun, surat edaran, dan keputusan kepala daerah, yang ramai disebut  sebagai perda-perda Syariat Islam, karena secara tegas berorientasi pada  ajaran moral Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar pikiran jahat patriarkis, perempuan yang disasar dari kebanyakan  perda diskriminatif itu. Tubuh perempuan harus diatur karena dianggap  sebagai sumber kejahatan, serta sumber kebobrokan moral masyarakat dan  bangsa. Itulah yang disasar dan dijadikan dasar pembuatan UU  Antipornografi. Cek saja, kebanyakan perda diskriminatif itu mengurusi  bagaimana perempuan harus berbusana! Contoh lain lagi, (ingat nggak?)  kasus ibu Lia di Bogor yang ditangkap polisi malam-malam di jalan,  dianggap keluyuran dan menjajakan diri, padahal dia pulang dari bekerja  di pabrik untuk menghidupi anak-anaknya, atas dasar Perda Larangan  Prostitusi Kota Tangerang Nomor 8 Tahun 2005. Perda ini tanpa pandang  bulu secara de fakto telah melakukan kriminalisasi terhadap perempuan  yang bekerja di malam hari dan menyalahi azas praduga tak bersalah  ketika menjabarkan sasarannya sebagai berikut: ‘Setiap orang yang sikap  atau perilakunya mencurigakan sehingga menimbulkan suatu anggapan bahwa  ia/mereka pelacur …’ Peraturan macam apa ini? Benar, bukannya melindungi  masyarakat, kebijakan-kebijakan itu justru memunculkan situasi di mana  lembaga negara (pemerintah dan legislatif) justru menjadi  penggagas dan  pelaku tindakan diskriminatif terhadap warganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aha, betul ‘kan, kenapa Negara ini tidak maju-maju. Karena DPR (Pusat  dan Daerah) dan pemerintah ternyata lebih sibuk mengurus bagaimana  warganya harus berbusana atau bagaimana menutup aurat dan melakoni  kehidupan seks, ketimbang membuat peraturan-peraturan yang  mensejahterakan warganya tanpa kecuali! Sepertinya lebih mulia mengurus  persoalan moral (sepertinya lebih tepat: persoalan kesusilaan),  ketimbang mengurus soal perut warganya yang masih pada kelaparan. Kita  semua digiring menjadi masyarakat yang paranoid dan reaktif, untuk  hal-hal yang sebenarnya bisa menjadi tanggung jawab individu, yang tidak  perlu campur tangan negara! Ternyata, para wakil kita di parlemen dan  juga pemerintah menderita paranoia akut, terlalu semangat membuat  undang-undang dan peraturan (sayangnya yang tidak diperlukan!!!). Jadi,  jangan-jangan juga benar, di masa depan kita akan disibukkan melaporkan  institusi Negara (DPR dan pemerintah) karena melakukan tindakan kriminal  terhadap warganya. Capek deh! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iswanti&lt;br /&gt;Yogyakarta, Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Mingguan HIDUP, 26 Agustus 2009.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-8645853817933847617?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/8645853817933847617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=8645853817933847617&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/8645853817933847617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/8645853817933847617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2010/05/perda-perda-diskriminatif-dan-paranoia.html' title='Perda-perda Diskriminatif dan Paranoia Moralis'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxVnkDlQ4I/AAAAAAAAAb0/dnPcVYPpi-s/s72-c/7335_147977494827_763409827_2531084_53566_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-920354939076233331</id><published>2010-04-02T15:19:00.002+07:00</published><updated>2010-04-02T15:24:03.158+07:00</updated><title type='text'>Paskah Perempuan...</title><content type='html'>&lt;span id="profile_status"&gt;&lt;span id="status_text"&gt;Paskah-ku kali ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... mereka tidak  diberitakan atau dikabarkan dalam cerita-cerita sebelumnya.&lt;br /&gt;...  tetapi mereka setia pada-Nya sampai yang saat terakhir kalinya, saat  ke-12 murid laki-laki yang dipilihnya telah mengkhianati, mengingkari  dan meninggalkannya.&lt;br /&gt;... mereka ada di sana saat penyaliban dan  pemakaman-Nya.&lt;br /&gt;... mereka adalah yang dijumpai-Nya yang pertamakali  saat Dia bangkit dari kematianNya, dan diminta dan diutus untuk mengabarkan  berita itu.&lt;br /&gt;... mereka adalah yang memilih (dan dipilih) untuk  menjadi saksi dan terlibat dalam peristiwa puncak pertarungan-Nya  melawan kejahatan untuk menegakkan keadilan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah  PEREMPUAN!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita di seputar peristiwa salib adalah cerita  tentang perempuan yang menegakkan dirinya dalam dan untuk martabat, hak,  kuasa, otoritas, iman/keyakinan, perjuangan, airmata, cinta...  bagi  keadilan dan keselamatan, dengan ditemani oleh &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1270195881_0"&gt;Yesus&lt;/span&gt;, teman sejati dan yang dicintai dan  mencintai mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosesi Paskah adalah 'prosesi' perempuan menyusuri  jalan menuju keadilan dan keselamatan bersama Yesus - sahabat, guru,  rabbi dan sekaligus seorang lelaki yang menganggap mereka setara di  hadapan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah Paskah-ku kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat  menyambut Paskah.&lt;br /&gt;Selamat merayakan keterlibatan, kehadiran  ('adanya') dan kekuatan perempuan dalam proyek keadilan dan keselamatan  yang telah dipilih dan ditawarkan oleh Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paskah 2010.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-920354939076233331?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/920354939076233331/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=920354939076233331&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/920354939076233331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/920354939076233331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2010/04/paskah-perempuan.html' title='Paskah Perempuan...'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-3584676777386371853</id><published>2010-02-03T08:16:00.006+07:00</published><updated>2010-09-24T14:18:39.837+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik feminis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita perempuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><title type='text'>Bu Darti</title><content type='html'>Namanya Ibu Darti. Dia dulu bekerja sebagai guru SD Fransiskus di Jl. Kramat Raya. Dalam hidupnya, dia pernah menjadi Ketua Wilayah lebih dari 5 tahun. Di rumahnya, yang kalau di Jakarta termasuk besar, sering dipakai latihan koor, doa bersama serta rapat-rapat. Ketika bertahun-tahun tinggal di rumahnya, saya sering mendengar Bu Darti sedang menelepon untuk urusan wilayah dan paroki; sedang mengetik undangan; sedang berkoordinasi jika ada warga yang sakit, meninggal atau memiliki hajat perkawinan; dan sedang memasak untuk menjamu rapat wilayah di rumahnya. Selain mengajar, waktunya habis untuk melayani semua kegiatan dan urusan wilayah serta paroki. Pelayanan yang tidak mengenal waktu pagi, siang atau malam; hujan atau panas dan banyak nombok. Sebuah aktivitas dan peran kepemimpinan sosio-religius yang tidak asing lagi juga dijalankan perempuan-perempuan katolik sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxJcveVxSI/AAAAAAAAAbs/jBst3HNBBOk/s1600/7335_147989904827_763409827_2531128_2563680_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 308px; height: 230px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxJcveVxSI/AAAAAAAAAbs/jBst3HNBBOk/s320/7335_147989904827_763409827_2531128_2563680_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520368001378272546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Selama ini, jika kita bicara mengenai kepempimpinan perempuan dalam Gereja Katolik kita sering terjebak dalam diskusi tuntutan perempuan Katolik menjadi pastor. Ini karena kita (hampir selalu) menggunakan pastor atau klerus sebagai titik sentral melihat kepemimpinan dalam Gereja. Dan jika sudah masuk dalam diskusi itu, kita sering datang dengan kekakuan kita sendiri, yang menjebak pada debat tiada ujung pada pertanyaan level “boleh” dan “tidak”-nya perempuan menjadi pastor. Nyatanya, kepemimpinan dalam Gereja (Katolik) lebih luas dari melulu membicarakan level kepemimpinan pastor.  &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai wacana dalam Gereja Katolik, kepemimpinan perempuan banyak mendapatkan pertentangan dan debat panjang. Kita bisa saja tiba-tiba bersikap diskriminatif atau seksis, bila membincangkan kepemimpinan perempuan dalam gereja. Namun, dalam kehidupan gereja sehari-hari yang dihayati dan dihidupi umat, persoalan “perempuan menjadi pemimpin” menjadi sebuah kebutuhan dan keputusan tidak terhindarkan. Ketika kepemimpinan perempuan di luar gereja –dalam masyarakat dan pemerintahan– makin diakui dan menjadi hal biasa, situasi ini juga mempengaruhi dinamika kepemimpinan perempuan di dalam gereja setempat, seperti paroki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga teringat dengan cerita Ibu Eligia Rahail. Kami bertemu di sebuah pertemuan. Dia tinggal di Palangkarya, sangat aktif sebagai pengurus WKRI, anggota Dewan Pengurus Paroki serta salah seorang Ketua Wilayah di parokinya. Cerita Ibu Rahail berikut bisa menjadi bahan renungan lebih lanjut mengenai situasi yang seringkali muncul problematis dan ambivalen dalam menanggapi kepemimpinan perempuan dalam Gereja, dan perlu didiskusikan oleh umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya adalah salah seorang Ketua Wilayah di paroki. Apa yang saya lakukan sama dengan apa yang dilakukan oleh Ketua Wilayah lainnya, yang laki-laki, seperti memberikan pelayanan pada umat di wilayah dan juga paroki, menjalankan kepemimpinan di wilayah dll. Tidak ada bedanya. Persoalan muncul ketika saya sebagai Ketua Wilayah mendapatkan giliran untuk menjadi rasul yang dicuci kakinya pada prosesi pembasuhan kaki, Kamis Putih. Saya ini perempuan. Tidak ada cerita, perempuan menjadi rasul dalam pembasuhan kaki. Kemudian persoalan ini dirapatkan dalam paroki maupun wilayah. Diputuskan beberapa hal, yang pada intinya mencari laki-laki untuk menggantikannya. Pertama, mencari pengganti dari Ketua Wilayah yang lain yang tentu saja laki-laki, atau mencari pengganti dari tokoh umat yang berasal dari wilayahnya. Tetapi, hampir semua yang masuk dalam daftar pengganti itu sudah pernah menjadi rasul dalam prosesi pembasuhan kaki. Tidak ada keputusan. Dan, pastor paroki juga tidak bisa memberikan jawaban dan keputusan yang jelas. Saya bilang pada semua, terserah saya mau digantikan oleh siapa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau mau bicara soal kepemimpinan (perempuan) dalam Gereja Katolik, Bu Darti dan Bu Rahail menjadi contoh sangat jelas. Jika cerita seperti Bu Darti dan Bu Rahail akan semakin banyak, pelan-pelan akan memaksa Gereja Katolik belajar menghadapi perubahan ketika kepemimpinan bisa ‘dibicarakan’ secara demokratis dan dibagi secara equal di antara laki-laki dan perempuan. Kecuali jika Gereja Katolik mau berjalan mundur, dengan menghambat kemajuan para perempuan. Jika wacana kepemimpinan perempuan dalam Gereja Katolik masih dipenuhi dengan kekakuan sikap dan pandangan kita, maka pada gilirannya tuntutan situasi riil dalam hidup bersama menggereja akan mengambil-alih dan mencari jalan keluarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Darti, yang ketika meninggal dulu disemayamkan di Gereja dan umat membludak melayat, menjadi penanda ingatan bagi saya, bahwa jejak-jejak tipis tidak akan bisa dihilangkan, dan akan menebal di kemudian hari. Sekarang, saya sedang membayangkan akan seperti apa Gereja kita nantinya jika separuh dari jumlah ketua wilayah, ketua lingkungan, ketua paroki atau prodiakon yang ada di paroki-paroki adalah perempuan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nijmegen, 5 Oktober 2009&lt;br /&gt;Iswanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tulisan ini sudah dimuat di majalah Mingguan HIDUP, 18 Oktober 2009)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-3584676777386371853?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/3584676777386371853/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=3584676777386371853&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/3584676777386371853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/3584676777386371853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2010/02/bu-darti.html' title='Bu Darti'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/TJxJcveVxSI/AAAAAAAAAbs/jBst3HNBBOk/s72-c/7335_147989904827_763409827_2531128_2563680_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-7858563378860163775</id><published>2009-09-23T03:07:00.010+07:00</published><updated>2009-09-27T03:09:40.540+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feminisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita perempuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gerakan perempuan'/><title type='text'>Menjadi Feminis Katolik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/Sr50OPjpv3I/AAAAAAAAAW0/QwDh4Dty_BU/s1600-h/P1010027.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 215px; height: 161px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/Sr50OPjpv3I/AAAAAAAAAW0/QwDh4Dty_BU/s320/P1010027.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5385869992424750962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mengaku sebagai feminis katolik bukanlah hal yang mudah. Ada semacam fobia anti-feminis (juga ketakutan, kekhawatiran), di dalam masyarakat kita, karena para feminis ini, katanya  “galak, radikal, aneh, suka protes dan menuntut” dsb. Istilah “gender” tampaknya dianggap lebih friendly, soft dan nyaman. Saya tidak mau berdebat tentang masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feminis, entah karena pengakuan eksplisit atau implisit, dengan pengertian yang paling sederhana dan umum, pada dasarnya memiliki kesadaran bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena keperempuanannya, dan berkomitmen serta berjuang untuk merubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa perempuan feminis di kalangan katolik agak enggan untuk menghubungkan  dirinya yang feminis dengan kekatolikan, singkatnya, enggan mengaku menjadi feminis katolik.  Banyak alasan bisa diberikan, baik dari sisi feminis-nya maupun dari pandangan/institusi katolik-nya.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/Sr50AQ-3GaI/AAAAAAAAAWs/mSjUgWVISEw/s1600-h/P1010014.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 218px; height: 164px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/Sr50AQ-3GaI/AAAAAAAAAWs/mSjUgWVISEw/s320/P1010014.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5385869752289139106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tetapi, berikut saya ingin membagikan hasil sharing teman-teman katolik yang feminis, mengenai hubungan “menjadi feminis” dengan kekatolikan.  Sharing ini merupakan bagian dari acara “Pertemuan Nasional Perempuan Katolik Indonesia” yang diselenggarakan oleh Mitra ImaDei, 12-15 Februari 2009 lalu. Saya menengok kembali catatan saya, dan menuliskannya di sini untuk semakin membuka pemahaman dan dialog tentang hubungan “menjadi feminis” dan kekatolikan. Sebagai sharing, tentu saja, sebagian besar berasal dari pengalaman dan refleksi pribadi para peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hubungan antara nilai-nilai kekatolikan dengan diri sebagai feminis:&lt;br /&gt;Bisa terintergrasi karena Yesus merupakan inspirator utama gerakan feminis; Secara iman Katolik tidak ada masalah dalam berjuang sebagai feminis; Ajaran Katolik menjadi dasar/sumber inspirasi memperjuangkan hak-hak perempuan; Agama Katolik menjadi spirit untuk meneruskan perjuangan; Merasa aman dengan agama (tidak persoalan antara menjadi feminis dengan menjadi katolik); Tidak merasa bersalah terhadap agama; Dibawa dalam doa mendekatkan diri pada Tuhan; Adanya komitmen person-person/orang-orang dari dalam dan luar gereja yang sudah mulai mencoba mensinergikan untuk menjadi sebuah gerakan memperjuangkan hak-hak perempuan dalam hirarki gereja Katolik; Gereja mendukung pekerjaan/perjuangan sebagai feminist dengan adanya training-training gender yang melibatkan perempuan dalam organisasi gereja; Perubahan melalui pendidikan: sekolah-sekolah katolik memberikan training gender dsb.; Gereja yang merupakan masalah karena sering menjadi hambatan; Tidak terintegrasi karena masih terdapat perilaku iman dari umat yang bertindak diskriminatif terhadap perempuan akibat konstruksi budaya setempat; Tidak terintegrasi karena adanya ajaran-ajaran gereja yang masih memandang perempuan rendah. Misalnya karena menggunakan  ayat-ayat KS untuk melarang. (Ef 5: 22-23; Kel 3:18 ; 4:6)&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/Sr50iUhijBI/AAAAAAAAAW8/ijkbFgVC1ok/s1600-h/P1010035.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 224px; height: 168px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/Sr50iUhijBI/AAAAAAAAAW8/ijkbFgVC1ok/s320/P1010035.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5385870337355451410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apa yang menjadi hambatan dan tantangan untuk menjadi feminis katolik:&lt;br /&gt;Perjuangan perempuan belum diakui; Didiskriminasikan di masyarakat, dicap pemberontak; Dicemooh oleh masyarakat : diejek, dilecehkan; Dari keluarga : aktif di luar harus seijin suami; Dari umat : dicibir; Dianggap aneh; Dicap pemberontak karena dianggap menentang ajaran gereja; Hambatan dari komunitas : sesama anggota biarawati; Gereja Katolik tidak mendukung karena mereka sendiri adalah pelaku ketidakadilan terhadap perempuan sekaligus melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan gereja.; Dari hirarki: banyak peraturan tidak tertulis dan tidak tertulis perempuan tidak boleh menjadi ini dan itu di dalam gereja. (tidak boleh ikut pembasuhan kaki; tidak boleh menjadi prodiakon dsb); Kepedulian biarawan dan biarawati kurang; Belum ada kesatuan pandangan di kalangan feminis katolik; Keraguan apakah jalan di tempat itu baik; Takut kebablasan; Feminis Katolik dianggap akan mengacau kemapanan hirarki; Membantu perempuan berarti menanggung konsekuensi tidak disukai pejabat gereja; Mendobrak kemapanan hirarki; Dokumen gereja belum kuat dipelajari umat; Feminis Katolik masih terus harus berjuang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kesempatan/dukungan/semangat untuk berani mengekspresikan diri sebagai feminis katolik:&lt;br /&gt;Yesus sebagai inspirator; Dukungan dari pengalaman korban membuat kita tetap semangat berjuang  dan pantang mundur; Dukungan dari sesama aktivis; Ketakutan gereja harus diatasi: lebih banyak diskusi, dialog dan penyadaran; Dukungan suami sangat penting dan diperlukan; Dalam gereja : supaya ada pelajaran teologi feminis bagi para pastor dan suster, juga umat.; Di masyarakat : kerjasama dengan gerakan perempuan Islam dan agama lain; Kerjasama dengan organisasi sosial dan gerakan sosial masyarakat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat hasil sharing itu, sepertinya menjadi feminis katolik memang tidak mudah.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-7858563378860163775?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/7858563378860163775/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=7858563378860163775&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/7858563378860163775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/7858563378860163775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2009/09/menjadi-feminis-katolik.html' title='Menjadi Feminis Katolik'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/Sr50OPjpv3I/AAAAAAAAAW0/QwDh4Dty_BU/s72-c/P1010027.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-4474109957766084275</id><published>2009-06-24T19:47:00.006+07:00</published><updated>2009-09-23T03:33:15.428+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gerakan sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita perempuan'/><title type='text'>Maria Tere dan Magnificat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SkIj_z19RMI/AAAAAAAAAVc/QDD_fpRlyII/s1600-h/Photo-0074.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 285px; height: 215px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SkIj_z19RMI/AAAAAAAAAVc/QDD_fpRlyII/s320/Photo-0074.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350878886424822978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Beberapa hari lalu saya baru pulang dari Kuala Lumpur, Malaysia. Di sebuah restoran yang cukup ramai setiap harinya, di Jalan 222, seorang perempuan asal Timor Leste biasa melayani minuman. Di restoran yang terkenal dengan mie Hokian-nya (mie hitam) itu, Maria, perempuan asal Timor Leste itu sudah beberapa tahun bekerja sebagai pelayan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pertama kali aku bertemu dengannya, dia langsung mengenali aku sebagai orang Indonesia, dan dikiranya aku berasal dari NTT. “Kakak orang kitakah? Dari Timur?” tanyanya. Jangan heran, rambutku yang keriting dan kulitku coklat gelap sering membuat orang salah menebak dari mana asalku.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum sambil menggeleng, saya bilang saya orang Solo. Kami hanya sempat ngobrol sekenanya. Pemilik restoran itu selalu mengawasinya, dan lagian restoran itu juga tidak pernah sepi. Melihat kami memesan babi panggang, dia bertanya, “Kakak orang Kristen ya?” Saya dan teman saya tertawa mengangguk. “Saya orang Katolik,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali, khususnya kalau saya makan di restoran, saya bertemu dengan teman-teman dari NTT. Makin lama saya amati makin banyak jumlah mereka. Ketika beberapa waktu lalu saya melakukan penelitian di Singapura, beberapa paroki dan keuskupan memberi wadah bagi mereka untuk bertemu. Di Singapura Keuskupan Agung Singapura melalui Komisi Migran (Archdiocesan Commission for the Pastoral Care of Migrants &amp;amp; Itinerant People – ACMI), membuka kursus-kursus yang bisa diikuti para pekerja migran dari Indonesia dan Filipina. Juga ada Kongregasi FMM yang membuka FILODEP, banyak memberikan pelayanan pastoral bagi para pekerja migran dari Filipina dan Indonesia, melalui misa bersama, juga membuka berbagai kursus dan juga crisis centre.  Kondisi geografis Singapura yang kecil memungkinkan para pekerja migrant ini berkumpul lebih kontinyu. Tetapi di Malaysia? Saya tidak banyak mendengar adanya gereja-gereja yang membuka ruang untuk mereka. Saya tanya seorang teman dari NTT yang menjadi pelayan di food court, katanya susah untuk bertemu teman karena tidak ada hari libur. Dia juga tidak pernah mendengar adanya kegiatan untuk para pekerja migrant di paroki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali ya pekerjaan rumah kita! Saya ingat tulisan saya di Majalah Mingguan HIDUP, akhir bulan Mei lalu. Saya menulis tentang Magnificat. Bagaimana kita memaknai Magnificat sekarang ini, di tengah kepungan devosi kita terhadap Bunda Maria?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya, Magnificat adalah sebuah provokasi sosial. Magnificat harusnya dibaca sebagai sebuah provokasi sosial untuk melakukan perubahan atas sistem dan struktur yang mengakibatkan ketidakadilan. (Ingat nggak apa bunyinya?) Ini ayat favorit saya, “Berharap Allah menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa.”  Dalam tulisan itu, saya mengambil contoh pengalaman seorang teman asal Flores yang bekerja di Kuala Lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut saya kutipkan paragraf terakhir dari tulisan tersebut (sekalian ya minta izin sama Majalah HIDUP untuk mengutip.):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria Tere, seorang PRT migran asal Flores yang saya temui di Kuala Lumpur mengaku Bunda Maria adalah pelindung satu-satunya. Katanya, “Di sini (Malaysia), saya tidak punya pelindung siapa-siapa. Pemerintah Indonesia tidak melindungi saya, PT (agensi) tidak melindungi saya, Pemerintah Malaysia tidak melindungi saya, majikan tidak melindungi saya. Polisi tidak melindungi saya. Hanya Bunda Maria pelindung saya.”  Jadi, kita bisa salah, jika kita hanya menilai devosi Maria Tere terhadap Bunda Maria adalah suatu bentuk kepasrahan dan kesalehannya sebagai orang Katolik. Karena semakin kuat devosi Maria Tere pada Bunda Maria, itu bisa berarti semakin besar kesendiriannya dalam berjuang, dan juga berarti semakin besar ketidakpedulian kita pada nasibnya! (Iswanti, Majalah Mingguan HIDUP, Vol. 63, No. 22, Juni 2009, hal. 50)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-4474109957766084275?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/4474109957766084275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=4474109957766084275&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/4474109957766084275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/4474109957766084275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2009/06/maria-dan-magnificat.html' title='Maria Tere dan Magnificat'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SkIj_z19RMI/AAAAAAAAAVc/QDD_fpRlyII/s72-c/Photo-0074.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-3997683762315785052</id><published>2009-05-08T13:01:00.005+07:00</published><updated>2009-05-08T14:03:42.005+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik feminis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama-agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tubuh perempuan'/><title type='text'>In Memoriam Pastor Yoseph Suban Hayon SVD: Teolog Katolik Mendengar dan Merespon Suara Perempuan Korban Kekerasan</title><content type='html'>Pagi ini, 8 Mei 2009, aku mendapat kabar dukacita, Pastor Yoseph Suban Hayon SVD, yang kukenal saat penyusunan buku tentang komunitas agama merespon suara perempuan korban kekerasan. Aku baru bertemu sekali pastor yang rektor STFT Ledalero ini, tetapi memiliki semangat dan kepedulian besar terhadap persoalan perempuan. Pernah pater ini mengatakan pada saya, “Walaupun saya ini tidak punya dasar tentang teori feminis atau teologi feminis, tetapi saya dengan sukarela terpaksa belajar, karena ini penting untuk diberikan dalam pendidikan/mata kuliah di seminari.” Pater Yoseph Suban SVD adalah salah satu penulis dalam buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memecah Kebisuan: Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Keadilan, Respon Katolik &lt;/span&gt;(Komnas Perempuan, 2009)&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;.&lt;/span&gt; Saat peluncuran buku ini oleh Komnas Perempuan, beliau sudah sakit dan tidak bisa hadir. Buat Pater Yoseph Suban SVD, “Selamat Jalan Pater, untuk menemui Allah Bapak Ibu kita di Surga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penulis &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memecah Kebisuan: Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Keadilan, Respon Katolik&lt;/span&gt; lengkapnya adalah: Dr. Paulus Budi Kleden, SVD.; Iswanti, M.Hum.; Sr. Dr. Inosensia Loghe Pati, SSpS.; Dr. Ignatius L. Madya Utama, S.J.; Dr. John Prior, SVD.; Dr. Yoseph Suban Hayon, SVD. Tulisan ini menyoroti beberapa hal mengenai hubungan antara kekerasan terhadap perempuan dan agama. Pertama, melihat locus (tempat) terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Kedua, memaparkan bagaimana kekerasan terhadap perempuan dipahami oleh Gereja Katolik. Ketiga, bagaimana memaknai kembali keadilan bagi perempuan korban kekerasan akan kami ulas. Keempat, beberapa langkah konkret untuk mewujudkan keadilan bagi perempuan korban kekekaran. Kelima, daftar beberapa lembaga yang selama ini telah menangani para perempuan korban kekerasan, akan kami sajikan.(hal. 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita memasuki pokok bahasan, ada dua buah catatan yang perlu kami sampaikan. Pertama, agama (Katolik) yang dimaksud bisa berarti (1) agama sebagai sumber iman, dan (2) agama sebagai institusi atau lembaga keagamaan. Kedua, tulisan ini banyak menggunakan sumber dengan mengangkat kasus-kasus dari daerah NTT (Flores, Timor dan Sumba) pada umumnya. Pengalaman kekerasan yang dialami oleh perempuan di daerah ini menyediakan sumber untuk refleksi dan analisis atas keragaman dan piramida struktur kekerasan dalam berbagai lingkup. Beberapa penulis dari Flores, Timor dan Sumba—yang menjadi penyumbang tulisan ini—mengangkat pengalaman para perempuan korban kekerasan yang ada di sekitar mereka, setelah mereka bertemu baik dengan para korban maupun pendamping mereka. (hal. 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang membedakan pengertian kekerasan terhadap perempuan dalam Gereja Katolik dengan kekerasan terhadap perempuan pada umumnya adalah karena kekatolikan turut menjadi “faktor” dalam persoalan ini. Yang dimaksud dengan kekatolikan di sini bisa berarti iman, ajaran, moral dan etika, institusi atau tradisi. (hal 30)&lt;br /&gt;Kekerasan terhadap perempuan yang diangkat dalam buku tim katolik ini, adalah:&lt;br /&gt; Kekerasan dalam Rumah Tangga, Komunitas Adat/Budaya dan Gereja&lt;br /&gt; Kekerasan terhadap perempuan dalam perkawinan berbeda agama&lt;br /&gt; Kekerasan  Seksual dalam Relasi Pastoral&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Bab II buku ini, yang membahas Pandangan Gereja Katolik Terkait Kekerasan Terhadap Perempuan, dibahas beberapa pemikiran teologis yang terkait dengan persoalan kekerasan terhadap perempuan, khususnya dalam lingkup komunitas Katolik, antara lain: pemahaman tentang martabat manusia dan Hak Asasi Mamnusia (HAM), pemahaman teologis tentang ketubuhan, kesucian, penderitaan dan kebangkitan. (hal.47)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pada Bab III, yang berjudul Memaknai Keadilan Bagi Perempuan Korban Kekerasa, dibahas mengenai proses pemulihan dan pemenuhan keadilan bagi perempuan korban kekerasan melibatkan beberapa aspek sekaligus: fisik, emosi, perasaan, sosio-budaya dan rohani.  Beberapa dasar yang dapat digunakan untuk proses pemulihan ini adalah (A) Penggunaan Kitab Suci dan Tafsir Pembebasan, (B) Membangun Teologi Kontekstual yang berperspektif Perempuan korban, (C) Keadilan Yuridis melalui Peradilan Gerejawi, (D) Dialog Agama dan Budaya, dan (E) Pembaruan Pelayanan Pastoral berperspektif korban. (hal.69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang memiliki Kata Sambutan dari Ketua Presidium KWI, Mgr. Martinus D. Situmorang OFM.Cap. ini diharapkan bisa menjadi salah satu bantuan dalam usaha mewujudkan keadilan bagi para perempuan korban kekerasan, baik dalam lingkup Gereja maupun masyarakat. (hal. 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang berminat mendapatkan buku ini bisa menghubungi Komnas Perempuan, atau kontak ke Iswanti, di antiswa2000@yahoo.com, untuk mendapatkan soft-file. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-3997683762315785052?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/3997683762315785052/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=3997683762315785052&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/3997683762315785052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/3997683762315785052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2009/05/in-memoriam-pastor-yoseph-suban-hayon.html' title='In Memoriam Pastor Yoseph Suban Hayon SVD: Teolog Katolik Mendengar dan Merespon Suara Perempuan Korban Kekerasan'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-7088886806162178751</id><published>2009-05-08T12:41:00.005+07:00</published><updated>2009-05-08T13:57:09.860+07:00</updated><title type='text'>Memecah Kebisuan: Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Keadilan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SgPPiNY9USI/AAAAAAAAAUE/uSF2MuW9mSE/s1600-h/komnas1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 233px; height: 174px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SgPPiNY9USI/AAAAAAAAAUE/uSF2MuW9mSE/s320/komnas1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5333334570353643810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada tanggal 22 April kemarin, Komnas Perempuan meluncurkan buku mengenai tanggapan berbagai agama terhadap persoalan kekerasan terhadap perempuan. Buku yang berjudul “Memecah Kebisuan: Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Kekerasan Demi Keadilan” merupakan hasil refleksi dari beberapa teolog komunitas agama (Prostestan, Katolik, Islam/NU dan Muhammadiyah) bersama dengan Komnas Perempuan. Acara ini juga bertepatan dengan ulang tahun Komnas Perempuan yang ke-10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara dan buku ini direspon secara positif dari beberapa pimpinan institusi agama, seperti Prof. Dr. Din Syamsudin (Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah), Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe (Ketua Umum PGI), Rm. Dr. Yosef Dedy Pradipto, Pr. L.Th., M.Hum. (Konferensi Waligereja Indonesia), Ibu Shinta Nuriyah M.Hum, dengan moderator KH. Husein Muhammad (Komnas Perempuan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SgPP3GuoCuI/AAAAAAAAAUM/2zOfbAsD_Rs/s1600-h/komnas4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 210px; height: 152px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SgPP3GuoCuI/AAAAAAAAAUM/2zOfbAsD_Rs/s320/komnas4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5333334929342728930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SgPQgNYJJOI/AAAAAAAAAUU/DbZdYQVine8/s1600-h/komnas3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 183px; height: 153px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SgPQgNYJJOI/AAAAAAAAAUU/DbZdYQVine8/s320/komnas3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5333335635502114018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;engapa Komnas Perempuan memandang penting peran agama dalam persoalan ini? Menurut catatan Komnas, salah satu pembelajaran penting yang diperoleh dari rangkaian perjumpaan Komnas Perempuan dengan para korban adalah besarnya peran lembaga dan komunitas agama dalam menentukan peluang bagi perempuan korban untuk memperoleh bantuan dan memulihkan &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;kembali harga diri dan rasa keadilan. Dalam berbagai konte&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ks, bahkan pintu pertama korban untuk mendapat bantuan tidak terletak di jajaran aparat hukum atau petugas medis, tetapi justru mengetuk para pemuka agama di komunitas yang menyandang kepercayaan korban dan keluarganya. (hal.5)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Mengapa pilihannya adalah membangun sebuah pendekatan teologis yang berpihak pada perempuan korban kekerasan?  Komnas Perempuan bersama tim pengarah (Dr. Ignatius L. Madya Utama, Iswanti, M.Hum, Pdt.Lies Tamuntuan Makisanti, M.Sc, dan Susilahati M.Si.) sampai pada kesepakatan bahwa agama (institusi dan komunitasnya) bisa membantu perempuan korban kekerasan jika memiliki bangunan teologi yang berpihak pada perempuan korban, dikembangkan dari dari perjumpaan dan refleksi terhadap pengalaman perempuan korban kekerasan termasuk perjuangan dan harapannya. (hal.7)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sementara itu, dalam memberikan tanggapannya, seperti Prof. Din Syamsudin secara jelas bahwa dia mendukung upaya yang dilakukan Komnas Perempuan bersama para teolog yang menyusun buku-buku tersebut. N&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;amun juga, memberikan contoh bagaimana tradisi dan kebijakan Muhammadiyah memiliki komitmen untuk anti kekerasan terhadap perempuan, misalnya dalam persoalan poligami. “Tentang poligami, jangankan berpikir, bahkan bermimpi pun tidak. Tidak ada poligami di jajaran pimpinan Muhammadiyah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Tulisan ini terbit dalam beberapa buku, yang bisa dibaca sebagai respon masing-masing agama maupun sebagai satu kesatuan. Sebagai satu kesatuan, buku yang merupakan respon keempat komunitas agama iini menunjukkan sebuah rajutan yang satu dalam esensi nilai-nilai universalnya, yakni tentang kemanusiaan, keseteraan dan keadilan. (hal. 8)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-7088886806162178751?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/7088886806162178751/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=7088886806162178751&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/7088886806162178751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/7088886806162178751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2009/05/memecah-kebisuan-agama-mendengar-suara.html' title='Memecah Kebisuan: Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Keadilan'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SgPPiNY9USI/AAAAAAAAAUE/uSF2MuW9mSE/s72-c/komnas1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-6183283130532805663</id><published>2009-04-15T22:31:00.004+07:00</published><updated>2009-04-15T22:47:45.364+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik feminis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita perempuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><title type='text'>Kemanakah Perempuan (Maria Magdalena) yang sangat Dikasihi Yesus itu?</title><content type='html'>Dalam masa pra-paskah ini, saya berkeras ingin menyelesaikan membaca buku “Mary Magdalen, the Essential History” oleh Susan Haskins. Dengan agak tertatih-tatih saya membaca buku setebal 518 halaman itu. Untuk itu pun, saya harus bolak-balik membuka Kitab Suci (KS), baik dalam bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia, yang standart (NRSV terbaru) maupun KS untuk keperluan studi tafsir, untuk membandingkannya. Tidak lupa, ada stick note, page marker dan stabilo warna warni. Tentu saja, dengan proses membaca yang tidak gampang itu, saya tidak yakin bisa menyelesaikannya dalam masa para-paskah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kisah Paskah adalah kisah di mana kisah Maria Magdalena bermula. Sebab, di sinilah, pada saat klimaks kehidupan Yesus di bumi, Maria Magdalena mulai tampil.” (hal. 4)&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat banyak nama Maria dalam Injil. Tetapi, yang manakah dan siapakah Maria Magdalena? Beberapa orang bila ditanya tentang sosok perempuan misterius ini, secara spontan akan menjawab: perempuan berdosa dengan banyak roh jahat, perempuan yang meminyaki kaki Yesus dan mengusap dengan rambutnya, perempuan yang berzinah (bahkan ada juga yang bilang perempuan nakal/pelacur) yang bertobat, perempuan yang mengikuti Yesus, perempuan yang sama dengan Maria saudari Marta dsb. Aku coba cek di Google (hahaha). Aku mencari gambar-gambar tentang Maria Magdalena melalui Google. Oh Tuhanku, aku kaget sendiri. Dari puluhan gambar (khususnya lukisan), mungkin hampir 80% aku menemukan Maria Magdalena dengan gambaran yang sama: berambut panjang (dan merah), seksi (dan telanjang dada atau malah telanjang polos), dalam posisi sedang menggoda (???) atau bertobat atau lagi bersama Yesus. Lalu aku teringat dengan lukisan-lukisan di buku-buku sejarah Gereja (dan sejarah Eropa). Aku sampai kehilangan komentar. Lho?   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, gambaran-gambaran semacam itulah yang ternyata menempel di kepala kita. Pertanyaan sederhana muncul, dari mana dan bagaimana gambaran-gambaran semacam itu? Ternyata kita tidak terlalu kenal dekat siapa perempuan misterius yang dipanggil Maria Magdalena ini. Kita hanya mendengar namanya, mengenalnya dari gambaran tentangnya melalui lukisan-lukisan atau drama, atau bahkah mencampuradukkan antara diskusi dan bergosip tentangnya. Yang pasti, perempuan yang banyak digambarkan berambut panjang ini, tampil dalam keempat Injil dalam Perjanjian Baru – Markus, Matius, Lukas dan Yohanes, bahkan dalam Kisah Para Rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah kutipan, yang menurutku menggambarkan relasi antara Magdalena dan Yesus dalam Injil Yohanes. Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru [Yoh. 20:16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan sesaat itu, saat Yesus menampakkan diri pada Maria Magdalena itu sangat kuat, menurut saya. Sangat kuat, bukan hanya karena event-nya (penampakan pertama Yesus), tetapi juga sebuah percakapan dengan intimasi mendalam (sebuah kedekatan). Penampakan dan percakapan sesaat itu pastilah memiliki otoritas makna yang sangat dalam dan kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan posisi istimewa semacam itu, Maria Magdalena pastilah memiliki tempat dan otoritas di dalam komunitas para pengikut Yesus, khususnya sesudah wafat, penampakan dan kebangkitan Yesus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, pertanyaanku selanjutnya, kemanakah Perempuan (Maria Magdalena) yang sangat dikasihi Yesus itu selanjutnya? Setidaknya, aku tidak pernah membaca kisah selanjutnya dari perempuan yang mengasihi dan dikasihi Yesus itu. Kemanakah dia, Maria Magdalena?  Kisahnya cuma sampai di situ. Tetapi, aku yakin Maria Magdalena yang historis tidak berhenti di situ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum selesai membaca buku Susan Haskins ini. Jadi aku belum tahu, apakah buku ini akan menjawab pertanyaanku itu. Tidak tahu, yang jelas keherananku tidak habis-habis. Aku beruntung beberapa waktu lalu menghadiri sebuah workshop di Kuala Lumpur (AWRC), di mana Prof. Hisako Kinukawa dari Jepang mengajak peserta untuk mengenal Maria Magdalena dalam studi KS. kapan-kapan aku cerita tentang workshop itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan Paskah-ku kali ini, April 2009.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-6183283130532805663?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/6183283130532805663/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=6183283130532805663&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/6183283130532805663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/6183283130532805663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2009/04/kemanakah-perempuan-maria-magdalena.html' title='Kemanakah Perempuan (Maria Magdalena) yang sangat Dikasihi Yesus itu?'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-5343359189755081935</id><published>2009-01-14T05:20:00.003+07:00</published><updated>2009-01-14T05:24:18.470+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita perempuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tubuh perempuan'/><title type='text'>Apa yang diajarkan Gereja Katolik Mengenai Kekerasan Domestik (KDRT)?</title><content type='html'>Apa yang diajarkan Gereja Katolik Mengenai Kekerasan Domestik (KDRT)?&lt;br /&gt;Sore tadi aku ditelepon seorang bapak. Beberapa kali kami bicara di telepon, tetapi belum pernah bertemu. Dia membicarakan adik iparnya yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sudah beberapa waktu kami kadang berteleponan mengabarkan keadaan si adik ipar, yang sudah sekian lama disekap oleh suaminya sendiri. Sudah bertahun-tahun si adik ipar ini tidak berkontak dengan dunia luar, tidak ada pembantu/pekerja rumah tangga (PRT), padahal si ibu ini sedang sakit. Dulu PRT itu yang menghubungkan si ibu dengan dunia luar. Satu-satunya anak mereka sedang bersekolah di Australia. Kini sakit si ibu itu makin parah, tubuhnya nyaris lumpuh total karena tidak mendapatkan perawatan RS yang layak, dan dibiarkan oleh si suami. Keluarga besar si ibu sudah meminta ibu itu untuk pindah ke keluarga mereka, tetapi si ibu tetap bertahan di rumah itu, takut suaminya akan menghentikan biaya anaknya yang masih sekolah di Australia. Keluarga besar si ibu itu juga bimbang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tahun 2008 kemarin, terdapat beberapa kasus KDRT yang pernah lewat di aku. Mereka meneleponku entah dari mana dapat nomor teleponku, walaupun sebenarnya aku tidaklah biasa menangani kasus-kasus KDRT. Aku biasanya akan merujuk ke teman-teman lainnya yang selama ini sudah menangani kasus KDRT, tetapi biasanya aku masih mengikuti kasus-kasusnya. Memang kebanyakan yang meneleponku karena kasus KDRT adalah dari kalangan keluarga katolik. Dan biasanya kalau sudah beberapa kali kontak, perbincangan kita kadang mengarah menanyakan kemungkinan cerai atau pisah atau bagaimana sebenarnya kita sebagai orang katolik menyikapinya.  &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan sebuah Surat Pastoral yang dikeluarkan oleh Uskup-uskup Amerika Serikat untuk menanggapi persoalan kekerasan domestik – kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Surat itu, When I Call for Help: A Pastoral Response to Domestic Violence Against Women, dikeluarkan pada tahun 1992, dan diperbarui kembali pada tahun 2002. Surat Pastoral ini, kalau ditilik tahun keluarannya sudah agak lama, namun masih relevan hingga sekarang. Bahkan sangat menolong bukan hanya perempuan katolik korban KDRT di AS saja, tetapi juga perempuan katolik di tempat lainnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Surat Pastoral tersebut, para Uskup AS secara jelas menyatakan bahwa “kekerasan terhadap perempuan, di dalam atau di luar rumah, tidak pernah dibenarkan. Kekerasan dalam bentuk apa pun, baik fisik, seksual, psikologis atau verbal; adalah sebuah kejahatan.”&lt;br /&gt;Dalam Surat Pastoral dikatakan, menyangkut KDRT dan pernikahan yang permanent dalam GK, disadari bahwa banyak perempuan yang mengalami kekerasan percaya bahwa ajaran Gereja Katolik dalam pernikahan katolik yang permanent menghendaki mereka tetap tinggal dalam relasi yang abusif; para perempuan mungkin ragu untuk mengupayakan perpisahan atau perceraian; para perempuan ini mungkin takut bahwa mereka tidak dapat menikah kelmbali di dalam Gereja Katolik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Pastoral ini menegaskan bahwa “tidak ada seorang pun diharapkan tinggal dalam sebuah perkawinan yang abusive.” Kekerasan dan perlakuan kasar lainnya, dan bukan perceraian, yang memisahkan perkawinan. Si pelaku kekerasanlah yang telah memutuskan perjanjian perkawinan melalui perilaku abusive mereka. Mereka yang mengalami kekerasan, yang telah bercerai mungkin bisa melakukan pemeriksaan untuk mencari kemungkinan sebuah proses anulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Uskup AS dalam Surat Pastoral itu juga mengutuk penggunaan KS yang digunakan untuk membenarkan perilaku kekerasan – KDRT – dalam bentuk apa pun. Laki-laki dan perempuan diciptakan dalam citra Allah, mereka harus memperlakukan satu sama lain dengan hormat dan bermartabat. Misalnya, bisa saja laki-laki yang melakukan KDRT untuk membenarkan perilaku kekerasannya menggunakan Efesus 5:22 (“Istri harusnya tunduk pada suami mereka sebagaimana tunduk pada Tuhan”). Contoh lainnya adalah bisa saja laki-laki yang melakukan KDRT tersebut menggunakan Mateus 6:9-15 untuk meminta pengampunan dari korban (istrinya). Korban (istri) kemudian akan merasa bersalah jika tidak memaafkannya. Memaafkan, meskipun demikian, tidak berarti melupakan KDRT yang sudah terjadi atau berpura-pura itu tidak terjadi.  Memaafkan bukanlah sebuah permakluman untuk mengulang kembali KDRT tersebut. Lebih dari itu, memaafkan berarti bahwa korban mampu memutuskan untuk melepas pengalaman buruk itu, melanjutkan hidupnya dan tidak lagi mentoleransi kekerasan dalam bentuk apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: When I Call for Help: A Pastoral Response to Domestic Violence Against Women, a statement of the U.S. Catholic Bishops, 1992, 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-5343359189755081935?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/5343359189755081935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=5343359189755081935&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/5343359189755081935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/5343359189755081935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2009/01/apa-yang-diajarkan-gereja-katolik.html' title='Apa yang diajarkan Gereja Katolik Mengenai Kekerasan Domestik (KDRT)?'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-851403995420129285</id><published>2009-01-08T19:04:00.004+07:00</published><updated>2009-01-08T19:38:33.073+07:00</updated><title type='text'>Pesan Natal Paus Benediktus: “Menyelamatkan Homoseksual dan Transgender adalah Sama dengan Menyelamatkan Hutan Tropis”</title><content type='html'>Keningku langsung berkerut membaca sekilas potongan berita di salah satu stasiun televisi itu. Pesan Natal Paus Benediktus XVI: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menyelamatkan homoseksual dan transgender adalah sama dengan menyelamatkan hutan tropis&lt;/span&gt;”. Woooow… sangat provokatif, keras… dan agak kasar (menurutku). Tanganku ingin segera membuka komputer dan mencari di internet tentang pesan natal itu, yang seutuhnya. Tapi saya terdiam. Bukankah sepotong berita itu juga yang “dibaca” oleh jutaan atau puluhan juta pasang mata yang membacanya di televisi? Tidak banyak yang akan repot-repot mengecek ke internet! Lalu, yang provokatif itu karena kalimat itu menjadi tampilan media atau memang Paus Benediktus XIII yang provokatif? Aku berusaha menghilangkan kalimat itu dari kepalaku, tetapi kok tidak mau hilang.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Menyelamatkan homoseksual dan transgender adalah sama dengan menyelamatkan hutan tropis.” &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Sebegitunya&lt;/span&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SWXyhnPKX1I/AAAAAAAAATQ/dpt-mCIa_Sk/s1600-h/trans_blog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 290px; height: 231px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SWXyhnPKX1I/AAAAAAAAATQ/dpt-mCIa_Sk/s320/trans_blog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288899996698697554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sebuah pesan Natal? Aku pernah membaca Dokumen-dokumen Takhta Suci (Kongregasi Ajaran Iman) tentang Homosexualitas. Susah dan berat untuk memahaminya. Mungkin karena memang persoalannya tidak sederhana (???) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Baru beberapa hari lalu saya bertemu dengan banyak tokoh dari agama asli (komunitas masyarakat adat) dari berbagai daerah nusantara, seperti Merapu (Sumba/NTT), Masyarakat Adat Boti (NTT), Keharingan (Kayak Siang, Ngaju, Kajang, Maratus:Kalimantan), Sedulur Sikep (Jateng), Tengger (Jatim), Sapto Dharmo, Bissu (Makassar/Sulsel), Dayak Losarang (Indramayu) dan beberapa daerah lainnya. Agama-agama asli ini –dalam kesahajaan dan kebijaksanaan cara berpikir, cara menilai dsb– memberikan tempat (pengakuan) yang terhormat bagi perempuan, juga mereka yang transgender. Di dalam komunitas dan agama Dayak Keharingan perempuan bisa mencapai/menjadi pendeta (pemimpin) tertinggi; di dalam komunitas agama Bissu, para puang (pemimpin keagamaan) adalah mereka yang transgender (memiliki dua dunia/karakter). Semua posisi itu tergeser dan terpinggirkan ketika agama-agama pendatang yang monoteis (Islam, Kristen/Katolik) dan (sayangnya) sangat patriarkis mulai masuk Nusantara… lebih menyedihkan lagi, bahkan agama-agama monoteis ini  meng-kafir-kan agama-agama setempat ini. Cerita yang sama, ketika monosteisme Kekristenan yang mengalami patriarkalisasi, dan mulai menggeser kedudukan dewa-dewi Yunani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beberapa waktu lalu saya di Thailand, ada yang menarik untuk diamati. Fenomena transgender bukanlah fenomena asing bagi masyarakat setempat. Keberadaan mereka tampak sangat lumrah diterima oleh masyarakat. Bahkan aku kagum dengan kondisi fisik banyak orang di Thailand, banyak perempuan maupun laki-laki memiliki fisik (dan wajah) yang hampir mirip dalam arti seperti perpaduan perempuan dan laki-laki. Jika hanya melihat wajah mereka, mungkin kita sulit membedakan apakah mereka laki atau perempuan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat kembali pesan Natal itu: “Menyelamatkan homoseksual dan transgender adalah sama dengan menyelamatkan hutan tropis”, keraguan besar menyergapku. Sebegitukah? Di mana jiwa besar itu? Aku buka kembali dokumen tentang Homosekualitas itu, pada bagian Dokumen mengenai “&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertimbangan-pertimbangan sehubungan dengan Usul untuk Memberikan Pengakuan Legal lepada Hidup Bersama Orang-orang Homosekual&lt;/span&gt;”, pada kesimpulannya dinyatakan: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gereja mengajarkan bahwa hormat bagi orang-orang homosexual dengan cara apa pun tidak dapat mengarah ke persetujuan perilaku homosekual atau pengakuan hidup bersama orang-orang homosekual&lt;/span&gt;.” (par. 11) Sikap Gereja sangat tegas terhadap homoseksualitas ini, karena: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tindakan-tindakan itu bertentangan dengan hukum kodrati, menyisihkan anugerah hidup dari tindakan seksual. Tindakan-tindakan itu tidak keluar dari komplementaris afektif dan seksual sejati. Tindakan-tindakan itu sama sekali tak dapat dibenarkan.&lt;/span&gt;” (Catechismus Catholicae Ecclesiae, par. 2357 dalam dok. &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pertimbangan-pertimbangan sehubungan dengan Usul untuk Memberikan Pengakuan Legal lepada Hidup Bersama Orang-orang Homosekual&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang aku ragu…… Keraguan(ku) – adalah sebuah sikap yang dikhawatirkan Paus dalam suratnya itu; karena seseorang (dan aku) akan mengatakan itu sangat diskriminatif. Tetapi di dalam alam filsafat yang mendidikku, “keraguan” juga memiliki tujuan dan manfaatnya sendiri. Keraguan bisa menuntun pada kebenaran. Dan setidaknya “keraguan metodis Descartes” itu sedang bekerja untukku sekarang, bahwa aku tidak mungkin meragukan kenyataan bahwa aku ada memikirkan keraguanku tentang persoalan homoseksual ini. Ya, rasanya sangat manusiawi, bahwa kita masih bisa “menyisihkan” ruang bagi keraguan (sekalipun bagi seorang Paus?). Apalagi sebuah keniscayaan, kita semua bisa melakukan kesalahan, termasuk Paus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Renungan Natal-ku, 2008)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-851403995420129285?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/851403995420129285/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=851403995420129285&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/851403995420129285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/851403995420129285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2009/01/pesan-natal-paus-benediktus.html' title='Pesan Natal Paus Benediktus: “Menyelamatkan Homoseksual dan Transgender adalah Sama dengan Menyelamatkan Hutan Tropis”'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SWXyhnPKX1I/AAAAAAAAATQ/dpt-mCIa_Sk/s72-c/trans_blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-1814697784485132727</id><published>2009-01-08T17:57:00.004+07:00</published><updated>2009-01-08T18:33:28.985+07:00</updated><title type='text'>Tuhan dan Pornografi?</title><content type='html'>Di rumahnya, temanku Tri selalu copot BH. Suatu ketika ada tamu, dia minta suaminya pergi ke depan melihat siapa yang datang. Suaminya yang rupanya sedang asyik dengan hobinya menawar.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;blockquote&gt;       “Kamu saja yang melihat siapa yang datang, kenapa sih?” &lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;Tri menjawab, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku nggak pakai BH.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;       Setelah tamunya pulang, suaminya bilang ke Tri, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kamu ini kalau di rumah mbok ya pakai BH (bra), aku lihat kalau di rumah kamu selalu copot BH-mu. Siapa tahu ada tamu tiba-tiba datang,”&lt;/span&gt; kata suami temanku ini.  &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Tri terdiam sebentar, lalu ke kamar mengambil sebuah BH. Dia berikan pada suaminya, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Coba kamu pakai BH in&lt;/span&gt;i!”  Ketika suaminya masih terbengong dengan perkataannya, Tri memasangkan BH itu pada suaminya. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Awas jangan dicopot sebelum 1 jam?”&lt;/span&gt;  Tri mengawasi suaminya itu. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagaimana rasanya?&lt;/span&gt;” Tanya Tri pada suaminya setelah suaminya beberapa saat memakai BH itu.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;     “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nggak enak-lah&lt;/span&gt;.” Kata suami Tri.     &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Itu juga yang kurasakan, nggak enak. Kamu pikir enak pakai BH terus-menerus. Apalagi kalau pakai BH yang murahan, nggak nyaman, panas, gatal dsb. Pakai BH yang nyaman dan enak, mahal harganya. Nanti kamu marah-marah, gajimu langsung habis untuk beli 1-2 BH yang nyaman begitu. Kalau di rumah sendiri nggak boleh copot BH, di mana lagi aku bisa copot BH!&lt;/span&gt;” Tri menjelaskan pada suaminya. Suaminya tidak berkomentar, cuma tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Cerita Tri membuat kami yang mendengar terpingkal-pingkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya sejak kapan sih payudara ini menjadi berbeda dengan anggota tubuh lainnya? Apa bedanya dengan tangan, kaki, mata dsb, bukankah hanya soal fungsi? Sejak ada orang membuat bra? Sejak ada pabrik pembuat bra? Siapa yang berhak mengatakan bahwa bagian tubuh ini porno dan yang lain tidak? Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat para perempuan di Papua, mereka tidak pakai bra, bahkan ada namanya tarian susu. Para perempuan Bali beberapa dekade lalu juga masih tidak pakai bra, dan sekarang mungkin masih ada wisatawan yang tidak pakai bra berjemur di pantai. Orang di Papua atau di Bali zaman dulu melihat payudara sangat alamiah, sealamiah melihat kaki atau mata atau bibir…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bilang “peradaban” yang membedakan ini memalukan dan tidak memalukan, indah dan tidak indah, sehingga mesti ditutup atau tidak… Orang bilang “agama” dan “moral” yang membedakan ini pantas atau tidak pantas untuk ditutupi, atau suci dan tidak suci untuk dinilai… Peradaban yang mana? Agama dan moral yang mana? Apakah karena tidak pakai BH, para perempuan Papua atau perempuan Bali (zaman dulu) tidak beradab dan bermoral? Ada agama yang secara visual mengekspresikan alat-alat genital sebagai simbol kehidupan, seperti lingga yoni. Aku pikir hanya agama yang patriarkis saja yang merasa diri (paranoid dan misoginis pula) harus mengontrol tubuh dan seksualitas, khususnya perempuan: yang membentuk nilai kesucian versus kecemaran tubuh perempuan; keperawanan dan kesalehan versus kejalangan tubuh dan seksualitas perempuan…  wah urusan bra jadi panjang nih. Iya sih, urusan begini bisa panjaaaaaaaaaaaannnng. Lihat saja contohnya kita mesti berdebat bertahun-tahun untuk mendefiniskan dan menentukan apa yang porno dan tidak porno, bahkan harus diundang-undangkan. Walhasil keluarlah UU Porno(grafi)!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku tidak pakai bra, itu juga bukan berarti aku tidak bermoral atau ingin menunjukkan pornografi. Jika aku tidak lagi bebas dengan tubuhku, maka tubuhku bisa jadi beban dan penjara buatku. Padahal, aku hanya ingin memenjalani ketubuhanku tanpa beban. Jika memakai atau tidak memakai bra menjadi persoalan besar, bukan persoalan privatku; aku harus protes pada Tuhan Sang Pencipta tubuh ini. Karena Dia yang menciptakan tubuhku (dan seksualitasku) yang dianggap porno, tidak suci, sumber dosa itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tulisan ini pun salah satu curhat setelah capek beradu porno, eh salah ya,  berdebat lama tentang UU Pornografi sepanjang beberapa tahun kemarin. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-1814697784485132727?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/1814697784485132727/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=1814697784485132727&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/1814697784485132727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/1814697784485132727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2009/01/tuhan-dan-pornografi.html' title='Tuhan dan Pornografi?'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-5600403626826323252</id><published>2009-01-08T16:57:00.006+07:00</published><updated>2009-01-08T17:41:26.117+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita perempuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafsir Sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gerakan perempuan'/><title type='text'>Buku JALAN EMANSIPASI: "Menampakkan yang Tersembunyi"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SWXUnsmdvpI/AAAAAAAAATA/ZqhZJpBPDyE/s1600-h/Jalan+emansipasi1_blog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 376px; height: 251px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SWXUnsmdvpI/AAAAAAAAATA/ZqhZJpBPDyE/s320/Jalan+emansipasi1_blog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288867115868995218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada tanggal 26 November 2008 lalu buku(ku) Jalan Emansipasi, Perempuan Katolik Pionir dari Mendut (1908-1943) dibedah dan didiskusikan di Multiculture Campus Realino, Yogyakarta. Acara ini dimoderatori oleh A.P. Nunuk Murniati M.A., dengan para pembahas: Dr. P.M. Laksono (antropolog dan staf pengajar UGM), Drs. Anton Haryono M.Hum. (staf pengajar jur. Ilmu Sejarah USD), dan Lusi Margiyani (aktivis perempuan). Berikut saya ingin membagi beberapa gagasan hasil bedah buku itu, yang disarikan dari tulisan para pembahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diskusi itu, ketiga pembahas memiliki tinjauan buku yang dari perspektif berbeda. Dr. P.M. Laksono –yang adalah salah seorang putra eks-siswi Mendut– mengawali pembahasannya dengan sebuah pengakuan: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya harus mengakui bahwa hanya sedikit saja buku yang memikat saya dari halaman awal hingga akhir, dan salah satunya adalah buku ini. Kenapa? Karena nyaris separuh, mungkin seluruh hidup saya sendiri telah terbentuk oleh tangan dan jiwa ibu-ibu yang kisahnya tertuang dalam buku ini. Oleh karena itu pengalaman saya membaca buku ini adalah sangat subyektif dan kalaupun saya harus mengomentari buku ini, saya tidak rela untuk melepas kesubyekan saya&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SWXVKpfwW7I/AAAAAAAAATI/TONWRRTcY_c/s1600-h/Jalan+Emansipasi2_blog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 261px; height: 174px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SWXVKpfwW7I/AAAAAAAAATI/TONWRRTcY_c/s320/Jalan+Emansipasi2_blog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288867716330970034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Beberapa gagasan yang diungkapkan oleh P.M. Laksono atas buku Jalan Emansipasi adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Bagi saya membaca buku ini seperti membuka rekaman suara hati ibu saya sendiri. Banyak hal yang telah dikatakan ibu saya mengenai mendut, tetapi saya tidak pernah mengkoleksinya kembali sebanyak yang ada dalam buku ini. Banyak cerita ibu saya yang dengar dan saya lupakan begitu saja. namun buku ini sepertinya telah mengabadikan banyak sekali kisah dan nilai-nilai yang diemban para ibu sejak masa kanak-kanak mereka.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Buku yang ada di hadapan kita ini mampu menjelaskan banyak misteri yang kami alami dari para ibu ini. Buku ini memberi kita banyak sekali informasi mengapa para ibu itu kemudian mampu mengembangkan solidaritas yang sangat tinggi bukan hanya dengan sesame eks-Mendut, tetapi dengan banyak orang lain dalam hidup sehari-hari. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pengembangan solidaritas yang dijalankan oleh pendidikan ala mendut ini jauh daripada sekedar penyeragaman. Jaringan vrindinetjes para ibu mendut ini justru digerakkan oleh semangat emansipasi dan egalitarian (88) yang amat rasional. Kalau kita lihat kegiatan ekstra kurikuler yang dijalani ibu-ibu mendut (89) jauh dari urusan perut, merenda, menjahit, menyulam, kruistek dan sepertinya tidak ada kegiatan memasak. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dari seluruh cerita dalam buku ini kita akan menangkap betapa sistem pendidikan Mendut berhasil sekali mengembangkan rasionalitas kritis, baca bukan pemuja selera perut, jauh lebih kritis daripada yang dibayangkan Kartini, misalnya dengan menolak dipoligami. Kata ibu marsuliadiah: “hanya saja, kalau kita sedang membicarakan Kartini, kita bisa menjadi benci kenapa dia mau menjadi second wife…tidak menjadi istri Ndoro Bupati kan juga tidak apa-apa… berbeda dengan siswi Mendut, mereka diberi pengertian bahwa dengan bersekolah kelak bisa mendapat pekerjaan menjadi guru atau pegawai, sehingga punya penghasilan dan tidak perlu berpikir untuk mencari laki-laki kaya”. (117)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Kisah-kisah yang begitu biasa dan menyentuh para ibu, termasuk ibu saya, ada dalam buku ini. Kini semua kisah itu berbalik justru menampilkan betapa jujur ibu-ibu mengarungi pendidikan yang keras dan zaman-zaman yang menindas. Buku ini telah berhasil mengantarkan nilai-nilai yang diemban para ibu Mendut dalam bahasa dan narasi yang begitu jujur dan sederhana mudah dicerna.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sebagai buku sejarah buku ini dapat dikatakan sebagai buku alternative, yaitu membaca sejarah dari peristiwa sehari-hari yang begitu biasa penuh dengan anekdot, tetapi penuh dengan implikasi yang besar.  Betapa tidak, dari ibu-ibu ini dilahirkan gerakan-gerakan dahsyat mengembangkan nasionalisme kita. Dalam politik mereka mendirikan Wanita Katolik dan aktif dalam pergerakan wanita Indonesia. selain itu salah seorang di antara mereka yang tidak disebutkan dalam buku ini, yaitu Ibu Supadmirin adalah pendiri PMKRI. Belum lagi jika dilihat dari pertumbuhan gereja katolik. Mereka itulah tulang punggung komunitas gereja katolik muda Indonesia. dari rahim dan doa mereka itulah lahir para rohaniwan yang ada dalam hirarki gereja dan dari kasih sayang mereka kepada sesama hiduplah komunitas katolik yang percaya diri. Kenapa? Buku ini akan memberi inspirasi bagi pembacanya untuk menjawab pertanyaan itu. dari sini kita akan menemukan gaya pendidikan yang hilang dan ingin dihidupkan lewat pelatihan para aktivis NGO tetapi masih jauh dari panggang apinya. Buku ini juga bisa memberi inspirasi bagi para aktivis NGO untuk menemukan gaya pendidikan yang sungguh-sungguh membebaskan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pembahas lainnya, Drs. Anton Haryono M.Hum., pada awalan pembahasannya atas buku Jalan Emansipasi, melalui lorong ilmu sejarah. Dikatakan: “Daya rekam manusia yang sangat terbatas merupakan salah satu faktor tidak ternarasikannya banyak masa lalu. Namun, faktor lain yang tidak kalah penting adalah cara pandang dan kepentingan entitas kekinian terhadap masa lalu itu sendiri. Narasi sejarah, disadari atau tidak, merupakan hasil seleksi masa kini atas sederet masa lalu berdasarkan nilai-nilai anutan tertentu yang bersifat subyektif. Dalam konteks ini, tidak mengherankan apabila begitu banyak orang (individu, kelompok ataupun kelas) memiliki masa lalu tetapi tidak memiliki sejarah. Peran-peran nyata mereka di masa lalu tidak diperhitungkan, atau setidaknya tereduksi, dalam narasi-narasi kepentingan masa kini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa gagasan hasil pembacaan Drs. Anton HAryono M.Hum., terhadap buku Jalan Emansipasi adalah:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Jalan Emansipasi (Kanisius, 2008) dapat dikatakan merupakan hasil dari sebuah kegundahan atas buku-buku sejarah Gereja (Katolik di Indonesia) yang oleh Iswanti, penyusunnya, juga dianggap cenderung bertutur tentang peran laki-laki. Dari rasa gundah itu, Iswanti berusaha mengangkat kesejarahan perempuan katolik didikan sekolah Mendut 1908-1943, yang diberinya predikat pionir. Ia berusaha “menampakkan yang selama ini (relative) tersembunyi”. (Relatif), karena tidak sepenuhnya tersembunyi. Hanya saja, proporsi dan kedalaman narasinya masih sangat timpang dibandingkan dengan narasi terhadap peran laki-laki.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dalam rangka menyejarahkan masa lalu Mendut, Iswanti melakukan apa yang dalam ilmu sejarah sering disebut studi sejarah lisan. Eksplorasi terhadap informasi-informasi lisan merupakan langkah utama, dan hal ini dikerjakan dengan menyita banyak waktu, tenaga, dan beaya, melalui serangkaian perjalanan, perjumpaan, dan perbincangan terstruktur. Pertanyaan-pertanyaan untuk wawancara dirumuskan secara terbuka. Bahkan, Iswanti memberi kesempatan kepada para pelaku untuk menuturkan hal-hal lain yang sebelumnya tidak terumuskan dalam pertanyaan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Secara metodik, Jalan Emansipasi memberikan bukti penguat bahwa studi sejarah lisan yang dilakukan secara sungguh-sungguh tidak hanya mampu mengatasi kelangkaan dokumen-dokumen tertulis, tetapi juga potensial untuk menemukan fakta-fakta yang tidak lazim termuat dalam arsip-arsip formal. Darinya, narasi bisa disusun dengan lebih leluasa. Ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi para penulis sejarah untuk tidak ragu terhadap studi sejarah lisan, oleh karena banyak hal yang “tersembunyi” relatif mudah untuk mengemuka.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Secara substansial, Jalan Emansipasi tidak hanya berisi: 1)karya sejarah, tetapi juga: 2)catatan perjalanan penulis dalam proses wawancara dengan puluhan narasumber di berbagai kota, yang secara implicit menyatakan suatu metode penelitian sejarah, dan 3)sumber sejarah, berupa tuturan-tuturan pengalaman oleh para pelakunya sendiri, meskipun dalam hal ini tampaknya Iswanti meredaksi ulang seperlunya. Cerita-cerita “masa lalu” oleh para perempuan “Mendut” mampu memberikan gambaran yang lebih luas, tidak sebatas pada keberadaan mereka selama di Mendut. Eksistensi dan peran sosial generasi-generasi sebelum mereka ataupun kiprah-kiprah hidup mereka pasca-Mendut juga dinarasikan secara baik. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Melalui studi sejarah lisan, Jalan Emansipasi, mampu menarasikan banyak hal. Ringkasnya dari “Anak Mendoet Dojan Garam” hingga “Anak Mendoet Djadi Garam”, dari “fungsi ganda stagen” era Mendut hingga “peran-peran sosial baru” di berbagai tempat pasca-Mendut. Seperti pasangannya yang ditempa di Muntilan, mereka juga samasekali tidak terasing dari semboyan agung “Ad Maiorem Dei Gloriam”. Selama ini “rasul-rasul kecil” dan “rasul-rasul awam” nyaris identik dengan “Muntilan” (laki-laki). Ternyata, melalui karya Iswanti, predikat serupa bisa diberikan secara penuh kepada sejumlah perempuan pionir dari Mendut. Aktualisasi ajaran sosial Gereja pun dengan mudah bisa ditemukan pada kiprah mereka. Selain itu, bila pemuda “Muntilan” mampu menegakkan katolisisme dan nasionalisme sekaligus, hal serupa juga dilakukan secara sadar dan bersemangat oleh pemudi “Mendut”. Menurut hemat saya, dalam rangka menyiapkan agen-agen perubahan sosial, mengelola “Mendut” lebih sulit dibandingkan dengan mengelola “Muntilan”. Pada zamannya, “Mendut” harus menghadapi resistensi budaya yang jauh lebih kuat daripada “Muntilan”. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dari tuturan-tuturan para pelakunya, Jalan Emansipasi dapat dikatakan berada dalam proses humanisasi sejarah, kaya warna tetapi tidak mengaburkan esensinya. Selain bahasa tuturan yang mengalir dengan informasi-informasi yang sering mengejutkan, Jalan Emansipasi menjadi lebih menarik untuk dibaca berkat foto-foto ilustrasinya. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Foto sampul yang terdiri dari anak-anak kecil kiranya tepat, tetapi sayang foto ini bersifat statis, diam berdiri tanpa aktivitas. Lebih lanjut, bahasa tutur yang memikat sering terganggu oleh tuturan panjang dalam bahasa Belanda. Akan lebih baik bila hal itu disertai terjemahannya pada teks yang sama. Mungkin karena redaksi ulang, bahasa tutur juga agak mengesankan disampaikan oleh orang yang jauh lebih muda dari usianya, yang rata-rata di atas 80 tahun. Ataukah bahasa seperti ini memberikan pesan tetap terjaganya tradisi “kumpul-kumpul romantis” di antara mereka?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-5600403626826323252?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/5600403626826323252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=5600403626826323252&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/5600403626826323252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/5600403626826323252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2009/01/buku-jalan-emansipasi-menampakkan-yang_08.html' title='Buku JALAN EMANSIPASI: &quot;Menampakkan yang Tersembunyi&quot;'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SWXUnsmdvpI/AAAAAAAAATA/ZqhZJpBPDyE/s72-c/Jalan+emansipasi1_blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-7510700060511951516</id><published>2008-11-20T14:51:00.008+07:00</published><updated>2009-01-14T06:32:32.515+07:00</updated><title type='text'>Undangan Diskusi Buku JALAN EMANSIPASI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SSUaIVlb-_I/AAAAAAAAAS4/-A6mXVc5U1M/s1600-h/Undangan-Mendut-MCR-net.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 414px; height: 399px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SSUaIVlb-_I/AAAAAAAAAS4/-A6mXVc5U1M/s400/Undangan-Mendut-MCR-net.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270647669442477042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengundang kehadiran teman-teman pada diskusi buku JALAN EMANSIPASI, PEREMPUAN KATOLIK PIONIR DARI MENDUT 1908-1943, pada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari/tgl: Rabu, 26 November 2008&lt;br /&gt;Pukul : 16.00 - selesai&lt;br /&gt;Tempat: Multicultur Campus Realino, Jl. Gejayan, Yogyakarta&lt;br /&gt;Pembicara:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;    PM Laksana (anthropolog/Dosen UGM)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    Lusi Margiyani (aktivis perempuan)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    Anton Haryono (pengajar pada Prog. Sejarah, Universitas Sanata Dharma)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Moderator: AP Nunuk Murniati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tunggu kehadiran rekan-rekan. Terimakasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam, Iswanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak Ibu Christine (08886872541) dan Ibu Vibri (08882727487) untuk pembelian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-7510700060511951516?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/7510700060511951516/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=7510700060511951516&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/7510700060511951516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/7510700060511951516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2008/11/undangan-diskusi-buku-jalan-emansipasi.html' title='Undangan Diskusi Buku JALAN EMANSIPASI'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SSUaIVlb-_I/AAAAAAAAAS4/-A6mXVc5U1M/s72-c/Undangan-Mendut-MCR-net.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-2074761237233829167</id><published>2008-11-14T15:17:00.015+07:00</published><updated>2008-11-14T16:10:07.409+07:00</updated><title type='text'>Foto-foto Reuni Mendut September 2008</title><content type='html'>Berikut adalah foto-foto yang tersimpan di file saya, dari pesta reuni 100 Tahun Sekolah dan Asrama Mendut, Yogyakarta, 14-16 September 2008 kemarin. Gapura Mendut adalah satu-satunya bangunan yang tersisa dari kompleks sekolah dan asrama Mendut. Di gapura inilah, ratusan siswa lewat di bawahnya antara tahun 1908-1943. Foto lainnya adalah foto belasan para ibu eks-siswi Mendut yang bisa menghadiri acara reuni. Jumlah mereka dari tahun ke tahun semakin berkurang. Ketika saya memulai menyusun buku, saya berhasil menjumpai sekitar 50-an ibu eks-siswi dari Jakarta, Bandung, Semarang, Yogya, Muntilan, Klaten, Solo. Sekarang ini, 3 tahun kemudian, jumlahnya sangat berkurang jauh. Kemudian, pastor dan Uskup F.X. Pradjasuta MSF yang memimpin misa dalam peresmian adalah keluarga besar Mendut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SR0239nQ5SI/AAAAAAAAASg/A4k1-L6LgTk/s1600-h/reuni+mendut+4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 311px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SR0239nQ5SI/AAAAAAAAASg/A4k1-L6LgTk/s320/reuni+mendut+4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268427474153301282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SR01pbbipHI/AAAAAAAAASY/Lfht3qEGtgA/s1600-h/reuni+mendut+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 315px; height: 236px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SR01pbbipHI/AAAAAAAAASY/Lfht3qEGtgA/s320/reuni+mendut+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268426124947530866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SR03FbgIItI/AAAAAAAAASo/I0c3Yzf74Dk/s1600-h/blog+mendut+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 313px; height: 236px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SR03FbgIItI/AAAAAAAAASo/I0c3Yzf74Dk/s320/blog+mendut+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268427705514730194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SR01fB6tIzI/AAAAAAAAASQ/DuDZemzj-Jc/s1600-h/reuni+mendut+3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 322px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SR01fB6tIzI/AAAAAAAAASQ/DuDZemzj-Jc/s320/reuni+mendut+3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268425946300228402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-2074761237233829167?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/2074761237233829167/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=2074761237233829167&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/2074761237233829167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/2074761237233829167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2008/11/foto-foto-reuni-mendut-september-2008.html' title='Foto-foto Reuni Mendut September 2008'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SR0239nQ5SI/AAAAAAAAASg/A4k1-L6LgTk/s72-c/reuni+mendut+4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-892622597865107073</id><published>2008-09-19T18:50:00.003+07:00</published><updated>2008-09-19T18:53:39.671+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah Kolonial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik feminis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita perempuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gerakan perempuan'/><title type='text'>Buku baruku: Jalan Emansipasi, Perempuan Katolik Pionir dari Mendut 1908-1943</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SNOSVo0xrLI/AAAAAAAAALc/2Le_Symw4GY/s1600-h/cover+blog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SNOSVo0xrLI/AAAAAAAAALc/2Le_Symw4GY/s320/cover+blog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247698891250445490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Akhirnya bukuku terbit juga, Jalan Emansipasi, Perempuan Katolik Pionir dari Mendut 1908–1943. Setelah kerja 3 tahun… dan capeeeek banget…akhirnya buku ini selesai juga. Buku ini terbit pas peringatan 100 Tahun Sekolah Mendut. Peringatan ini dihadiri belasan eks-siswi Mendut yang masih ada, dan generasi penerus Mendut atau anak cucu Mendut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul? Apa maksudnya? Kok pakai gagasan “jalan emansipasi”. Karena dalam buku ini terungkap data dan cerita tentang proses-proses dan jalan-jalan emansipasi yang dialami para siswi Mendut (1908-1943). Seperti proses emansipasi dalam pendidikan, emansipasi dalam pekerjaan/ekonomi, emansipasi di dunia religius, emansipasi sosial…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini memiliki latar belakang dan konteks periode kolonial Belanda, periode awal pendidikan perempuan pribumi (Indonesia) atas jasa-jasa Ibu Kartini, periode “awal” misi gereja katolik di Indonesia…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-892622597865107073?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/892622597865107073/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=892622597865107073&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/892622597865107073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/892622597865107073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2008/09/buku-baruku-jalan-emansipasi-perempuan.html' title='Buku baruku: Jalan Emansipasi, Perempuan Katolik Pionir dari Mendut 1908-1943'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SNOSVo0xrLI/AAAAAAAAALc/2Le_Symw4GY/s72-c/cover+blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-3458160957022015976</id><published>2008-09-04T01:07:00.009+07:00</published><updated>2008-09-20T00:17:08.709+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama-agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><title type='text'>Jika Uskup bisa jadi Presiden, apa Perempuan bisa jadi Uskup?</title><content type='html'>Saya ditertawakan seorang teman ketika melontarkan pertanyaan itu, “Jika Uskup bisa jadi Presiden, apa perempuan bisa jadi Uskup?” Hahaha… perbandingan itu tidak sejajar dan tidak lurus, katanya. Saya juga cuma tersenyum. Pertanyaan itu saya lontarkan usai membaca berita Presiden Terpilih Paraguay Fernando Lugo Mendez, yang mantan Uskup (Gereja Katolik) Asuncion. Wah… ceritanya sangat menarik, seorang Uskup yang meletakkan jabatan rohaninya, dan memasuki politik praktis, demi visi atau cita-cita yang sama baiknya saat sebagai Uskup ataupun politikus.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tergelitik ingin tahu apa yang dikatakan Vatikan tentang itu. Dalam surat pernyataan yang dikeluarkan melalui  the Apostolic Nunciature di Paraguay, disebutkan, “The Holy See, after attempting to dissuade Bishop Fernando Lugo from running as a candidate for President of the Republic (cf. CIC can. 285&amp;amp;2), suspended him from the exercise of the priestly ministry.”  Surat pernyataan juga mengafirmasi bahwa, “in fact, his acceptance of the office of President of the Republic of Paraguay is not compatible with the obligations of the episcopal ministry and the clerical state.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat beberapa uskup yang dengan berani, harus mengambil jalan politik praktis, demi membebaskan umatnya dari berbagai penindasan, tak masalah Vatikan bilang apa. Ada Kardinal Sin di Filipina yang aktif berjuang di jalanan zaman people power menumbangkan Marcos; ada Uskup Belo di Timor Leste.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau berandai-andai, jika Uskup bisa jadi presiden, apa perempuan bisa jadi uskup ya? Dalam Gereja Katolik? Masih mimpi kali! Jauuuuuuh banget! Tahbisan untuk jadi pastor saja belum tahu kapan bisa, apalagi jadi uskup ya? Padahal kalau di denominasi lainnya, perempuan bisa ditahbiskan, bahkan juga sudah menjadi uskup. Gereja Presbytarian memiliki beberapa uskup perempuan, menyusul berikutnya adalah uskup perempuan di Gereja Anglikan. Menarik mengikuti berita-berita terakhir tentang tahbisan uskup perempuan di Gereja Anglikan. Siapa sangka jika jalan panjang yang telah dirintis Vatikan – gereja Katolik Roma untuk menyatukan kembali Gereja Anglikan dengan Gereja Katolik Roma (sementara ini?) berhenti diganjal oleh tahbisan uskup perempuan yang ditempuh oleh Gereja Anglikan, di samping isu sensitive lainnya yang tidak bisa ditawar Gereja Katolik Roma, tahbisan bagi kaum gay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kardinal Walter Kasper (Vatikan) – yang memimpin Konsili bagi Penyatuan Umat Kristen – menyatakan kepada sekitar 670 uskup Anglikan yang menghadiri Konferensi Lamberth (2008), bahwa “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the dialogue between Anglicans and Catholics would be irrevocably "changed" as a result of the ordination of women and the recent vote to go ahead with consecrating women bishops.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memikirkan dua berita yang cukup baru dalam perkembangan Gereja Katolik global, saya semakin yakin, bahwa tantangan teologis Gereja Katolik Roma ke depan tidaklah mudah. Isu kepemimpinan perempuan dalam gereja, khususnya dalam Gereja Katolik Roma, menjadi isu yang akan terus mengemuka, dan tidak mudah. Jadi? Kita lihat saja nanti? Jangan dong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat Mgr. Benyamin Bria dalam satu suratnya menulis:&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dunia selalu berubah, dan dalam perubahan itu, kata Antony Giddens, manusia selalu terlibat, entah sebagai objek yang dipermainkan perubahan atau sebagai subjek yang ikut mengarahkan perubahan. And I think you and me aggree on one point, to wit, we don't want to be the object of the change, but to be the subject of the change. Selamat berjuang and be assured of my prayers!&lt;/span&gt;”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;To wit! Sure! And we need a lot of efforts and prayers… &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-3458160957022015976?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/3458160957022015976/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=3458160957022015976&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/3458160957022015976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/3458160957022015976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2008/09/jika-uskup-bisa-jadi-presiden-apa.html' title='Jika Uskup bisa jadi Presiden, apa Perempuan bisa jadi Uskup?'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-3561967202919631991</id><published>2008-08-18T18:27:00.009+07:00</published><updated>2008-09-20T00:22:52.482+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita perempuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama-agama'/><title type='text'>Pariyem lebih Merdeka ketimbang aku!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SKlfuJ336hI/AAAAAAAAAKk/bCRLK9ITrdw/s1600-h/Sendangsono_blog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SKlfuJ336hI/AAAAAAAAAKk/bCRLK9ITrdw/s320/Sendangsono_blog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5235821288323803666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saat membongkar tumpukan buku-buku lama, aku menemukan novel, prosa liris karangan Linus Suryadi, judulnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pengakuan Pariyem, Dunia Batin Seorang Jawa&lt;/span&gt;. Aku dulu pernah membuat tulisan, membandingkan diriku dengan tokoh Pariyem, tokoh perempuan dalam novel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencari beberapa persamaan dan perbedaan di antara diriku dan Pariyem. Persamaannya, aku dan Pariyem adalah perempuan Jawa dan katolik. Artinya, kami memiliki latar belakang sosial-budaya-agama yang sama. Bedanya, Pariyem adalah tokoh ciptaan imajiner, sementara aku adalah tokoh riil. Pariyem, bisa mencari solusi atau melepaskan dirinya dari semua kemelutnya tanpa suatu beban ataupun ‘keterpaksaan’ karena dia boleh hidup sesuai dengan keinginannya dalam  dunia imajinernya, sedangkan aku hidup dalam banyak realitas yang terbatas dan mengikat. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak salah apa yang dikatakan Pariyem. Sebagai orang Jawa, aku memahami ketika Pariyem mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Begitulah, nama membawa tuah: Bibit, bobot dan bebet…itu aku indhit, aku kempit, aku sandang dan aku tayang sampai masuk ke liang kubur…Ah, ya maklum Jawa Baru, mas. Semua serba pakai kelas, bangsawan dan rakyat jelata, darah biru dan darah biasa, dalam kraton dan luar kraton – berbeda derajatnya. Kehormatan serta kedudukannya dan dasar kehidupan yang dijadikan patokan ialah asal-usulnya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah faktanya, masyarakat (berkebudayaan) Jawa memahami dunianya. Dunia yang ditakdirkan dari sono’nya berkelas-kelas, dunia berpangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kowe ki sapa?” &lt;/span&gt;(Kamu itu siapa?)Sebuah pertanyaan (atau pemojokan) yang menunjuk pada bibit, bebet dan bobot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerisauan Pariyem sama dengan kerisauanku, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Siapakah kita manusia sebenarnya?” &lt;/span&gt;Pariyem menjawab kerisauan hatinya dengan mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“O, Allah, Gusti, nyuwun ngapura, mengapakah aku dirisaukan amat. Aku termasuk bagian dari umat yang jumlah banyaknya jutaan. Setinggi-tingginya bangau terbang hinggapnya ke kubangan, sejauh-jauh tupai melompat jatuhnya ke tanah pula.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kerisauan Pariyem atas eksistensinya yang ditentukan bobot-bibit-bebetnya, dijawabnya dengan bercermin pada fakta-fakta yang mengingkari penilaian semacam itu. Bukan hendak memberontak terhadap nasibnya melainkan untuk menenteramkan kerisauan batinnya sendiri. Namun aku melihat dia masih sempat membawa terbang angannya yang transendental, kalau dibahasakan pragmatisnya, ‘bukankah kita ini egaliter baik dalam harkat dan martabat maupun dalam takdir.’ Kerisauan Pariyem yang lain, atau sikap sinis’nya juga dia tujukan terhadap agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dan agama, apakah agama? Pertanyaan itu bergaung dalam sanubari aku. Suka menggelitik dan meronrong jiwa pula. Bikin kusut pikiran, kemelut perasaan sembab mata dan boyak telinga bila dialamatkan ke dalam. Tapi bila dialamatkan ke luar: orang bertentangan tidak ada habisnya. Atas nama Tuhan lewat agama apa pun bisa berubah jadi neraka. Agama dan Tuhan menjadi sandaran buat kasak-kusuk dan pokrol bambu… Agama ageming ati.” &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pariyem, walaupun dalam KTP-nya tertulis sebagai orang katolik, namun sesungguhnya dia merasa lebih sreg dengan sikap dan pilihan batinnya, Paugeraning Urip iku Sang Murbeng Jagad, manunggaling kawula-Gusti. Sampai di sini, aku masih berjalan seiring dengan Pariyem, walau Pariyem telah menetapkan sikapnya atas agamanya yang formal dengan batinnya yang lain, walau Pariyem menganggap kekatolikannya adalah suatu kebetulan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang berbeda kemudian, antara aku dengan Pariyem. Pariyem tidak mau berpanjang kata dan pikiran mengenai agama dalam KTP-nya dengan pengakuan batiniahnya. Pariyem tidak banyak menyinggung agama formalnya ini. Ini berbeda dengan aku. Aku memang dilahirkan sebagai perempuan dalam tradisi Jawa dan tradisi religius katolik yang sama kuatnya mempengaruhi diriku, keduanya  bahkan telah saling jalin-menjalin. Memang tidak terlalu jauh perbedaannya. Dalam agama katolik juga terdapat tradisi hirarkis atau tradisi kelas, bahwa ada kelas yang memiliki kedudukan lebih tinggi ketimbang yang lainnya. Agama katolik memiliki banyak aturan atau dogma, sama seperti masyarakat Jawa yang memiliki banyak pranata. Walau tidak sama isinya, namun sama fungsi atau alasannya. Supaya kita patuh pada aturan-aturan tersebut sehingga hidup kita tertib serta tertata. Atau, demi alasan mempertahankan nilai-nilai kebaikan dan keluhuran. Padahal, ukuran apa yang baik dan apa yang luhur, menurutku sekarang ini makin kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, aku lupa, kalau Pariyem hanya sebuah imajinasi dari seorang laki-laki tentang seorang perempuan mengatasi dunianya. Pariyem menjadi tidak terbatas dan terikat, Pariyem lebih merdeka ketimbang aku. (sebagian kukutip dari tulisanku di “Swarga Nunut Neraka Katut”, dalam buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perempuan dalam Pergulatan Lintas Iman&lt;/span&gt;, Kapal Perempuan, 2000)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-3561967202919631991?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/3561967202919631991/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=3561967202919631991&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/3561967202919631991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/3561967202919631991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2008/08/pariyem-lebih-merdeka-ketimbang-aku.html' title='Pariyem lebih Merdeka ketimbang aku!'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SKlfuJ336hI/AAAAAAAAAKk/bCRLK9ITrdw/s72-c/Sendangsono_blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-5476301647364787641</id><published>2008-05-21T19:08:00.004+07:00</published><updated>2008-09-20T02:08:38.920+07:00</updated><title type='text'>Setelah Sosialisasi Gender Belasan Tahun…</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SDQRvObNjnI/AAAAAAAAAKE/_1XFpLJvgVc/s1600-h/Photo-0180.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 284px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SDQRvObNjnI/AAAAAAAAAKE/_1XFpLJvgVc/s320/Photo-0180.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202802972543520370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SDQSX-bNjoI/AAAAAAAAAKM/1KRw4A0PmEo/s1600-h/Photo-0183.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 287px; height: 216px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SDQSX-bNjoI/AAAAAAAAAKM/1KRw4A0PmEo/s320/Photo-0183.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202803672623189634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Minggu lalu saya berlibur di Yogya. Sempat menikmati suasana kampung di Yogya, yang masih belum tercemar dengan bisnis kos. Maksudnya benar-benar masyarakat kampung, plus sawah di sekitar, di sekitar daerah Kalasan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Suatu pagi aku jalan-jalan di jalanan kampung yang masih tanah itu. Kebetulan hari itu anak-anak sekolah sedang libur, karena sedang ada ujian. Aku melihat anak-anak bermain. Aku melihat tiga anak laki-laki sedang bermain di tengah jalan. Mereka sedang ramai mempermainkan seekor cacing. Riuh sekali suara mereka menyemangati cacing itu untuk bergerak keluar lingkaran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;idak jauh dari ketiga anak laki-laki, dua anak perempuan sedang duduk menyender pagar tembok. Kedua anak perempuan itu sedang membolak-balik buku sekolah. Sesekali mereka tampak berdiskusi. Di dekat mereka ada seorang anak laki-laki, yang masih kecil, kemungkinan besar adik mereka, sedang duduk di sepeda anak-anak. Kedua anak perempuan itu sedang belajar sambil &lt;i style=""&gt;momong&lt;/i&gt; (menjaga) adiknya. Saya teringat waktu masih duduk di SD dan SMP, masih punya adik kecil-kecil, dan harus &lt;i style=""&gt;momong&lt;/i&gt; mereka. Maklum anak tertua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Yang membuat saya geli bercampur penasaran, lha kok setelah belasan tahun kita ramai membicarakan gender, ternyata pola-pola sosialisasi dan peranan gender masih banyak yang sama seperti zaman saya dulu. Lho?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-5476301647364787641?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/5476301647364787641/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=5476301647364787641&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/5476301647364787641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/5476301647364787641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2008/05/setelah-sosialisasi-gender-belasan.html' title='Setelah Sosialisasi Gender Belasan Tahun…'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SDQRvObNjnI/AAAAAAAAAKE/_1XFpLJvgVc/s72-c/Photo-0180.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-7181222604175471252</id><published>2008-05-07T16:44:00.005+07:00</published><updated>2008-07-31T18:50:44.378+07:00</updated><title type='text'>Aku, Kartini dan Hari Kartini</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="ES"&gt;Hari ini hari Kartini, 21 April 2008. Aku bergabung mengingat Kartini di peringatan hari Kartini &lt;/span&gt;di Kedutaan Besar Singapura. Acaranya meriah, kutemui banyak perempuan memakai kain kebaya dan kain daerah lainnya, sebagaimana biasa memperingati hari Kartini. Namun aku kaget, karena bukan hanya perempuan yang menghadiri namun juga banyak laki-laki (bapak-bapak). Senang bahwa mereka turut memperingati hari Kartini. &lt;span style="" lang="ES"&gt;Semoga mereka sadar betul untuk apa peringatan hari Kartini ada. Semoga kehebohan memakai kain kebaya dan menata sanggul sejak pagi tidak malah melupakan makna dan perjuangan Kartini. Walaupun aku tidak yakin dengan harapanku ini. Peringatan yang menurutku, masih seperti yang dulu-dulu, bernuansa &lt;i style=""&gt;glorify&lt;/i&gt; emansipasi – namun tetap dalam kontruksi dunia patriarkat. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Aku melihat di antara sebagian peserta yang memadati ruangan tengah KBRI itu adalah teman-teman para TKI – pembantu/pekerja rumah tangga (PRT). Aku tahu di antara mereka terdapat puluhan (atau bahkan lebih dari 100 PRT?) orang PRT adalah mereka yang sedang tinggal di shelter KBRI Indonesia. Mungkin kehebohan memakai kain kebaya “pinjaman” dan menari di pentas menjadi saat melupakan bahwa hidup mereka sedang dalam kepahitan belitan persoalan. &lt;/span&gt;Mereka semua sedang dalam proses berurusan dengan pihak MOM (Ministry of Manpower) atau polisi atau dengan pengadilan di Singapura, atau hanya tinggal menunggu tiket pulang. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; di antara mereka yang lari dari majikan karena mengalami eksploitasi kerja, kurang makan dan tidur, mengalami kekerasan (fisik/emosi/seksual), dituduh mencuri dsb. Mereka tinggal di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ada yang beberapa bulan, tetapi ada juga yang sudah lebih dari setahun atau dua tahun, karena menunggu proses kasusnya di pengadilan. &lt;/p&gt;  &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;p class="MsoBodyText"&gt;Ketika berangkat ke Singapura, besar mimpi dan harapan mereka, mulai dari harapan membantu keluarga, menghidupi anak dan orangtua, menabung membeli tanah dan membangun rumah, atau menabung untuk modal kerja. Namun &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;malang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kadang tidak bisa ditolak. Mereka harus berakhir mencari perlindungan ke (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;shelter&lt;/span&gt;) KBRI, tanpa uang, serta fisik dan emosi kekelahan. Berbulan di shelter tanpa uang, kadang yang di rumah masih harus menanggung hutang atau hidup dalam kesulitan, membuat situasi sangat melelahkan, stress dan depresi. Belum lagi di penampungan juga bisa timbul masalah-masalah. Bayangkan selama 24 jam X berbulan-bulan terus-menerus bersama dalam satu tempat (ruangan), wajar bila timbul ketegangan-ketegangan. &lt;span style="" lang="ES"&gt;Tidak ada privasi dan kebebasan yang dimiliki sangat terbatas. Apa ya yang akan dikatakan pahlawan kita, Ibu Kartini melihat hal ini? Bagaimana teman-teman dalam &lt;i style=""&gt;shelter&lt;/i&gt; ini memaknai hari Kartini di tengah himpitan kesesakan kehilangan kemerdekaannya? Yang pasti dan aku yakin, teman-teman yang ada di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shelter&lt;/span&gt; ini sedang menunggu penyelesaian kasusnya. Tentang kasusnya?  Lain kali saja aku ceritakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Pulang ke tempat penginapan, badan terasa penat. Hari ini ada 5 tempat komunitas teman-teman PRT – TKI kudatangi. Sudah cukup? Belum ternyata. Ketika aku pulang ada Kartini di tempat penginapanku. Kartini adalah nama PRT dari Indonesia yang bekerja di tempat aku menginap. Sudah tujuh belas hari aku berada di Singapura. Aku ngobrol dulu dengan Kartini. Umurnya sebaya denganku. Asalnya dari Jawa Timur Pacitan, cerai dan memiliki satu anak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Dia rebahan di sofa sembari bercerita. &lt;i style=""&gt;“Sebentar lagi saya pulang, cuti 3 minggu. Kontrak saya yang kedua sudah habis, tetapi akan diperpanjang lagi. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Jadi saya pulang dulu. Besok saya dan Mam akan mengurus work permit. Kemarin saya bilang Mam untuk minta naik gaji dalam kontrak yang baru. Saya minta S$ 500. Tetapi belum dijawab. Ya setidaknya, dia akan kasih S$ 450.”&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saya menimpali, &lt;i style=""&gt;“Wah kamu mestinya mendapat lebih dari S$ 500. Pekerjaanmu ‘&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; berat sekali, dari pekerjaan rumah tangga hingga pekerjaan professional!”&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Pekerjaan Kartini memang berat. Aku sempat beberapa kali ngobrol dengan dia. Kartini, dibantu seorang PRT dari Indonesia, “mengelola” 3 rumah, yang sebenarnya ke-3 rumah itu adalah rumah yang dikontrak. Maksudnya, ada 3 rumah yang mesti diurus Kartini dan PRT satunya,  Emy namanya. Emy adalah PRT baru, yang masih dalam masa “pemotongan” gaji. Ke-3 rumah itu dikelola sebagai tempat penginapan. Dari 3 rumah itu terdapat 20 kamar. Yang punya rumah tinggal di 1 kamar. Kartini dan Emy mengurus dan mengelola ke-3 rumah penginapan itu mulai dari menerima telpon &lt;i style=""&gt;booking&lt;/i&gt;, mengatur pemakaian kamar, menerima pembayaran kamar, pemubukuan, plus semua pekerjaan domestiknya yaitu mengepel, mengganti seprei dari 20 kamar, membersihkan semua kamar mandi, memasak dan menyediakan air putih untuk tamu, membuka pintu, mencari taksi, mengangkat tas dsb. Pokoknya kerja rodi! 24 jam siap kerja, karena ada tamu yang datang pagi-pagi atau pergi tengah malam. Plus, tidak ada hari libur. Dengan gaji pas kontrak. Kartini mendapat S$ 300, sementara Emy masih belum terima gaji. Majikan sangat percaya pada Kartini. &lt;/span&gt;Kartini sangat pandai membuat pembukuan. Setiap hari Kartini membuat pembukuan dan setor penerimaan pada majikan, juga pembukuan pengeluaran rumah tangga, seperti listrik, air, belanja barang dsb. Yang membuat mereka agak terhibur, para tamu kadang memberikan tips. Tips itu tidak diambil majikan. Majikannya cuek. Soal makanan, majikan tidak pelit, malah kadang berlebih karena para tamu banyak memberi makanan. &lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“&lt;i style=""&gt;Jadi, kalau dihitung dengan tips, sebulan rata-rata kamu mendapat berapa?&lt;/i&gt;” tanyaku pada Kartini.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;“&lt;i style=""&gt;Minimal adalah totalnya S$700! Memang sih pekerjaannya berat sekali, tetapi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ada tambahan, Mam juga tidak cerewet.&lt;/i&gt;” jawab Kartini.  &lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;          &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;“Apa sih pekerjaan majikanmu?”&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Majikanku itu pekerjaannya main mahyong (judi) di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;China&lt;/st1:placename&gt;  &lt;st1:placetype st="on"&gt;Town&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Padahal dia perempuan. Dia sudah tua, janda. Aku ini yang kerja cari uang untuknya. &lt;/span&gt;Bayangkan dalam sebulan itu, dari ke-3 rumah itu minimal S$ 40.000. Terus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dikurangi bayar sewa rumah S$ 15.000 (3 rumah), lalu listrik, air, totalnya paling banyak S$20.000. Minimalnya sebulan ada pemasukan untuk Mam’ku itu S$ 15.000 – 20.000.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Hari ini, tanggal 21 April 2008, aku, Kartini dan Ibu Kartini, saling bertautan. &lt;span style="" lang="ES"&gt;Entah di mana pertautannya, aku sudah kelelahan menjawabnya. &lt;/span&gt;(Singapura, pada hari Kartini, 21 April 2008) &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-7181222604175471252?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/7181222604175471252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=7181222604175471252&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/7181222604175471252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/7181222604175471252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2008/05/aku-kartini-dan-hari-kartini.html' title='Aku, Kartini dan Hari Kartini'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-4838232240403739551</id><published>2008-05-07T15:50:00.012+07:00</published><updated>2008-09-20T01:16:09.815+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gerakan sosial'/><title type='text'>Bersama PRT di lingkungan Paroki St. Andreas – Kedoya Merayakan Hari Buruh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SCF2aPuza1I/AAAAAAAAAJ8/LACZ8AVQexo/s1600-h/kedoya_blog4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 236px; height: 178px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SCF2aPuza1I/AAAAAAAAAJ8/LACZ8AVQexo/s320/kedoya_blog4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197565638233779026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SCF06vuzayI/AAAAAAAAAJk/MxwRbZIpZ2U/s1600-h/Kedoya_blog1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 235px; height: 177px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SCF06vuzayI/AAAAAAAAAJk/MxwRbZIpZ2U/s320/Kedoya_blog1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197563997556271906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Pada tanggal 3 Mei lalu bertempat di aula paroki St. Andreas – Kedoya, Jakarta Barat, para PRT (pekerja rumah tangga) yang bekerja pada keluarga-keluarga katolik serta pekerja-pekerja di sekitar Paroki St. Andreas – Kedoya merayakan bersama hari pekerja. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Acara dihadiri lebih dari 250 pekerja rumah&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt; tangga, yang bekerja pada keluarga-keluarga katolik di paroki St. Andreas dan mengundang pekerja-pekerja lain di sekitar paroki. Beberapa teman pemerhati PRT juga datang, seperti Lita, ketua Jala PRT. &lt;/span&gt;Acara ini &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;diselenggarakan oleh Seksi Sosek Paroki St Andreas ini. Acara ini selain untuk memperingati hari buruh internasional (May Day), juga sebagai acara &lt;i style=""&gt;gathering&lt;/i&gt; untuk &lt;i style=""&gt;pre-launching&lt;/i&gt; sekolah PRT, yang akan diselenggarakan di paroki St. Andreas. Sekolah PRT ini merupakan wujud kepedulian dan keseriusan paroki &lt;st1:place st="on"&gt;St.&lt;/st1:place&gt; Andreas dalam menanggapi ajakan habitus baru untuk peduli PRT, yang digulirkan oleh Keuskupan Agung Jakarta sejak tahun 2006. &lt;span id="fullpost"&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SCF1WvuzazI/AAAAAAAAAJs/rxHyQClONm8/s1600-h/Kedoya_blog2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 203px; height: 164px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SCF1WvuzazI/AAAAAAAAAJs/rxHyQClONm8/s320/Kedoya_blog2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197564478592609074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SCF2Afuza0I/AAAAAAAAAJ0/Z1nWFlTdYYE/s1600-h/kedoya_blog3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 244px; height: 163px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SCF2Afuza0I/AAAAAAAAAJ0/Z1nWFlTdYYE/s320/kedoya_blog3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197565195852147522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt; Acara yang dikomandani oleh Sr. Vincentia HK ini, berlangsung pada petang hari dan diakhiri dengan makan malam bersama. Acara &lt;i style=""&gt;gathering&lt;/i&gt; ini karena tujuannya memang untuk perayaan, maka acaranya dikemas sebagai acara gembira, dengan perkenalan, doa bersama, nyanyi, pembagian door-prize, serta makan malam bersama. Acara dibuka dengan doa bersama yang dipimpin Ustad Syaefuddin, yang juga merupakan salah satu ketua Forum Komunikasi Kerukunan Umat Beragama di Kec. Kedoya, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Barat. Selesai membawakan doa, Ustad Syaefuddin mengajak partisipan mendengarkan lagu pujian melalui kelompok &lt;i style=""&gt;marawis&lt;/i&gt; (semuanya anak perempuan) dari kelompok pengajian asuhan Ustad Syaefuddin.&lt;p class="MsoBodyText"&gt;Acara yang juga disponsori dengan buah tangan paket minuman hangat dari Perusahaan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jamu Sido Muncul ini, diharapkan bisa menjadi pembuka jalan untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya dari gerakan peduli PRT ini. &lt;span style="" lang="ES"&gt;Acara yang cukup meriah ini, diakui beberapa peserta, baru sekali ini mereka hadiri. Mereka sangat gembira, jika acara-acara seperti ini bisa dilanjutkan, terlebih lagi acara-acara seperti ini membuka ruang bagi mereka untuk bersosialisasi dan menambah wawasan apalagi jika nantinya difasilitasi untuk belajar menambah ketrampilan dan pengetahuan. &lt;/span&gt;Selamat ya, buat Sr. Vincentia HK yang sudah bersusah payah mengupayakan program-program ini terwujud! Selamat juga buat kita di Mitra ImaDei, pelan-pelan benih yang kita tanam bisa bertumbuh kembang, dan jangan lupa untuk terus-menerus menyiram dan memupuknya. Ketemu lagi di pertemuan PRT selanjutnya ya...&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-4838232240403739551?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/4838232240403739551/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=4838232240403739551&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/4838232240403739551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/4838232240403739551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2008/05/bersama-prt-di-lingkungan-paroki-st.html' title='Bersama PRT di lingkungan Paroki St. Andreas – Kedoya Merayakan Hari Buruh'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SCF2aPuza1I/AAAAAAAAAJ8/LACZ8AVQexo/s72-c/kedoya_blog4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-3141635125666460635</id><published>2008-04-29T15:10:00.005+07:00</published><updated>2008-07-31T18:53:41.760+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita perempuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><title type='text'>Biografi Mary Magdalen (Maria Magdalena)</title><content type='html'>Sudah 10 hari aku di Singapura. Sudah mulai bosan dengan begitu banyak &lt;i style=""&gt;mall&lt;/i&gt; atau pusat perbelanjaan, khususnya bila kita tidak suka berbelanja. Untungnya, di antara pusat perbelanjaan yang berderet-deret, aku menemukan yang kusuka, toko buku. Di sebuah pusat perbelanjaan &lt;st1:street st="on"&gt;&lt;st1:address st="on"&gt;di   Orchad Road&lt;/st1:address&gt;&lt;/st1:street&gt;, terdapat sebuah toko buku yang sangat terkenal. Tokonya sangat luas. Mataku puas memandang toko buku itu. Sayang duitku cuma cepak saja (ngomong-ngomong rupiah teleeer banget di sini, alias tidak ada harganya), sehingga betul-betul harus memilih buku-buku apa yang mau kubeli.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Aku bergerak ke deretan &lt;i style=""&gt;literature&lt;/i&gt;, rasanya tidak sanggup melihat satu demi satu, saking banyaknya. Kemudian bergerak ke buku-buku filsafat, yang ternyata belum banyak tambahan buku-buku baru sejak aku lulus kuliah filsafat alias bergerak lambat pertambahan judulnya. Bergerak ke buku-buku anthropologi, kebanyakan buku-buku terbitan stok tahun-tahun agak lalu. Demikian juga saat ke buku-buku perempuan. Jika buku-buku perempuan yang kumaksud adalah buku-buku tentang feminisme dan studi gender ternyata hanya sedikit jumlahnya. Sementara, jika buku-buku perempuan yang dimaksud adalah soal &lt;i style=""&gt;fashion&lt;/i&gt;, psikologi popular (tentang bagaimana membuat cantik dari dalam dan luar atau bagaimana menambah kepercayaan diri), wanita hamil dan melahirkan… jumlahnya buaaaanyak banget. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SBbftqENQUI/AAAAAAAAAJU/IDFE0YGgH_c/s1600-h/crop+maria_widi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 195px; height: 197px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SBbftqENQUI/AAAAAAAAAJU/IDFE0YGgH_c/s320/crop+maria_widi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194585195697488194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Terakhir berjalan-jalan di dalam toko buku, aku bergerak ke rak subyek “religion”. Jumlah bukunya lumayan banyak. Siapa tahu aku bisa menemukan buku-buku tentang perempuan dan agama, khususnya agama Kristen-katolik, pendeknya buku-buku tentang teologi feminis. Tapi… kebanyakan bukunya tentang katekismus dan teolog-teolog klasik. &lt;span style="" lang="ES"&gt;Aku bolak-balik lagi membuka-buka buku. Lalu aku tersenyum walau agak kecele… &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Aku tidak menemukan buku-buku teologi feminis yang kumaksud, tetapi menariknya, aku mendapatkan sebuah “observasi” yang menarik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Dalam observasiku yang singkat itu, aku tidak menemukan tema perempuan tertentu, melainkan aku menemukan buku-buku tentang tiga tokoh perempuan, yang tentu saja tidak asing bagiku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ketiga tokoh perempuan itu adalah Sr. Teresa dari Calcuta, Maria – Ibu Yesus serta Maria Magdalena. Aku menemukan beberapa buku Sr. Teresa dari Calcuta, sementara buku tentang Maria – Ibu Yesus dan buku tentang Maria Magdalena terdapat belasan. Aku tergelitik untuk mengamati buku-buku itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Di antara deretan buku tentang Maria – Ibu Yesus, aku mendapati beberapa tulisan yang isinya devosional, seperti &lt;i style=""&gt;Mary and Her Miracle, The Everything of Mary Book, the Life and Legacy of the Blessed Mother&lt;/i&gt; etc. Kemudian, di antara deretan berbagai buku tentang Sr. Teresa dari Calcuta, terdapat buku &lt;i style=""&gt;Mother Theresa, Come and Be my Light, Mother Theresa, In My Own Words, Mother Theresa, The Joy in Loving&lt;/i&gt; etc. Dan, di antara sederetan buku tentang Maria Magdalen terdapat buku &lt;i style=""&gt;Secret of Mary Magdalene, The Banned Book of Mary, Mary of Magdalene – A Biography, The Magdalene Mystique, Magdalene’s Lost Legacy, the Making of Magdalene, The Secret Gospel of Magdalena, the Complete Idiot’s Guide to Mary Magdalene&lt;/i&gt; dsb. &lt;span style="" lang="ES"&gt;Buku-buku tentang Maria Magdalena rata-rata terbitan beberapa tahun belakangan atau dekade terakhir ini. Buku ini banyak muncul mengemuka sejalan dengan mengemukanya beberapa studi terakhir yang mengungkap misalnya apa yang sering disebut sebagai “Injil Maria Magdalena”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Di antara belasan buku tentang Maria Magdalena, aku memutuskan membeli satu. Aku memut&lt;/span&gt;uskan membeli buku yang judulnya, &lt;i style=""&gt;Mary Magdalen, Myth and Metaphor&lt;/i&gt;, karya Susan Haskins, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;London&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, 2005. &lt;span style="" lang="ES"&gt;Buku setebal 518 halaman itu harganya hampir sama dengan sewa kamarku sebulan di Jakarta. Walaupun mahal, tetapi kata orang membeli buku itu tidak ada ruginya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SBbaPKENQSI/AAAAAAAAAJE/KBfu23o9sZA/s1600-h/mary+magdalen.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SBbaPKENQSI/AAAAAAAAAJE/KBfu23o9sZA/s320/mary+magdalen.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194579174153339170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Aku memutuskan membeli buku itu, pertama-tama karena sampulnya. Sampulnya berwarna biru, dengan gambar lukisan Maria Magdalena, seperti sedang duduk memeluk kakinya. Sorot matanya sangat tajam. &lt;/span&gt;Lukisan dalam sampul depan buku itu karya Giovanni Girolamo Savoldo, yang berjudul &lt;i style=""&gt;St. Mary Magdalene Approaching the Sepulchre&lt;/i&gt;. Kedua, isinya lumayan lebih lengkap dibanding yang lainnya. Yang ketiga, dalam buku itu terdapat banyak gambar – lukisan-lukisan (91 lukisan/gambar) mengenai Maria Magdalena, yang membantuku dengan cepat mengakrabi sosok Maria Magdalena. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Sekeluar dari toko buku, aku duduk nongkrong di pedestrian Orchad yang sangat nyaman. Coba ada pedestrian selebar itu di Jakarta. Dari tempatku duduk, aku menikmati alunan biola Tiongkok, &lt;i style=""&gt;erhu&lt;/i&gt; yang sedang dimainkan seorang perempuan. Kubuka halaman pertama buku yang hanya separo halaman itu, aku berhenti pada kalimat paling bawah. &lt;span style="" lang="ES"&gt;Ada situasi yang terhubung antara diriku, perempuan yang sedang bermain musik menghibur, serta Maria Magdalena yang baru kubaca satu halaman itu. Susah mendeskripsikannya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Tiba-tiba aku teringat kembali di masa-sama bangku kuliahku sekitar tahun 1991 – 1992, ketika aku ikut melakonkan peran Maria Magdalena dalam drama “Yesus Sang Pembebas”, dalam pentas teater rakyat bersama teman-teman di Wisma Mahasiswa Solo. Dalam pentas itu, aku memerankan Maria Magdalena. Yang sangat kuingat dalam peranku itu adalah sebuah lagu yang diciptakan untuk mengiringi pelakon Maria Magdalena itu. Aku malah tidak tahu siapa yang menciptakan lagu itu (kalau tidak salah, almarhum Rm. Mangunwijaya Pr). Judul lagunya pun aku sudah lupa. Tetapi di antara syairnya, aku masih ingat beberapa kalimat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 28.1pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 28.1pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Memang aku perempuan, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 28.1pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Citraku sepertanyaan dengan pelangi, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 28.1pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Sarafku peka bagaikan senar, yang tertiup jari angin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 28.1pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Yang merintih di tengah harapan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 28.1pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Yan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;g menangis di tengah impian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 28.1pt;"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Kan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; kutunggu sampai nanti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 28.1pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Malam rindu fajar pagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Entah kenapa beberapa penggalan kalimat itu masih nempel di kepalaku walaupun belasan tahun lalu dinyanyikannya. …&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Agak lama aku melayani lamunan pikiran yang terbentuk itu, tiba-tiba tawa keras perempuan di sekitarku menghentikan lamunanku. Aku juga baru tersadar bahwa lagu yang dinyanyikan perempuan yang memainkan alat musik &lt;i style=""&gt;erhu&lt;/i&gt; itu adalah &lt;i style=""&gt;Bengawan Solo&lt;/i&gt;. Ah, aku jadi ingat Bapak dan Ibuku di Solo. Aku menikmati petikan biola Tiongkok itu untuk beberapa lama. Buku Mary Magdalen itu lalu kututup. Tentang isinya… tunggu ya! (ditulis di Singapura, 13 April 2008) Lukisan Maria oleh WIDI S, 1994. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-3141635125666460635?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/3141635125666460635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=3141635125666460635&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/3141635125666460635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/3141635125666460635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2008/04/biografi-mary-magdalen-maria-magdalena.html' title='Biografi Mary Magdalen (Maria Magdalena)'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SBbftqENQUI/AAAAAAAAAJU/IDFE0YGgH_c/s72-c/crop+maria_widi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-8547794538096047585</id><published>2008-04-02T20:39:00.018+07:00</published><updated>2008-09-20T01:05:47.468+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik feminis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><title type='text'>Martabat Perempuan dalam Ensiklik Mulieris Dignitatem dan Surat Paus Yohanes Paulus II pada Perempuan 1995</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SBbi96ENQVI/AAAAAAAAAJc/6ZTjRABg4Qo/s1600-h/crop+ibu2.jpg"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 282px; height: 215px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SBbi96ENQVI/AAAAAAAAAJc/6ZTjRABg4Qo/s320/crop+ibu2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194588773405245778" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SBbcRqENQTI/AAAAAAAAAJM/8zxEkUVxQH4/s1600-h/crop+suster.jpg"&gt;  &lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam Surat kepada Perempuan 1995, Paus menegaskan kembali tentang martabat perempuan, meneruskan dalam pembahasan ensiklik Mulieris Dignitatem. Surat yang dimaksudkan (selanjutnya disingkat SP 1995) sebagai suatu ‘dialog’ itu, secara khusus membicarakan tema penting mengenai martabat dan hak-hak perempuan dalam terang sabda Tuhan, untuk merefleksikan problem perempuan dan kemungkinan-kemungkinan di masa depan tentang apa artinya menjadi perempuan di masa sekarang ini?&lt;/p&gt; &lt;span id="fullpost"&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mengenai martabat perempuan yang sesungguhnya, yang disebut dengan universal recognition of the dignity of women (pengakuan universal tentang martabat perempuan), dikatakan bahwa ini merupakan hasil pemahaman terhadap basis anthropologis yang paling mendasar dari martabat perempuan. Kemampuan untuk memahami martabat ini merupakan hasil dari penggunaan akal budi itu sendiri, untuk memahami hukum yang telah digoreskan Allah di dalam hati tiap-tiap manusia.Dikatakan dalam SP 1995, “Kemampuan kita untuk mengenali martabat ini, kendatipun berada di bawah pengandaian sejarah, muncul atau berasal dari akal budi itu sendiri, yang memungkinkan memahami hukum Tuhan yang dituliskan di dalam setiap hati manusia. Lebih dari apa pun, sabda Tuhan memungkinkan kita untuk menggenggam dengan sangat jelas basis anthropolis paling mendasar dan tertinggi dari martabat perempuan, making bukti-bukti itu menjadi bagian dari rencana Tuhan bagi kemanusiaan.” (SP, 1995, hal. 10)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pernyataan itu, selain memasukkan studi teologis, juga memakai dasar studi anthropologis (serta historis). Tetapi kemudian, yang menjadi problem, menurut saya adalah justru masalah pendasaran anthropologis dan historis ini. Tampaknya belum ada kesepakatan di antara para feminis dengan perumus pernyataan tersebut mengenai pendasaran anthropologis dan historis dari being a women. Masalah ini akan menjadi jelas jikalau kita mencoba berjalan mundur dan menelusuri ke belakang layar, di mana asumsi-asumsi anthropologis dan historis itu dibuat. Dan penelusuran ini tidak akan terlalu sulit karena data-data anthropologis, historis, sosiologis atau teologis sekalipun masih bisa ditemukan jejaknya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Menyangkut martabat ini, Paus memberi tempat khusus pada apa yang disebutnya sebagai ‘keunggulan perempuan’ (the genius of women). Bahkan Paus mengingatkan perempuan supaya ‘berhati-hati’ dalam memaknai ungkapan itu, yaitu sebagai bentuk partisipasi khusus rencana Allah yang perlu diterima dan dihargai, dan juga membiarkan keunggulan itu lebih diekspresikan dalam kehidupan masyarakat dan Gereja. Dengan menengok kembali kepada Mulieris Dignitatem, Paus menyatakan: “Gereja memandang Maria sebagai pengejawantahan tertinggi dari nilai sejati keperempuanan, dan gereja juga menemukan Maria sebagai sumber dari inspirasi kekal. Maria menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan. Melalui ketaatannya terhadap Sabda Tuhan, dia menerima dalam kemuliaannya suatu tugas yang tidak mudah, sebagai istri dan ibu dalam keluarga Nazaret.” (SP, 1995, hal. 15)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sebagai istri, ibu dan pelayan dalam persekutuan iman. Sebagai perawan sekaligus ibu, yang bukan hanya taat pada sabda Allah, tetapi juga menjadi pelayan iman dan sekaligus pelayan bagi sesama. Dalam hal ini, antara Mulieris Dignitatem dan Surat Paus itu memiliki napas yang sama mengenai martabat perempuan. Sebagian besar isi surat Paus ini merupakan perulangan pernyataan dan penegasan kembali beberapa hal menyangkut perempuan, yang sering dijadikan bahan perdebatan dan tuntutan.Masalah ‘kepenuhan perempuan’ masih sangat menyiratkan ‘kepenuhan perempuan’ seturut ‘kodrat’nya. Kodrat perempuan sebagai ibu dan calon ibu, yang harus menampakkan kualitas-kualitas yang lemah lembut, penuh perhatian, tulus memberi dan merawat, hangat dan menghidupkan, pembawa damai dan menyejukkan, seperti seorang ibu yang penuh kasih ataupun perawan yang saleh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Karena dalam merumuskan ‘martabat’ perempuan di dalam kedua dokumen itu berangkat dari pendasaran anthropologis, medis, historis, maka penelusuran itu pun bisa memakai jalan yang sama, ke data-data anthropologis, historis dan sosiologis. “Analisa ilmiah sungguh menjelaskan bahwa pembentukan fisik perempuan secara alamiah dimaksudkan bagi fungsi keibuan – pembuahan, kehamilan, dan melahirkan – yang merupakan konsekuensi dari persekutuan perkawinan dengan seorang laki-laki. Sekaligus hal ini pun sesuai dengan struktur psiko-fisik perempuan.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Memang, Paus mengingatkan bahwa interpretasi tentang perempuan dan keibuan janganlah terbatas secara eksklusif pada interpretasi bio-fisiologis. Sebab itu akan meredusir perempuan pada ‘materi’ semata, dan akan menghilangkan apa yang esensial pada perempuan. Ditegaskannya, “Keibuan sebagai fakta dan fenomena manusia dapat sungguh diterangkan berdasarkan kebenaran mengenai pribadi manusia.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tidak ada yang dapat disangkal dari pernyataan itu. Sebab pernyataan itu memang mengandung kebenaran. Lalu masalahnya apa? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;‘Penekanan’ yang sangat keras sisi keibuan dari perempuan (atau panggilan yang satunya, keperawanan) telah ‘menjebak’ perempuan pada situasi dan kondisi yang problematis dan dilematis, yang tidak mudah mendapatkan jalan keluarnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sandra M. Schneiders (1991) mencatat bahwa banyak feminis katolik Amerika menemukan dokumen kepausan seperti Mulieris Dignitatem telah membuat stres perempuan karena romantisme yang tidak sehat dan tidak realistis terhadap perempuan yang sangat menekankan aspek ‘keibuan,’ dengan argumen-argumen yang telah mengingkari perempuan serta peranannya yang selayaknya sebagai manusia dewasa dalam masyarakat dan sebagai orang kristen yang dibaptis di dalam dan atas nama gereja. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sementara itu Marie Therese van Lunen Chenu (1989) menemukan bahwa sikap Gereja yang mendua semacam itu, baginya adalah suatu sikap yang provokatif. Pada satu sisi Gereja membuat permaklumannya terhadap realitas seperti masalah maternitas, paternitas, parental, seksualitas, alam, perubahan ataupun penyebaran---dan khususnya lagi karena kemampuan gereja untuk ‘mengorganisasikan’ diri (seperti menjustifikasi, mengesahkan serta mengekalkan pandangan) menurut suatu pola tertentu dari paternitas/maternitas yang tampak semakin menantang seperti dalam Mulieris Dignitatem, sebagai suatu contoh yang menyedihkan. Sementara di sisi lainnya, Gereja telah mengundang suatu ajakan untuk berdialog dengan seksulitas, maternitas ataupun filiasi, karena dari sanalah akan muncul konsekuensi atau pengaruh terhadap panggilan biblis, relevansi mistis dan evangelis, tradisi, serta simbolisme yang mampu menunjukkan atau bahkan menumbangkan pola-pola peranan yang tidak acceptable bagi semua, dalam proses mencari dan akhirnya bisa disumbangkan sebagai sebuah hukum moral dari relasi antara manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pendapat yang hampir senada dikatakan oleh Johanna Kohn – Roelin (1989), bahwa Mulieris Dignitatem menyediakan ajakan untuk melihat perempuan sebagai ibu, yang dikaitkan terhadap perjanjian Tuhan dengan manusia melalui ‘rasa keibuan’ dari Allah Ibu, namun demikian dapat ditemukan dalam Mulieris Dignitatem bahwa gambaran ideal dari keibuan tersebut tidak memberi perempuan kekuasaan apa pun yang ada dalam masyarakat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pembahasan lebih jauh lihat dalam tulisan Iswanti, Kodrat yang Bergerak, Kanisius, 2003.&lt;/p&gt;  &lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-8547794538096047585?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/8547794538096047585/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=8547794538096047585&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/8547794538096047585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/8547794538096047585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2008/04/martabat-perempuan-dalam-ensiklik.html' title='Martabat Perempuan dalam Ensiklik Mulieris Dignitatem dan Surat Paus Yohanes Paulus II pada Perempuan 1995'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/SBbi96ENQVI/AAAAAAAAAJc/6ZTjRABg4Qo/s72-c/crop+ibu2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-4979606122917460697</id><published>2008-04-02T20:00:00.006+07:00</published><updated>2008-09-20T00:59:56.522+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik feminis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><title type='text'>20 Tahun Ensiklik Mulieris Dignitatem (Martabat Perempuan)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Pada ulangtahun ke-20 tahun (2008) Surat Apostolik Mulieris Dignitatem (Martabat Perempuan), Paus Benediktus XVI mengutuk eksploitasi, diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan. Dikatakan oleh Paus Benediktus XVI, “&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tempat dan waktu di mana perempuan mengalami diskriminasi atau tidak dihargai hanya karena kenyataan bahwa mereka perempuan. Diskriminasi ini bisa terjadi, antara lain sebagai produk dari argumen-argumen religius, serta tekanan dari keluarga, kondisi sosial dan budaya, untuk mendukung disparitas laki-laki dan perempuan.” &lt;span id="fullpost"&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; Hal itu disampaikan Paus Benediktus XVI pada audiensi sekitar 250 para peserta konferensi yang memperingati 20 tahun Surat Apostolik Mulieris Dignitatem (MD) yang dikeluarkan Paus Yohanes Paulus II. Tidak ada hal baru yang disampaikan Benediktus XVI pada sambutannya itu, selain pengulangan dan “pengerasan” dari apa yang sudah tertuang dalam MD. Garis besarnya sama. Diawali dengan pengakuan dosa atas diskriminasi terhadap perempuan, sumbangan “feminine” perempuan, panggilan sejati perempuan sebagai ibu, pentingnya keluarga. Tentu tidak lupa, Paus ini menekankan kembali, gereja mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara dalam martabat, meskipun demikian terdapat perbedaan seksual yang riil, yang bukan konstruksi budaya, yang itu sudah tertulis sebagai kodrat manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mengenai &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat ini, MD dikeluarkan pada kesempatan Tahun Maria, 1988, dengan level ‘yang apostolik’. Pada pengantar Surat Apostolisnya, Paus menyatakan bagaimana Gereja selama ini telah menanggapi masalah martabat dan Panggilan kaum Perempuan, sebagai ‘Sebuah Tanda Zaman.’ Paus lalu mengutip Pesan dalam Magisterium Gereja Konsili Vatikan II kepada Kaum Wanita (8 Desember 1965), yang isinya: “Saatnya akan datang, dan nyatanya sudah datang, di mana panggilan kaum wanita akan diakui kepenuhannya; saat di mana kaum wanita di dalam dunia ini memperoleh pengaruh, hasil dan kuasa yang tak pernah dicapainya hingga saat ini.” (MD, hal.9)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kutipan lainnya yang diambil Paus untuk menyusun MD adalah kutipan dari naskah pidato Paulus VI dalam Amanat kepada para peserta Pertemuan Nasional dari Centro Italiano Feminile (6 Desember 1976), yaitu: “Dalam kekristenan, lebih daripada dalam agama mana pun, dan sudah sejak awalnya, kaum wanita telah memperoleh martabat yang khusus, yang banyak aspek pentingnya diperlihatkan kepada kita oleh Perjanjian Baru; cukup jelas bahwa kaum wanita dimaksudkan untuk membentuk bagian dari struktur hidup dan kerja kekristenan dalam cara yang sedemikian menonjol sekalipun barangkali semua kemampuan mereka belum terealisir secara jelas.” (MD, hal. 10) &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Paus Yohanes Paulus II juga menyatakan bahwa dokumen Mulieris Dignitatem ini muncul dan sebagai tanggapan Paus sesudah sinode para Uskup (1987) yang dkhususkan membahas ‘Panggilan dan Perutusan Kaum Awam di dalam Gereja dan di dalam Dunia setelah Dua Puluh Tahun Konsili Vatikan II,’ yang sekali lagi juga bergulat dengan martabat dan panggilan kaum wanita. Dikatakan oleh Paus: “Satu dari sekian rekomendasi mereka yaitu melakukan sebuah studi yang lebih jauh mengenai dasar-dasar anthropologis dan teologis yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan arti dan martabat wanita dan sebagai pria. Ini merupakan soal bagaimana memahami alasan dan konsekuensi-konsekuensi dari keputusan Sang Pencipta bahwa manusia selalu dan hanya selalu berada sebagai seorang wanita dan seorang pria.” (MD, hal.11)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Untuk melihat bacaan saya lebih lanjut mengenai Mulieris Dignitatem, bisa dibaca di buku saya, Kodrat yang Bergerak, (Kanisius, 2003). Namun sejujurnya, saya tidak tahu apakah relevan atau tidak membicarakan bahwa ensiklik Mulieris Dignitatem sudah berusia 20 tahun. Beberapa saat lalu, saya tergelitik untuk bertanya pada beberapa perempuan katolik, apakah mereka mengetahui tentang Ensiklik Mulieris Dignitatem. Dari belasan perempuan katolik yang saya tanyai sepintas, tidak ada satu pun yang mengetahui tentang ensiklik itu! Ya sudahlah... tidak usah sedih hati! Begitulah kenyataannya, mau dibilang apa! &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-4979606122917460697?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/4979606122917460697/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=4979606122917460697&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/4979606122917460697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/4979606122917460697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2008/04/20-tahun-mulieris-dignitatem-martabat.html' title='20 Tahun Ensiklik Mulieris Dignitatem (Martabat Perempuan)'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-1392101855681447553</id><published>2008-02-08T13:01:00.000+07:00</published><updated>2008-02-08T13:06:02.495+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gerakan sosial'/><title type='text'>Kampanye “Libur Sehari dalam Seminggu bagi PRT” di wilayah Keuskupan Agung Jakarta</title><content type='html'>Walaupun libur sehari dalam seminggu sudah ditetapkan oleh Pemda DKI Jakarta, namun dalam praktiknya kebijakan itu sering belum dilaksanakan. Untuk itulah, Mitra ImaDei bekerja sama dengan ILO (&lt;i&gt;International Labour Organization&lt;/i&gt;) serta didukung Wanita Katolik RI DPD Jakarta dan Keuskupan Agung Jakarta mengkampanyekan bersama “&lt;i&gt;Libur Sehari dalam Seminggu bagi PRT&lt;/i&gt;” di wilayah Keuskupan Agung Jakarta. &lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R6vwnB1YUMI/AAAAAAAAAIk/K28izizZVwY/s1600-h/prt4_blog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 270px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R6vwnB1YUMI/AAAAAAAAAIk/K28izizZVwY/s320/prt4_blog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164485951008297154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Memberikan hari &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;libur sehari dalam seminggu bagi PRT, selain merupakan hak yang harus diberikan pada PRT, juga menjadi kesempatan bagi PRT untuk berlibur, bersosialisasi ataupun mengembangkan diri. Di lain pihak, dengan PRT yang libur, bisa menjadi hari di mana keluarga bisa berbagi tanggung jawab pekerjaan rumah tangga. &lt;/span&gt;&lt;p style="margin-left: 0.25in; margin-right: -0.73in; margin-bottom: 0in;"&gt; &lt;/p&gt;Kampanye ini merupakan bagian dari program kegiatan “Peduli pada PRT sebagai Habitus Baru Keluarga di Keuskupan Agung Jakarta”. Program ini memiliki 3 paroki contoh (Paroki Bartolomeus/Bekasi, Paroki St. Andreas/Kedoya dan Paroki Keluarga Kudus/Rawamangun) untuk mengadakan beberapa kegiatan seperti sosialisasi pada majikan – umat di paroki, pembentukan tim pendamping PRT di paroki dan pendampingan PRT di paroki melalui pertemuan PRT. (Foto: Dok. Teman-teman pendmping PRT di paroki Bartolomeus, Bekasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poster di blog ini (seb. kanan) merupakan poster untuk kegiatan kampanye tersebut. Siapa berminat dengan poster tersebut, silakan menghubungi kami di (021) 71365170.&lt;br /&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-1392101855681447553?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/1392101855681447553/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=1392101855681447553&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/1392101855681447553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/1392101855681447553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2008/02/kampanye-libur-sehari-dalam-seminggu.html' title='Kampanye “Libur Sehari dalam Seminggu bagi PRT” di wilayah Keuskupan Agung Jakarta'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R6vwnB1YUMI/AAAAAAAAAIk/K28izizZVwY/s72-c/prt4_blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-1527337390937681376</id><published>2008-02-08T12:44:00.001+07:00</published><updated>2008-09-20T01:18:52.672+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gerakan sosial'/><title type='text'>Membawa PRT ke Altar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R6vuIB1YUKI/AAAAAAAAAIU/DV191Nhw3sU/s1600-h/prt2_blog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 275px; height: 183px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R6vuIB1YUKI/AAAAAAAAAIU/DV191Nhw3sU/s320/prt2_blog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164483219409096866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tanggal 15 Februari kita mengingat hari itu adalah hari PRT (pekerja rumah tangga). Untuk mengingat itu, saya membuat catatan tentang kegiatan peduli PRT yang dilakukan oleh Mitra Ima Dei (di mana saya menjadi pengurus perkumpulan ini). Mitra ImaDei adalah perkumpulan teman-teman yang memiliki keprihatinan dan kepedulian terhadap persoalan ketidakadilan, khususnya ketidakadilan berbasis seks dan gender, yang sementara ini basisnya adalah komunitas teman-teman katolik. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tahun 2007, Mitra ImaDei memiliki program kegiatan “Peduli pada PRT sebagai Habitus Baru Keluarga di Keuskupan Agung Jakarta”. Program ini merupakan tindak lanjut dari implementasi hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2005. Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) memilih dua isu untuk ditindaklanjuti, yang keduanya merupakan isu pilihan yang kontekstual dengan kondisi gereja di Jakarta. Kedua  isu tersebut adalah isu lingkungan dan perburuhan. Sementara ini, isu lingkungan berfokus pada upaya menggerakkan habitus baru peduli sampah, mengubah sampah menjadi berkah. Sementara untuk isu perburuhan, diangkat isu buruh formal (yang dipromotori teman-teman di LDD), pekerja yayasan atau lembaga di lingkungan gereja serta mengangkat persoalan PRT (pekerja rumah tangga). Isu PRT ini dipromotori oleh Mitra ImaDei. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program peduli PRT yang didukung oleh ILO ini memiliki beberapa kegiatan antara lain, kampanye “Libur Sehari dalam Seminggu bagi PRT” di wilayah, sosialisasi isu PRT, pembentukan tim di paroki, pendampingan dan pendidikan untuk PRT, publikasi poster, brosur dan panduan. Beberapa kali sosialisasi telah dilakukan pada umat katolik di wilayah KAJ, baik di tingkat paroki, keuskupan (komisi) hingga kelompok-kelompok kategorial (WKRI, Pemikat), juga untuk para pastor. Program ini masih terus bergulir hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat keterbatasan sarana dan prasarana, Mitra ImaDei memilih 3 paroki untuk menjadi paroki contoh dalam menggulirkan isu PRT ini secara intensif. Di ke-3 paroki ini dilakukan sosialisasi dan kampanye secara intensif, mengumpulkan beberapa ibu untuk menjadi tim paroki menangani kegiatan PRT ini, dan membuat pendidikan dan pendampingan PRT yang merupakan PRT dari umat katolik setempat. Ke-3 paroki tersebut adalah Paroki Bartolomeus/Bekasi, Paroki St. Andreas/Kedoya dan Paroki Keluarga Kudus/Rawamangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Paroki Bartolomeus – Bekasi, untuk sosialisasi&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R6vvQB1YULI/AAAAAAAAAIc/_Zs2WAlZ3K0/s1600-h/PRT3_blog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 272px; height: 181px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R6vvQB1YULI/AAAAAAAAAIc/_Zs2WAlZ3K0/s320/PRT3_blog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164484456359678130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; persoalan ini, bahkan PRT dihadirkan dan diminta memberikan kesaksian pada saat misa. Pada saat homili, pastor meminta seorang PRT (yang didampingi seorang tim penggerak PRT di paroki) untuk memberikan kesaksian. Acara ini kemudian diikuti dengan seminar tentang PRT bagi umat. Ibu-ibu yang menjadi penggerak di Paroki Bartolomeus ini mengangkat tema: “PRT juga Manusia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sekarang, kegiatan pendampingan dan pendidikan PRT ini masih terus berjalan,  dengan pasang surut dan suka duka di sepanjang proses. Para ibu-ibu pendamping yang sebelumnya tidak pernah mengenal isu ini terus menerus mendapatkan pembekalan untuk menambah kemampuan mereka mendampingi kelompok PRT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita tidak pernah kehabisan energi untuk memperjuangkan kepedulian terhadap PRT ini. Selamat hari PRT! (Foto: Teman-teman pendamping di paroki Bartolomeus, Bekasi) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-1527337390937681376?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/1527337390937681376/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=1527337390937681376&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/1527337390937681376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/1527337390937681376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2008/02/membawa-prt-ke-altar.html' title='Membawa PRT ke Altar'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R6vuIB1YUKI/AAAAAAAAAIU/DV191Nhw3sU/s72-c/prt2_blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-1106964392791621408</id><published>2008-01-29T23:43:00.007+07:00</published><updated>2008-09-20T01:21:55.295+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><title type='text'>Marriage or Family?</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="FI"&gt;Last November I attended&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;a presentation by Prof. Lisa Sowle Cahill in Jakarta. She &lt;/span&gt;is a professor at Boston College, where she has taught theology since l976. She is a past president of both the Catholic Theological Society of America (l992-93), and the Society of Christian Ethics (l997-98).&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R59azh1YUJI/AAAAAAAAAIM/x68_jM04lNM/s1600-h/sr+mariska_blog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R59azh1YUJI/AAAAAAAAAIM/x68_jM04lNM/s320/sr+mariska_blog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160943539291967634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;On her presentation she addressed a moral issue about family and marriage. She started her presentation with a question: Which is first marriage or family? Foremost, she gave a comment on Familiaris Consortio. &lt;u&gt;Familiaris Consortio&lt;/u&gt; actually says, ”conjugal communion constitutes the foundation on which is built the broader communion of te family, of parents and children, of brothers and sisters with each other, of relatives and other members of the household. (no.21)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span id="fullpost"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;She commented: ”&lt;span&gt;I think this is backward. I agree with the implied position of the conspectus that family is fundamental reality in human cultures. After all, everyone is part of a family, understood as biologically based- intergenerational kinship network, even in cases in which family members have been separated. All cultures institutionalize the family, and use family relationship as an important means of organizing social relationship. Marriages formalizes the procreative relationship, defines sexual rights, often instituinalizes of social and material goods among families (Indonesia belis pratice), and ensure formal responsibility of parents for children born of the marriage union&lt;/span&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;In the context of her culture (USA), ”&lt;span&gt;Marriage is very much regarded as a free, individual relationship. The extended family and its responsibilities to and for the married couple and their children is downplayed. However, some subcultures in our society, like African Americans a d Latinos, still see family and community as very important? This means a strong support network. However, in some cases, it also means that marriage is not really regarded as necessary for childbearing and child raising. Our culture is conflicted over this issue. Many of social supports for families are weak, like education, health care, child care, and care for elderly. Many of the resulting burdens fall on women&lt;/span&gt;.” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;On the next issue, she addressed &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;about divorce and remarriage. She shared about these issues in the context of American catholics. She cited the statistic that in the US, there is unrealistic expectations of the marriage relationship and 50% divorce rate. How the the catholic church in US handled this issue? &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;In her opinion, there is a development in approach on tackling this issue in the USA since the revision of the 1983 code of canon law. She stated: ”&lt;span&gt;The 1983 code of canon law also adopt a personalist view of marriage, using the term ”covenant”, instead of ”contract” only ( a term which, ambiguously, does remain in Canon 1055.2). ”The matrimonial covenant, by which a man and a woman establish between themselves a partnership of the whole life, is by its nature ordered toward the good of spouses and the procreation and education of offspring. This covenant between baptized persons has been raised by Christ the Lord to the dignity of a sacrament.” (Canon 1055.1). The shift from contractual language to language defining marriage as a expanded grounds for the annulling marriages of Catholics. An original unwillingness or incapacity of one or both spouses to agree freely to ”a parnership of the whole of life” is enough to declare the marriage null from the beginning. And sometimes this ”original” incapacity  is determine simply by looking at the quality of the relationship that later came to exist&lt;/span&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;She noted that, &lt;span&gt;”In the United States this has led to many more annulments and to greater ease in obtaining them, with some dioceses reportedly deciding to annul 90-95% of the cases brought to their tribunals. In cases in which nullity cannot be objectively demonstrated, couples are pastorally encouraged to resort to the ”internal forum.” in other words, if they are sure in conscience that the grounds for annulment are met in their case, they are encouraged to receive the Eucharist, even though no formal court approval has been given. In actual practice, the size and relative anonymity of many large urban and suburban parishes easily permit divorced and remarried catholics to approach the Eucahrist with little fear of rejection or criticism&lt;/span&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;In Indonesian context, she asked these questions: What is the ethos of ”family” like in Indonesia? Is it a much more strongly communal society? What does that mean for the daily experience of married couples? (Unfortunately we had no more time to discuss about these questions)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;In that discussion, there were several questions&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;from the participants, such as: Is there any story of divorce in the New Testament? What does Jesus say about divorce? How does the catholic church in America handle the issue of domestic violence? How do the catholic families in America handle the issue of gender equality? (Picture: old generation  of Javanese family with 10 children)&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-1106964392791621408?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/1106964392791621408/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=1106964392791621408&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/1106964392791621408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/1106964392791621408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2008/01/marriage-or-family.html' title='Marriage or Family?'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R59azh1YUJI/AAAAAAAAAIM/x68_jM04lNM/s72-c/sr+mariska_blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-2385730156185646386</id><published>2008-01-29T23:13:00.001+07:00</published><updated>2008-09-20T01:25:08.052+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><title type='text'>Perkawinan atau Keluarga?</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bulan November tahun lalu, saya mengikuti sebuah diskusi, dengan pembicara Prof. Lisa Sowle Cahill. Lisa Cahill adalah teolog – profesor di Boston College, tempat dia mengajar sejak tahun 1976. Dia pernah menjadi presiden &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Catholic Theological Society of America&lt;/i&gt; (l992-93) maupun &lt;i style=""&gt;the Society of Christian Ethics&lt;/i&gt; (l997-98).&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R59R1h1YUII/AAAAAAAAAIE/5qNVoon7jPc/s1600-h/Photo-0124.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 260px; height: 193px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R59R1h1YUII/AAAAAAAAAIE/5qNVoon7jPc/s320/Photo-0124.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160933678047056002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dia membawakan sebuah isu moral tentang keluarga dan perkawinan. Prof. Cahill memulai presentasinya dengan sebuah pertanyaan, ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mana yang lebih dahulu (mendasar), perkawinan atau keluarga?&lt;/span&gt;” &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dalam papernya, pertama-tama dia memberi komentar pada dokumen Familiaris Consortio. Familiaris Consortio sebenarnya mengatakan, ”persekutuan suami-istri merupakan dasar (fondasi) di mana persekutuan lebih besar dibangun, yakni keluarga, orangtua dan anak-anak, saudara dan saudari, kerabat serta seluruh anggota keluarga. (no.21)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Menurut Prof. Cahill, ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya pikir ini sebuah kemunduran. Saya setuju dengan gagasan dasar bahwa keluarga adalah realitas fundamental dalam kebudayaan-kebudayaan manusia. Pada akhirnya, setiap orang adalah bagian dari keluarga, yang dipahami sebagai pertalian keluarga a&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ntar-generasi yang didasarkan secara biologis, bahkan meski dalam beberapa kasus anggota keluarga ini telah terpisah. Semua kebudayaan melembagakan keluarga, dan menggunakan hubungan keluarga sebagai sebuah sarana penting dalam melembagakan organisasi sosial. Perkawinan memformalkan hubungan prokreasi, mendefiniskan hak-hak seksual, tidak jarang melembagakan modal sosial dan material di antara keluarga-keluarga (misalnya dalam praktis belis di Indonesia), dan memastikan tanggung jawab resmi orangtua atas anak-anak yang dilahirkan dalam ikatan perkawinan.&lt;/span&gt;” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dalam konteks budaya USA, menurut prof Cahill, ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perkawinan lebih dianggap sebagai sebuah hubungan bebas, individual. Kerabat keluarga dan tanggung jawab mereka terhadap pasangan dan anak mereka tidaklah terlalu berperanan. Meskipun, dalam beberapa sub-kultur di masyarakat kami, seperti African-Americans dan orang-orang Latinos, masih melihat keluarga dan komunitas sangat penting. Meskipun, dalam beberapa kasus, hal itu juga berarti perkawinan tidak sungguh-sungguh diperlukan untuk merawat atau membesarkan anak. Kebudayaan kami mengalami konflik tumpang tindih atas isu ini. Dukungan-dukungan sosial bagi keluarga sangat lemah, seperti pendidikan, perawatan kesehatan, perawatan anak dan lansia. Banyak beban akhirnya jatuh pada perempuan&lt;/span&gt;." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pada isu berikutnya, Prof. Cahill menyampaikan tentang isu perceraian dan pernikahan kembali. Dia menceritakan isu ini dalam konteks orang-orang katolik Amerika. Dia mengutip statistik, terdapat harapan tidak realistis terhadap hubungan perkawinan dan angka rata-rata 50% perceraian. Bagaimana gereja katolik di Amerika menghadapi ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dalam pandangannya, terdapat perkembangan dalam pendekatan menangani isu perceraian dan pernikahan kembali di Amerika sejak adanya revisi Kitab Hukum Kanonik 1983. ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kitab Hukum Kanonik 1983 mengadopsi pandangan personal terhadap perkawinan, menggunakan istilah ”perjanjian”, ketimbang ”kontrak” (sebuah istilah yang tetap saja ambigu dalam Kitab Hukum Kanonik, 1055.2). ”Perjanjian perkawinan, dengan mana pria dan wanita membentuk antar-mereka kebersamaan seluruh hidup, dari sifat kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-istri serta pada kelahiran dan pendidikan anak; oleh Kristus Tuhan perkawinan antara orang-orang yang dibaptis diangkat ke martabat Sakramen. (Canon 1055.1). Perubahan istilah kontrak menjadi perjanjian dalam mendefiniskan perkawinan sebagai dasar yang lebih luas bagi proses anulasi perkawinan-perkawinan katolik. Ketidakbersediaan/ketidakrelaan sejak awal atau ketidakmampuan dari salah satu dari kedua pasangan atau keduanya untuk menyetujui secara bebas bagi ”kebersamaan seluruh hidup” sudah cukup menjadi alasan meminta pembatalan perkawinan. Dan terkadang ketidakmampuan ”sejak awal” ini ditentukan dengan melihat kualitas hubungan yang berlangsung kemudian&lt;/span&gt;." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dia menambahkan, ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di AS hal ini telah membawa lebih banyak lagi anulasi dan lebih besar lagi permintaan untuk anulasi, dan di beberapa diosesan, menurut laporan, memutuskan untuk menganulasi hingga 90 % - 95% kasus dan membawanya pada peradilan gereja. Dalam kasus-kasus di mana anulasi tidak dapat diberikan secara obyektif, pasangan diteguhkan secara pastoral untuk melakukan perbaikan dengan cara ”forum internal”. Dengan kata lain, jika mereka sadar bahwa mereka memiliki alasan-alasan untuk proses anulasi, mereka diteguhkan untuk menerima Ekaristi, meskipun tidak ada persetujuan formal peradilan diberikan. Dalam praktiknya, banyak paroki di daerah urban dan sub-urban memberikan izin dengan agak mudah pada orang-orang katolik yang bercerai atau menikah kembali untuk menerima Ekaristi dengan sedikit kekhawatiran akan adanya penolakan dan kritik&lt;/span&gt;."&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dalam konteks Indonesia, dia menanyakan beberapa hal: seperti apa etos keluarga di Indonesia; apakah lebih cenderung bersifat komunal? Apa artinya etos keluarga tersebut bagi kehidupan sehari-hari pasangan menikah? (sayangnya kita tidak memiliki waktu lebih panjang untuk membicarakan pertanyaan-pertanyaan itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dalam diskusi itu juga muncul beberapa pertanyaan dari para partisipan, seperti: adakah cerita tentang perceraian dalam Perjanjian baru? Apa yang dikatakan Yesus tentang perceraian? Bagaimana keluarga katolik di Amerika menangani persoalan persoalan kekerasan dalam rumah tangga? Bagaimana keluarga-keluarga katolik Amerika menangani isu kesetaraan gender? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-2385730156185646386?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/2385730156185646386/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=2385730156185646386&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/2385730156185646386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/2385730156185646386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2008/01/pernikahan-atau-keluarga.html' title='Perkawinan atau Keluarga?'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R59R1h1YUII/AAAAAAAAAIE/5qNVoon7jPc/s72-c/Photo-0124.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-5053443515668661893</id><published>2008-01-10T17:39:00.005+07:00</published><updated>2008-09-20T01:48:05.970+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita perempuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tubuh perempuan'/><title type='text'>Ritual Membuang Sial Telat Menikah? (2)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kami terbahak-bahak saling menuding mendengar pengalaman si Jawa ini. Rupanya, di antara kami masing-masing menyimpan rahasia semacam itu. Inilah pengalaman si perempuan Batak, yang sudah gonta-ganti pacar seabrek bahkan bolak-balik dilamar, tetapi belum ada satu pun yang deal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;”Kenapa juga tak kawin-kawin? Kamu malu-maluin keluarga, orang se-Belawan selalu nanyain ke Mamak,” tanya Mamaknya. Begitulah keluh kesah Mamak dan seluruh keluarga besarnya. Urusan jodoh, dalam sistem kekerabatan Batak yang kental dan rekat seperti, bisa jadi urusan seluruh kampung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;”Waktu aku pulang ke Belawan di umurku ke-27 tahun, aku dibawa ke dukun. Aku seperti kerbau dicocok hidung, tidak bisa menolak, karena ditangisi Mamakku. Entah apa dibilang dukun itu, aku tidak tahu. Dia membuka kertas lusuh, membaca di depanku, dan katanya ada menghalangi jalan jodohku. Setelah itu, aku tidak tahu apa yang dia bilang sama Mamakku.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style=";font-family:georgia;font-size:100%;" id="fullpost"  &gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dan inilah kehebohan yang terjadi beberapa hari kemudian. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;”Pagi-pagi sebelum matahari terbit, saat aku bangun tiba-tiba Mamakku menimpuk keningku dengan telur. Bau telur itu tidak enak karena busuk. Rupanya itu telur yang sudah tiga hari diperam (dierami). Setelah keningku ditimpuk dengan telur busuk itu, aku dibawa ke kamar mandi. Dimandiin sama Mamakku. Bayangkan umurku sudah 27 tahun dimandiin telanjang sama Mamakku. Mandinya pun pakai air yang mengalir, bukan air bak. Setelah mandi, aku dililit dengan kain panjang, lalu digendong Bapakku. Geli pula aku segedhe itu digendong Bapakku! Selesailah ritual itu, bahkan sebelum matahari terbit.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kami tidak bisa menahan tawa mendengar bagaimana teman Batak ini bercerita sambil memperagakan ”ritual” yang pernah dijalaninya itu. Selang beberapa tahun berikutnya, saat teman ini pulang kampung, lama-lama Mamaknya ini diam tidak bertanya-tanya. Temanku mencandain Mamaknya, ”Mak, aku tidak kau mandiin lagi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;”Bosan aku!” jawab Mamaknya. ”Entah kau ini anak apa? Bikin orangtua susah.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;”Ah, kenapa begitu Mak. Aku &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; happy-happy saja!” kata temanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;”Terserahlah apa maunya Tuhan Yesus. Tapi aku tidak ikhlas!” kilah Mamaknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;”Lho?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;”Aku mau mati begini (temanku memperagakan tangannya lurus di samping), bukan begini (tangannya ditangkupkan – ditaruh di perut),” jawab Mamaknya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Rupanya, dalam adat Batak-nya, jika ibunya mati dan semua anak-anaknya sudah menikah (tidak punya tanggungan lagi), tangannya akan ditaruh lurus; sementara jika masih memiliki anak yang belum menikah (masih ada tanggungan), tangannya ditangkupkan – ditaruh di perut. Kata Mamaknya, ”Mati dengan tangan lurus lebih tenang rohnya daripada tangan ditangkupkan di perut.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sekarang, jika teman Batak ini pulang kampung tidak ada lagi yang berani mengganggunya! Tetapi tetap saja, Mamaknya rajin menyimpankan emas-emas untuknya, untuk dipakai di pesta pernikahannya kelak. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ternyata teman kami yang berasal dari &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt; juga punya cerita. Di antara adat mereka terdapat ritual serupa. Ritual untuk membuang sial ”susah jodoh”. Ritual ini, katanya dijalankan di keluarga-keluarga keturunan Melayu. Nama ritual ini, dalam bahasa di Kalimantan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, disebut ”pepas”. Jadi di-pepas intinya sama dengan di-ruwat dalam bahasa Jawa, dan entah apa istilahnya dalam bahasa Batak. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Begitulah, ritual ini biasanya direncanakan oleh keluarga dan kerabat. Biasanya dilakukan untuk muda-mudi yang belum ketemu jodohnya di umur yang dianggap sudah ”kelewat tua”. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;”Malamnya para Ibu ini merendam beras. Esok paginya beras itu ditumbuk menjadi tepung. Setelah itu, ada Ibu yang dituakan (atau si ibu kandung) mengambil sejenis tubuhan yang biasa tumbuh di pekuburan, batang dengan daunnya. Batang daun itu dimasukkan ke tepung beras itu. Setelah itu, daun batang itu ditepuk-tepukkan ke sekujur tubuh kita sambil berputar-putar dengan gumaman doa.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Alhasil, kata temanku, sekujur tubuh jadi putih karena siraman tepung. Dan, seluruh kampung serta kerabat tahu apa yang terjadi dengan kita. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;”Itulah kenapa aku selalu berbohong pada keluargaku, bahwa aku punya pacar di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Supaya luput dari ritual yang cukup memalukan itu,” kata temanku dari &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt; itu. Hehehe... ada-ada saja, hingga harus pakai jurus berbohong untuk menghindari ritual membuang sial ”susah jodoh”, ”telat nikah” atau apalah namanya itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Giliran ceritaku? Tidak Sekali – dua kali orangtuaku pernah bertanya ini itu. Lalu kujawab dan jelaskan. Di akhir penjelasanku, aku mengancam tidak akan pulang kampung. Rupanya manjur juga jurus itu, mereka tidak pernah mengungkit-ungkit lagi. Aku selamat selama bertahun-tahun tidak pernah ditanya-tanya. Tetapi, jangan salah, diam-diam Ibuku masih menyelipkan dalam doa rosario-nya, supaya aku segera ketemu jodoh. Walaaahhhh sama saja!!!!!!!!!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sepanjang bercerita, kami tidak henti-hentinya tertawa. Ternyata masing-masing kami punya ”pengalaman rahasia”. Walaupun kami ini termasuk orang-orang yang menghargai tradisi, kami tokh merasa konyol karena kami ”dipaksa” menjalaninya. Obrolan kami berhenti dan bubar saat azan subuh berkumandang. Kami sampai lelah tertawa.... &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-5053443515668661893?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/5053443515668661893/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=5053443515668661893&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/5053443515668661893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/5053443515668661893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2008/01/ritual-membuang-sial-telat-menikah-2.html' title='Ritual Membuang Sial Telat Menikah? (2)'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-6487782102113772209</id><published>2008-01-10T17:19:00.001+07:00</published><updated>2008-09-20T01:44:44.527+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita perempuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tubuh perempuan'/><title type='text'>Ritual Membuang Sial Telat Nikah? (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R4XzwuUytPI/AAAAAAAAAHs/W-6Zd00s3dU/s1600-h/dpsb.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 191px; height: 226px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R4XzwuUytPI/AAAAAAAAAHs/W-6Zd00s3dU/s320/dpsb.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153793366989911282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Semalam saya punya obrolan menarik dan lucu dengan beberapa teman di rumah. Obrolan sampai pagi itu sangat lucu, membuat kita tertawa terbahak-bahak. Kita bercerita tentang ”nasib” menjadi perempuan lajang yang sudah cukup umur. Kita perempuan berlima umurnya sudah di atas 30 tahun semua, masing-masing dengan pekerjaan untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bisa hidup lumayan dan ”&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;tidak tergantung” orang lain. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kami ngobrol banyak hal. Kami juga bercerita tentang mantan pacar kami masing-masing, dan akhirnya kenapa kami belum juga memutuskan untuk menikah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tanpa diduga, sepanjang obrolan keluar ”rahasia” masing-masing teman. Ternyata, kami masing-masing punya pengalaman yang unik dan ”lucu”, yang membuat kami terbahak-bahak sepanjang malam sampai pagi sehubungan dengan status kami sebagai lajang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Rupanya hal lazim, orang lain (baik sanak kelaurga maupun tetangga atau bahkan orang sekampung) ikut meributkan status kita yang melajang di umur kita yang tidak timur lagi (maksudnya tidak muda). Hahaha... Meributkan itu termasuk berbagai upaya mencarikan jodoh kita atau berbagai upaya lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kami berbagi cerita di antara kami tentang berbagai ”upaya” itu. Ada kesamaan, bahwa ”melajang” kami itu dirasa (dianggap) karena ada ”kesialan”, ”ketidakberuntungan” hingga ”ada penghalang”. Padahal kami menikmati status melajang, dan tidak pernah menganggap melajang terlalu lama karena ada faktor ”sial”. Buat kami, yang namanya sial adalah kalau punya pacar pembohong!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nah inilah bagian serunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sebut saja Nina, teman Jawaku ini umurnya 37 tahun, bekerja sebagai guru SMA. Awalnya malu-malu dia bercerita sebelum akhirnya terbahak-bahak dengan pengalamannya sendiri. Empat tahun lalu, pada suatu kesempatan pulang kampung, dia dipanggil keluarganya, ”diceramahi” soal jodoh. Teman ini tidak berkutik berhadapan dengan keluarga besarnya. Diam saja, karena tidak tahu mesti bilang apa. Esok paginya, dia diantar dua kakak perempuannya pergi ke orang pinter. Di tempat orang pinter itu, temanku diminta memberikan tangannya. Orang itu membaca tangannya. ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tanganmu ini gelap&lt;/span&gt;,” kata orang pinter itu. Lalu orang pinter itu mengatakan kalau ia akan membersihkan tangannya yang ”gelap” itu, yang menghalangi jodohnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Setelah itu, si orang pinter itu ”&lt;i style=""&gt;nyembur&lt;/i&gt;” (meludah) di kepala temanku. Selesai itu, si orang pinter itu menyuruh temanku untuk mandi malam tujuh kali (jam 12 malam) dengan bunga tujuh rupa serta berpuasa Selasa Jumat. Lebih baik lagi jika bisa diruwat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;”Aku bingung sendiri, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;” kata temanku, ”&lt;i style=""&gt;Kok aku ya mau menuruti&lt;/i&gt;.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jadi, selama di kampung, mandilah temanku ini dengan bunga tujuh rupa setiap tengah malam. Sehabis mandi, dia juga harus ”&lt;i style=""&gt;gedruk&lt;/i&gt;” (menginjak dengan keras) tanah. ”&lt;i style=""&gt;Untuk menginjak kesialan&lt;/i&gt;,” katanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;”&lt;i style=""&gt;Aku merasa bebas ketika harus kembali ke Jakarta&lt;/i&gt;,” kata temanku. &lt;i style=""&gt;Stop&lt;/i&gt; itu mandi kembang tujuh rupa! ”&lt;i style=""&gt;Herannya, hari begini, kok aku ya nurut saja ya?&lt;/i&gt;” Oaalaah &lt;i style=""&gt;Simbok&lt;/i&gt;!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Lalu saya teringat kejadian beberapa tahun lalu. Seorang teman di rumah, suatu sore membagikan ”&lt;i style=""&gt;bancakan&lt;/i&gt;” (nasi tumpeng dengan sayuran). Dalam tradisi Jawa, jika orang membuat ”&lt;i style=""&gt;bancakan&lt;/i&gt;”, biasanya punya intensi tertentu. ”&lt;i style=""&gt;Wah, ada apa ini?&lt;/i&gt;” kata saya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ah, cuma ingin selamatan saja&lt;/span&gt;,” kata temanku. Usut punya usut, dia habis mengunjungi ”orang pinter” dan minta di-&lt;i style=""&gt;entengin&lt;/i&gt; jodohnya. Syaratnya, dia harus buat ”&lt;i style=""&gt;bancakan&lt;/i&gt;” dan berpuasa. Hahaha... aku menceritakan kejadian itu sambil menahan geli. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Namanya juga usaha!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ngomong-ngomong, sebenarnya pada kesempatan lain, mandi dengan bunga tujuh rupa itu sangat menyenangkan. Bahkan untuk itu, kita harus membayar mahal. Mau mencoba? Pergi saja ke rumah spa, ada lho paket berendam dengan bunga tujuh rupa. Ditanggung tubuh wangi keluar dari rumah spa. Namun soal sesudahnya ketemu jodoh atau tidak, itu urusan lain. Hahaha... &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; (Ada sambungannya)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-6487782102113772209?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/6487782102113772209/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=6487782102113772209&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/6487782102113772209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/6487782102113772209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2008/01/ritual-membuang-sial-telat-nikah-1.html' title='Ritual Membuang Sial Telat Nikah? (1)'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R4XzwuUytPI/AAAAAAAAAHs/W-6Zd00s3dU/s72-c/dpsb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-5088320947548785374</id><published>2008-01-10T16:14:00.002+07:00</published><updated>2008-09-20T01:52:39.776+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama-agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tubuh perempuan'/><title type='text'>Tubuh Sakral Perempuan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Apa yang Anda pikirkan tentang gambar-gambar yang ada dalam tulisan ini? Pornografi? Pertama kali melihatnya, kita mungkin menyangka itu adalah gambar-gambar pornografi. Ya, tubuh-tubuh perempuan itu ta&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;mpak sangat vulgar. Tetapi, tunggu dulu!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R4XjieUytKI/AAAAAAAAAHE/q_BXK31KfMM/s1600-h/P1010010.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 212px; height: 207px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R4XjieUytKI/AAAAAAAAAHE/q_BXK31KfMM/s320/P1010010.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153775529990730914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saya sendiri yang membuat foto-foto itu, sekitar awal bulan Oktober tahun 2007 lalu. Relief (?) tubuh-tubuh perempuan itu saya temukan di tembok di pusat komunitas Dayak Hindu Budha Bumi Segandu di Losarang – Indaramayu. Daripada saya salah menjelaskan, lebih baik saya&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; kutipkan dari penjelasan yang dituliskan dalam tulisan ”Silsilah Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span id="fullpost"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;...Silsilah kami yang bermula dirintiskan oleh Bapak Takmad&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; Diningrat dengan melalui proses kesabaran yang tidak terbatas dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; cara mengkaji antara salah dan benar dan diwujudkan ke dalam suatu pengujian dengan cara pengabdian kepada anak dan istri yang berpedoman pada sejarah alam ngaji rasa yang mengandung makna:&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;sejarah adalah      merupakan sebagai sumber dari segala sumber. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Silsilah peradaban kehidupan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;alam yang      mengandung makna sebagai wadah dari &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;berbagai partikel kehidupan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngaji rasa&lt;/span&gt;      yang berarti mengkaji perasaan individu untuk sepuas mungkin memplasarkan perasaan      ke dalam pendirian manusia yang sebenarnya karena waktu alam menurunkan      sekian banyak manusia sealam yang mempelajari dan yang dipelajari tidak      ada yang tahu karena isi daripada semua itu ada pada dalam diri individu      manusianya masing-masing dari dasar naluri yang paling dalam.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R4XvROUytOI/AAAAAAAAAHk/x8EXoRGHtsM/s1600-h/b.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 301px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R4XvROUytOI/AAAAAAAAAHk/x8EXoRGHtsM/s320/b.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153788427777520866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dengan melalui proses ajian dan ujian itulah Bapak Takmad Diningrat mempunyai kelebihan ngaji rasa dengan adanya ucapan dan kenyataan. Untuk itu secara langsung dan tidak langsung beliau menjadi wadah atau sebagai pelayan dari berbagai elemen masyarakat dengan tidak memandang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kedudukan, status, profesi, karena dalam pandangan ngaji rasa bahwa setiap makhluk adalah sama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dan dari situ baru ada elemen masyarakat dengan dasar dari berbagai elemen masyarakat yang ingin menyatu atau mempelajari kelebihan sejarah alam ngaji rasa. Dan karena sudah saatnyalah makan dirintiskan istilah Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu, yang artinya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Suku      adalah kaki, yang bermakna masing-masing individu mempunyai tujuan      masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dayak yang      berarti ngayak dari sekian banyaknya manusia. Mengadakan pilihan antara      salah dan benar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Hindu      ialah awal manusia sebelum lahir, terlebih dahulu ada dalam      kandungan/rahim dari seorang ibu. (foto ke-1)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Budha yang      berati dalam istilah bahasa Jawa yaitu &lt;i style=""&gt;wuda&lt;/i&gt;      yang berarti telanjang, karena diambil awal manusia terlahir dalam keadaan      &lt;i style=""&gt;wuda&lt;/i&gt;/telanjang. (foto ke-2)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bumi Segandu adalah dasar sebagai pusar      bumi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Indramayu      yang bermakna ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Darma Wong Tua&lt;/span&gt;” yang merupakan sebagai awal. Namun tidak      diketahui waktu awal dan asalnya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dengan adanya dasar menyatu Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandhu Indramayu adalah bukan suatu lembaga persatuan atau organisasi, melainkan komunitas untuk merehabilitasi dasar, ajaran dan watak masing-masing individu ke dalam dasar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngaji rasa&lt;/span&gt;. ...&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 39.75pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dari catatan dan pengamatan selama saya berada di komunitas tersebut, beberapa hal yang langsung menarik perhatian saya adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;simbol-simbol feminin (perempuan, tubuh perempuan); perempuan dan anak memiliki kedudukan penting sebagai ”guru” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;laki-laki yang bertelanjang dada dan tidak beralas kaki, yang menjadi ungkapan hidup menyatu dengan alam. Bahkan mereka pun tidak membunuh nyamuk yang mengigit mereka. Tidak membunuh binatang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Cara hidup vegetarian; menghargai air, tanah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R4XrAOUytMI/AAAAAAAAAHU/V95RFGMYs14/s1600-h/a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 224px; height: 168px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R4XrAOUytMI/AAAAAAAAAHU/V95RFGMYs14/s320/a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153783737673233602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saya belum terlalu kenal dengan komunitas ini. Namun melihat cara hidup dan pandangan hidup mereka, saya cukup salut dengan mereka. Keberadaan mereka ada di tengah-tengah masyarakat yang situasinya cukup modern dan konsumtif, tentu saja bukan hal yang mudah. Ketika komunitas ini mendapatkan fatwa sesat dan harus dibekukan/dibubarkan dari &lt;/span&gt;Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Indramayu (September 2007), saya merasa sangat sedih dan prihatin. (Tulisan ini semestinya sudah di-publish tahun lalu)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-5088320947548785374?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/5088320947548785374/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=5088320947548785374&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/5088320947548785374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/5088320947548785374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2008/01/tubuh-sakral-perempuan.html' title='Tubuh Sakral Perempuan'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/R4XjieUytKI/AAAAAAAAAHE/q_BXK31KfMM/s72-c/P1010010.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-9130362419113879924</id><published>2007-10-22T17:17:00.001+07:00</published><updated>2008-09-20T01:56:10.557+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama-agama'/><title type='text'>Perempuan dan Sesembahan Sesaji</title><content type='html'>Ketika di Bali beberapa waktu lalu, saya sempat jalan ke pasar tradisional mencari oleh-oleh makanan khas Bali. Di pasar, dijual banyak sekali bunga segar, seperti bunga teratai, kamboja, kantil, kenikir dll. Bunga-bunga segar itu kebanyakan digunakan untuk ”sesaji”. Sepulang dari pasar, saya melihat seorang perempuan sedang berdoa dan mempersembahkan sesaji bunga di tempat pemujaan di pojokan rumah di mana saya menginap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat perempuan yang sedang mempersembahkan sesaji itu, saya lalu teringat dengan sebuah obrolan antara saya dan seorang teman perempuan dari Bali. Teman saya ini, Luh Sari, adalah satu-satunya anak perempuan di keluarganya. Dan ibunya sudah meninggal. menurutnya, dalam adat Bali, perempuanlah yang berkewajiban membuat dan melakukan sesembahan sesaji setiap hari. Rutinitas sesaji (adat &amp;amp;keagamaan) itu, menurut Luh Sari, menjadi rutinitas hariannya. ”&lt;em&gt;Kewajiban dan keterikatan seumur hidup bagi perempuan&lt;/em&gt;,” katanya, ”&lt;em&gt;Jika ada perempuan lain di rumah mungkin bisa gantian.” Itulah alasan terbesar Luh Sari kenapa sulit bagi dia untuk pergi atau beraktivitas ke luar&lt;/em&gt; kota berhari-hari. &lt;span id="fullpost"&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/Rx2u8_PmQSI/AAAAAAAAAG4/v052jLTnzgg/s1600-h/sesaji.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 284px; height: 279px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/Rx2u8_PmQSI/AAAAAAAAAG4/v052jLTnzgg/s320/sesaji.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5124444313809731874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika saya di Sumba Barat tahun lalu, saya juga mendengar cerita tentang perempuan dan sesaji untuk &lt;em&gt;Marapu&lt;/em&gt; (para leluhur). Di daerah Kodi, saya menjumpai (adat dan kepercayaan) &lt;em&gt;Marapu&lt;/em&gt; masih cukup kuat dan berpengaruh. Dalam peribahadan (sesembahan) kepada &lt;em&gt;Marapu&lt;/em&gt;, terdapat pemimpin atau imam, yang disebut &lt;em&gt;ratu&lt;/em&gt;. Bahkan di Kodi, &lt;em&gt;ratu&lt;/em&gt; atau imam ini tidak hanya dipegang laki-laki, tetapi juga perempuan. Dalam peribadahan kepada &lt;em&gt;Marapu&lt;/em&gt;, selain imam, juga terdapat dua perempuan yang bertugas menyiapkan sesaji persembahan. Atau, istrilah yang menyiapkan sesaji jika peribadahan dilakukan dalam keluarga. Kedudukan sesaji (berikut perempuannya) menjadi penting, karena kalau tidak ada sesaji (dan perempuan yang menyiapkannya), peribadahan kepada &lt;em&gt;Marapu&lt;/em&gt; tidak bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ternyata saya pun pernah melakukan hal yang sama yang dilakukan perempuan Bali atau Sumba tersebut, membuat dan menaruh sesaji. Ketika saya di SD – SMA, saya diminta nenek saya untuk membantunya membuat dan menaruh sesaji. Kakek dan nenek saya masih memegang kepercayaan Kejawen. Jadi, setiap hari Kamis (malam Jumat), saya membeli &lt;em&gt;kembang&lt;/em&gt; &lt;em&gt;setaman&lt;/em&gt; (mawar, melati, kantil, kenanga). Selain &lt;em&gt;kembang&lt;/em&gt; &lt;em&gt;setaman&lt;/em&gt;, biasanya juga dengan &lt;em&gt;pancenan&lt;/em&gt; (sesaji) rokok, kopi dan teh dsb. Dan biasanya juga perempuan yang menyiapkan dan menaruh sesajinya. Laki-laki yang akan mendoakan. Sepertinya, ”sesaji” (atau ”persembahan”) terdapat dalam hampir semua sistem kepercayaan (bahkan juga beberapa agama besar). Saya sebenarnya tertarik memikirkan fenomen ini – hubungan perempuan dan sesaji – lebih lanjut, namun belum punya cukup waktu. Siapa tahu ada yang tertarik membicarakannya? &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-9130362419113879924?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/9130362419113879924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=9130362419113879924&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/9130362419113879924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/9130362419113879924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2007/10/perempuan-dan-sesembahan-sesaji.html' title='Perempuan dan Sesembahan Sesaji'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/Rx2u8_PmQSI/AAAAAAAAAG4/v052jLTnzgg/s72-c/sesaji.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-6227600838358554300</id><published>2007-10-05T16:34:00.001+07:00</published><updated>2008-09-20T02:00:20.510+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik feminis'/><title type='text'>Perempuan dan Dapur Pastoran</title><content type='html'>Tadi pagi, sekitar pukul 07.00, saya menelepon seorang pastor untuk suatu keperluan. Setelah berbincang beberapa saat di telepon, saya katakan, ”&lt;em&gt;Selamat menikmati sarapan, ya&lt;/em&gt;!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor itu menjawab, ”&lt;em&gt;Terimakasih, tapi sarapannya baru disiapkan&lt;/em&gt;!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya asal ngomong saja menjawab, ”&lt;em&gt;Enak ya jadi pastor, tidak pernah pusing urusan makan. Semua sudah terhidang di meja makan. Tidak seperti saya, kalau mau makan harus cari-cari atau masak dulu&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor itu segera menyahut, ”&lt;em&gt;Hmm... makanan memang selalu ada. Tapi... bayangkan butuh satu jam atau lebih ibu-ibu itu menyiapkan sarapan saja&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”&lt;em&gt;Maksudnya&lt;/em&gt;?” tanya saya dengan nada suara agak tinggi. Ha...ha... ha... saya terpancing juga. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RwYRhvPmQKI/AAAAAAAAAFU/pnbn-WvT5Ps/s1600-h/ibu+topeng.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117797297868390562" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RwYRhvPmQKI/AAAAAAAAAFU/pnbn-WvT5Ps/s320/ibu+topeng.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;”&lt;em&gt;Saya sebenarnya ’kesel’, tapi tidak tahu mau bilang apalagi. Takut menyakiti hati orang. Iya, setiap pagi ’kan rantangan sarapan diantar bergiliran ke pastoran dari keluarga-keluarga. Itu sudah cukup. Tapi setiap pagi juga selalu ada ibu-ibu yang datang menyiapkan sarapan itu. Saya sudah katakan berulang kali tidak perlu menyiapkan seperti itu. Coba bayangkan, rantangan itu ’kan sudah diantar ke pastoran, saya sendiri atau pembantu di pastoran bisa menyiapkannya sendiri di meja makan. Saya paling butuh waktu 15 menit untuk menyiapkannya. Jadi sebenarnya ibu-ibu itu tidak perlu datang ke pastoran hanya untuk menyiapkan makanan. Lagian lama sekali mereka menyiapkan, saya bingung apa saja yang mereka lakukan. Saya sudah capek mengatakan itu tetapi ya tetap saja ibu-ibu itu datang. Mereka semangat sekali melayani&lt;/em&gt;.” Pastor itu menjelaskan pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung tertawa mendengar penjelasan dan kegusaran pastor itu. Saya katakan dalam nada bercanda, ”&lt;em&gt;Ha ha ha ... kok saya bingung ya mengartikan, apakah itu semangat atau kebodohan ya. Tipis sekali beda antara ”semangat melayani” dan ”kebodohan”. Tapi sepertinya bodoh sekali&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”&lt;em&gt;Bingung juga! Saya kadang tanya ke ibu-ibu itu kalau sedang menyiapkan sarapan di pastoran, bukankah mereka biasanya pagi-pagi sibuk menyiapkan sarapan di rumah, jadi lebih baik menyiapkan sarapan di rumah saja. Tapi susah mereka menerima. Jadi saya mesti bagaimana lagi? Coba beritahu saya!&lt;/em&gt;” Tampaknya pastor itu benar-benar tidak tahu lagi apa mesti dilakukan untuk mencegah ibu-ibu itu datang menyiapkan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”&lt;em&gt;Walau banyak hal lebih penting untuk dilakukan, tetapi tampaknya hanya itu yang bisa dan biasa dikerjakan ya? Kasihan perempuan, ya?&lt;/em&gt;” jawab saya pada pastor itu sambil tertawa, walaupun rada rasa perih di hati. Aduh, hari gini? Pertanyaan sekaligus kenyataan dan pernyataan. Jika saja pastor itu tahu, sebenarnya sebagai perempuan saya sangat malu. Saya mengasihani diri saya sendiri sebagai perempuan. Kenapa perempuan hanya berani mengklaim dapur dan meja makan saja, padahal banyak tempat bisa dimasuki? Sedih jika memikirkannya. Dapur dan meja makan, di situlah perempuan bisa berkuasa dan memiliki otoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini salah? Saya juga tidak sedang menyalahkan para perempuan yang sibuk berkutat di dapur dan menyiapkan meja makan. Hanya saja, sadarkah perempuan, inilah &lt;em&gt;mind-set&lt;/em&gt; di balik semua &lt;em&gt;behaviour n values&lt;/em&gt; yang perempuan hanya &lt;em&gt;taken for granted&lt;/em&gt; dari nenek-nenek moyang mereka. &lt;em&gt;This is women’s knowledge, but no doubt this is not feminist’ knowledge. Watch out! This is an entrapment.&lt;/em&gt; Iya, memang itulah ”pengetahuan” perempuan yang dimiliki secara turun temurun, tetapi jika dia seorang feminis dia akan tahu jika pengetahuan perempuan seperti itu adalah kontruksi pengetahuan yang disituasikan secara sosial dalam tubuh pengetahuan yang seksis. Walaupun menyedihkan, inilah kenyataannya. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-6227600838358554300?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/6227600838358554300/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=6227600838358554300&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/6227600838358554300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/6227600838358554300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2007/10/perempuan-dan-dapur-pastoran.html' title='Perempuan dan Dapur Pastoran'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RwYRhvPmQKI/AAAAAAAAAFU/pnbn-WvT5Ps/s72-c/ibu+topeng.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-2979491127041662195</id><published>2007-10-04T17:48:00.001+07:00</published><updated>2008-09-20T02:03:30.831+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gerakan perempuan'/><title type='text'>WKRI: Kok Ya Tidak Beranjak Jauh...</title><content type='html'>Kemarin siang aku bertemu dengan seorang ibu ketua ranting WKRI di sebuah paroki besar di Jakarta Barat. Kami bertemu dan berbincang tentang kemungkinan membuat kegiatan bersama antara ibu-ibu WKRI dengan Mitra ImaDei (lembaga di mana saya aktif). Kegiatan yang kami maksudkan adalah kegiatan untuk pendidikan PRT (pekerja rumah tangga) atau biasa disebut pembantu rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Retno, yang menjadi ketua ranting ini menceritakan rencananya, dan bagaimana kami akan membantunya. Katanya, ”&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Ketika dalam pembicaraan dengan ibu-ibu WK lainnya, mereka berpesan supaya pendidikan PRT ini nantinya hanya pendidikan tambahan pengetahuan dan ketrampilan. Dan jangan bicara tentang kebijakan atau peraturan&lt;/em&gt;.”&lt;/span&gt; Saya paham apa yang dimaksudkan oleh para ibu itu. Perbincangan kami berlanjut. Walaupun tidak banyak menjanjikan program ini akan berjalan seperti yang saya pikirkan, saya mencoba menaruh harapan. Tiba-tiba pikiran nakal saya muncul, ”Jangan terlalu tinggi harapannya nanti bakalan kecewa.” &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenal WKRI sedari kecil, karena Ibuku anggota WKRI di paroki. Masih kuingat macam-macam kegiatan Ibuku dan teman-temannya di WKRI. Mereka mengatur dan menyiapkan makan untuk pastor, menata bunga untuk misa, arisan sebulan sekali, novena, ziarah, rapat-rapat, menjadi seksi konsumsi dan mencari dana di kepanitiaan paroki, berjualan untuk mencari dana kegiatan. Itu kegiatan Ibuku sebagai anggota WKRI lebih dari 30 tahun lalu. Dan kemarin ketika aku berjumpa dengan Ibu Retno, ketika aku sendiri sudah tidak muda lagi, aktivitas ibu-ibu WKRI tetap saja hampir sama, tidak beranjak jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Mbak, kita anggotanya 50-an orang. Yang aktif separonya. Kalau kegiatan ziarah atau novena biasanya ramai. Kegiatan ya arisan, ziarah, novena, turut di kepanitiaan paroki di bagian konsumsi, sekretaris atau mencari dana. Sulit mengajak mereka melakukan kegiatan yang sifatnya sosial kemasyarakatan. Saya pernah mengajak mereka membentuk koperasi konsumsi, karena kita semua kan ibu rumah tangga yang pasti banyak kebutuhan konsumsi. Itu kan bisa meningkatkan kegiatan ekonomi kelompok. Mereka jawab, ’Aduh nanti kita tidak bisa belanja sekalian jalan-jalan di mall atau supermarket.’ Mereka padahal rajin mengumpulkan uang kalau untuk pergi ziarah. Ziarah itu sudah ke mana-mana, bahkan di WKRI cabang, ziarah ke Lourdess atau Yerusalem atau ke Roma itu program tahunan&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Walaaah kok ya begitu-begitu saja yang dikerjakan ibu-ibu WKRI ini. Apa mereka tidak belajar dari sejarah para pendiri WKRI dahulu. WKRI didirikan dengan suatu tujuan mulia untuk mengangkat derajat dan kehidupan yang lebih baik bagi perempuan. Waktu itu malah didirikan supaya bisa secara kolektif bersuara dan berjuang untuk membantu para buruh perempuan. Dan ketika menjadi institusi besar mereka memilih jalur menjadi ”ormas” (organisasi masyarakat). Piye tho? Sayang ya dengan kekuatan besar yang dimiliki ibu-ibu WKRI dan telah menggurita dari DPP, DPD, Cabang hingga ranting, kok kegiatannya belum sebesar nama, visi dan misinya. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-2979491127041662195?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/2979491127041662195/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=2979491127041662195&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/2979491127041662195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/2979491127041662195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2007/10/wkri-kok-ya-tidak-beranjak-jauh.html' title='WKRI: Kok Ya Tidak Beranjak Jauh...'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-5004658909311701026</id><published>2007-10-01T19:45:00.002+07:00</published><updated>2008-09-20T02:05:58.598+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gerakan perempuan'/><title type='text'>Uskup yang Peduli Persoalan Perempuan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RwZW1vPmQNI/AAAAAAAAAFs/cQl5qPC2qkY/s1600-h/crop+mgr.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117873507768090834" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 238px; CURSOR: hand; HEIGHT: 211px" height="238" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RwZW1vPmQNI/AAAAAAAAAFs/cQl5qPC2qkY/s320/crop+mgr.jpg" width="289" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;Mengenang Mgr. Benyamin Yosef Bria Pr&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar bulan Mei 2007, saya bertemu dan cukup lama berbincang-bincang dengan almarhum Mgr. Benyamin Yosef Bria Pr (Uskup Denpasar). Dalam perjumpaan itu, Mgr. Bria memulai percakapan dengan ungkapan kesedihannya karena salah satu adik perempuannya yang tinggal di Atambua baru beberapa waktu meninggal saat melahirkan. Anaknya yang kembar bisa lahir selamat, namun ibunya meninggal karena pendarahan berat. Dia katakan, “&lt;span style="color:#003333;"&gt;&lt;em&gt;Kematian adik saya sangat menyedihkan. Saya sangat prihatin dengan fasilitas kesehatan bagi ibu melahirkan di NTT. Banyak ibu mati melahirkan, juga bayi yang mati. Bahkan walaupun kita punya uang, itu tidak dapat menolong, karena fasilitas sangat terbatas bahkan buruk&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa kehilangan seorang uskup yang memiliki kepedulian besar terhadap persoalan perempuan. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kepedulian Benyamin Yosef Bria Pr itu menjadi praksis ketika kembali dari belajar di Amerika, saat bekerja di Komisi Keadilan dan Perdamaian di Keuskupan Atambua (1995-2000). Karena kepedulian yang besar terhadap ketidakadilan dan kekerasan yang dialami perempuan di Atambua dan sekitarnya, apalagi waktu itu ada krisis dan konflik di Timor Leste (jajak pendapat), membuatnya dijuluki “pastor para perempuan”. Kepedulian itu semakin nyata dalam praksis ketika diangkat menjadi Uskup Denpasar April 2000. Selain praksis, kepedulian itu juga tertuang dalam pikiran-pikirannya, misalnya dalam kesediaannya diundang berbicara mengenai kekerasan terhadap perempuan. (lihat tulisannya dalam buku Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Bagaimana Menyikapinya: Kajian Teologis Dan Yuridis, &lt;a href="http://www.bookfinder.com/author/nursyahbani-katjasungkana/"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Nursyahbani Katjasungkana&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt; and &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.bookfinder.com/author/benyamin-y-bria/"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Benyamin Y. Bria&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt; and &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.bookfinder.com/author/leo-kleden/"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Leo Kleden&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, Yayasan Pustaka Nusatama Indonesia, 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, saya teringat dengan sebuah wawancara yang saya lakukan dengan Mgr. Bria Pr di bulan November 2002. Berikut adalah beberapa petikan wawancara tersebut. Saya angkat di sini, karena ada beberapa gagasan dari Mgr. Bria yang sangat reflektif dan inspiratif dalam menanggapi isu perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana awalnya Mgr. Bria Pr bisa memiliki perhatian persoalan gender dan perempuan?&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;“Saya mengenal gender sewaktu di Amerika, ketika mengambil studi Hukum Gereja di The Catholic University of America, Washington DC. Itu pertengahan tahun 1988. Sebelum itu, saya dididik lain sekali. Saya merasa heran kok hukum gereja diajar oleh suster, beberapa dosen Kitab Suci juga perempuan. Banyak juga dosen awam, bahkan antaranya perempuan-perempuan. Pembimbing tesis saya juga awam. Situasi itu mengherankan saya. Kemudian, saya mengamati gerakan-gerakan perempuan yang ada di sekitar kampus. Kadang-kadang saya mengikuti demonstrasi yang pro-life, pro-choice … walaupun saya tidak pro-pro, tetapi saya ikut saja. Saya ikut karena hanya ingin tahu saja, tidak apa-apa tokh kita ingin tahu. Apalagi saya ini studi hukum gereja, jadi merasa perlu tahu. Saya masuk acara diskusi-diskusi untuk dengar. Lalu saya mulai memiliki pikiran lain, juga sikap lain. Dan itu berarti mulai ada pertobatan diri. Sebenarnya untuk mengubah dunia ini harus mulai dengan mengubah diri sendiri. Tanpa pertobatan diri sendiri, tidak bisa mengharapkan orang lain untuk bertobat.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tentang wajah gereja yang patriarkis?&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;&lt;em&gt;“Bagi saya tidak menjadi soal ngomong soal patriarki, karena itulah kenyataannya. Kita lahir dan dibesarkan di situ. Kita dididik di situ, hanya dalam kurikulum yang berbeda, bahkan sejak dalam keluarga. Saya bersaudara 9 orang, 5 perempuan, dan ternyata kita dididik secara berbeda. Kita memang hidup dalam lingkup patriarki. Jadi, ya memang harus begitu, harus menatap wajah diri sendiri. Dan jika kita tidak menatap diri sendiri dan mulai mengaku kesalahan, tidak akan ada perbaikan. Dan ini harus dimulai dengan pengakuan, bukan hanya laki-laki tetapi juga perempuan harus mengaku bahwa mereka pun hidup secara patriarkis. Budaya patriarki sudah merasuk, bukan hanya dalam mental laki-laki tetapi kadang lebih-lebih tertanam dalam mental perempuan sendiri. Jadi sama-sama harus bertobat. Kita ini harus bertobat untuk memulihkan citra Allah yang telah dirusak. Masalah sebenarnya ada dalam ketidakadilan itu.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Misalnya?&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;&lt;em&gt;“Dalam pertemuan di komisi-komisi, ada rapat atau sharing, ada beberapa perempuan yang hadir. Hak bicara ‘kan semua sama, tetapi kalau perempuan diminta bicara mereka malah bilang, “Ah bapak-bapak saja yang omong, kami dengar saja, kami setuju.” Mental ini mental patriarkis yang sangat tertanam dalam mental perempuan sendiri. Maka jangan ditimpakan kesalahan kepada laki-laki saja. Ini masalah laki-laki dan perempuan, ini masalah kemanusiaan. Dan karena itu yang mengubah harus laki-laki dan perempuan.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana cara mengubahnya?&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;&lt;em&gt;“Saya contohkan di Keuskupan Denpasar. Ketika saya menjabat uskup, saya tidak menjumpai ada perempuan menjadi ketua dewan paroki, padahal itu bisa. Kalau ada peran perempuan, ya di seksi konsumsi atau bendahara. Peran yang sifatnya diam, tidak omong. Lalu saya coba di Keuskupan Denpasar, ketika mengadakan Sinode Umat, saya datang pada panitia, untuk mengundang bukan hanya laki-laki tetapi juga perempuan. Perempuan dirangkul dalam sinode untuk turut membuat keputusan-keputusan pastoral. Kalau mereka ikut diajak bicara, mereka ikut mempengaruhi decision making. Dalam hal lain, di Denpasar banyak katekis perempuan yang dikirim untuk belajar di Sekolah Kateketik di Malang dan Ruteng. Mereka studi teologi. Sekarang tidak ada larangan sekolah teologi untuk perempuan. Kalau kita memiliki teolog pempuan semakin banyak, akan semakin baik. Kami, Keuskupan Denpasar mengirim satu perempuan ke Roma untuk studi teologi.&lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Begitulah beberapa petikan wawancara saya dengan Mgr. Benyamin Yosef Bria Pr beberapa tahun lalu itu. Apakah saya bisa menemukan uskup-uskup lainnya yang memiliki kepedulian dan perhatian seperti itu? Semoga! &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-5004658909311701026?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/5004658909311701026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=5004658909311701026&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/5004658909311701026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/5004658909311701026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2007/10/uskup-yang-peduli-persoalan-perempuan.html' title='Uskup yang Peduli Persoalan Perempuan'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RwZW1vPmQNI/AAAAAAAAAFs/cQl5qPC2qkY/s72-c/crop+mgr.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-7835263868254064435</id><published>2007-10-01T18:57:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T19:14:18.178+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feminisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><title type='text'>Teologi Feminis = “Teologi Pinggiran”?</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RwDjvPPmQEI/AAAAAAAAAEk/9A3l4yR7bB8/s1600-h/awrc2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5116339577378193474" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RwDjvPPmQEI/AAAAAAAAAEk/9A3l4yR7bB8/s400/awrc2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Beberapa waktu lalu, aku sempat berbincang dengan seorang teman teolog yang kebetulan pastor. Kami berbincang tentang “teologi feminis”. Agak mengejutkan, karena teman teolog yang saya pikir cukup terbuka pikirannya ini mengatakan kemungkinan terburuknya, teologi feminis sulit memiliki prospek di masa depan (maksudnya, di Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Optimisme yang saya simpan sejenak meredup. Siapa yang saya bisa harapkan untuk membantu teologi feminis memiliki prospek? Beberapa kali, walaupun tidak kapok, saya memang merasa “dikhianati” dalam penalaran untuk memahami teologi feminis. Kadang saya ragu, apakah benar-benar ada feminis laki-laki? Yang kalau di gereja katolik kebanyakan teolog adalah laki-laki, dan biasanya laki-laki dan pastor sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam tradisi dan khasanah rimba per-teologi-an di kalangan gereja katolik khususnya di Indonesia, gagasan tentang perempuan – baik kehadirannya secara fisik di sekolah teologi maupun kehadiran non-fisik sebagai sebuah pemikiran – “sangat di belakang”. Saya gelisah dengan pemikiran ini. Apa yang terjadi? Tidak ada prospek atau tidak ada cita-cita dan mimpi? Kalau tidak ada prospek, untuk keselamatan hidup harus menumpang pada yang kuat dan berkuasa. Tidak ada prospek berarti hidup sebagai bagian dari “kawanan budak” (dalam bahasa Nitsche).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut bell hooks dalam bukunya &lt;em&gt;Feminist Theory: from Margin to Center &lt;/em&gt;(1984), berada di pinggiran berarti menjadi bagian dari keseluruhan tetapi berada di luar daripada pokok atau bagian utama. Posisi pinggiran ini mewakili posisi berbagai kelompok yang selama ini berada di dalam “ruang dan lokasi” di pinggiran, yang sering diabaikan, disingkirkan bahkan ditolak. Mereka bukan hanya seperti masyarakat urban yang miskin dan tinggal secara riil di pinggiran, melainkan juga kelompok-kelompok masyarakat lainnya yang secara sosial diposisikan di pinggiran. Kelompok-kelompok yang selama ini di dalam hubungan sosial menjadi kelompok yang subordinatif, sebagai objek, pekerja/budak dari kelompok lainnya yang dominatif, menjadi subjek, tuan. Pendeknya, posisi pinggiran ini, dalam sebuah masyarakat yang secara sosial diorganisasikan dengan struktur hirarkis, ditempati oleh mereka yang posisinya lemah – subordinatif di dalam relasi kekuasaan alamiah maupun sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RwDj7fPmQFI/AAAAAAAAAEs/-u7kv-zkRT0/s1600-h/awrc1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5116339787831590994" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RwDj7fPmQFI/AAAAAAAAAEs/-u7kv-zkRT0/s200/awrc1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam kebanyakan kamus teologi, kalau kita membuka bagian teologi feminis, selalu referensi yang dipakai akan mengacu pada teologi pembebasan, teologi hitam, bahkan teologi politik. Kedekatan antara teologi feminis dengan teologi pembebasan dan teologi hitam ini membuktikan, bahwa mereka bukan hanya berada pada satu kubu dengan beberapa persamaan, tetapi kehadiran teologi dalam satu kubu ini tersendiri menjadi sesuatu yang istimewa di dalam kancah teologi katolik maupun pengaruh di dalam Gereja pada umumnya. Teologi-teologi, yang dibangun dari sebuah posisi tidak sentral, bukan dalam grand teologi yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keistimewaan itu bisa dilihat, misalnya:&lt;br /&gt;- Ketiganya mewakili perkembangan teologi yang dibangun dari bawah, ini berbeda sekali dengan teologi tradisional yang selama ini dikembangkan Vatikan yang sangat vertikal dan top down.&lt;br /&gt;- Hadirnya perspektif lokal, dalam arti teologi-teologi ini muncul karena adanya desakan menjawab kebutuhan-kebutuhan Gereja lokal terhadap permasalahan yang ada di dalam Gereja Lokal. Misalnya teologi pembebasan di Amerika Latin yang muncul sebagai satu tanda atau upaya Gereja katolik setempat menanggapi dan menjawab kebutuhan umat setempat yang merindukan kebebasan dari rejim penindas.&lt;br /&gt;- Banyaknya unsur yang dimunculkan dari kekayaan teologi ini yang selama ini tidak mendapatkan tempat dalam Gereja, bahkan menjadi sesuatu yang baru dalam Gereja. Ini sangat terlihat sekali dalam teologi hitam atau teologi Asia, di mana teologi dikembangkan berdasarkan kekayaan nilai-nilai Gereja setempat, untuk mengurangi dominasi unsur-unsur asing yang sangat kuat seperti teologi yang sangat bias Eropasentris serta superioritas kulit putih, yang membuat umat teralienasi dari kekayaan milik sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-7835263868254064435?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/7835263868254064435/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=7835263868254064435&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/7835263868254064435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/7835263868254064435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2007/10/teologi-feminis-teologi-pinggiran.html' title='Teologi Feminis = “Teologi Pinggiran”?'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RwDjvPPmQEI/AAAAAAAAAEk/9A3l4yR7bB8/s72-c/awrc2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-6886001048798122451</id><published>2007-09-27T18:07:00.000+07:00</published><updated>2007-10-05T21:45:27.198+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><title type='text'>Women are Getting Closer to the Altar...</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RwC01fPmQDI/AAAAAAAAAEc/yiOJttr6tWY/s1600-h/misdinar.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5116288007705870386" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RwC01fPmQDI/AAAAAAAAAEc/yiOJttr6tWY/s400/misdinar.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RvuQ7PPmQBI/AAAAAAAAAEM/PQ2y6hz_lzg/s1600-h/misdinar+2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5114841149187964946" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RvuQ7PPmQBI/AAAAAAAAAEM/PQ2y6hz_lzg/s200/misdinar+2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Recently I am suprised by the facts where in some local parishes the number of altar girls are getting higher and higher, on the contrary the number of altar boys are getting lower and lower... you can see it by yourself in these photos. Make me happier... the number of lay-women deacons (”prodiakon”) also are getting more and more...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RvuPofPmQAI/AAAAAAAAAEE/Dk5hJYo4j4Q/s1600-h/prodiakon.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5114839727553789954" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RvuPofPmQAI/AAAAAAAAAEE/Dk5hJYo4j4Q/s200/prodiakon.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What do these phenomenons mean? Women are getting closer to the altar! What does it mean by ”women are getting closer to the altar”? Eventhough ordination is still far away or women’s ordination is still debatable, this step can lead far reachment... Women have more rooms in deaconate services; women have more chances to teach and preach when they lead a liturgy in the local community; women have more chances to study bible or pastoral program or ministry; women have more chances to rise their voices; women have more participations in decision making... Imagine 20 years from now... where they will be in...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-6886001048798122451?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/6886001048798122451/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=6886001048798122451&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/6886001048798122451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/6886001048798122451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2007/09/women-are-getting-closer-to-altar.html' title='Women are Getting Closer to the Altar...'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RwC01fPmQDI/AAAAAAAAAEc/yiOJttr6tWY/s72-c/misdinar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-4465992909741668687</id><published>2007-09-27T17:30:00.000+07:00</published><updated>2008-01-30T01:52:43.778+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feminisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><title type='text'>Tubuh dan Diri</title><content type='html'>Pertengahan hingga akhir Agustus 2007 lalu, saya berkesempatan mengikuti pertemuan &lt;em&gt;Young Women Doing Theology &lt;/em&gt;di Taiwan, dengan tema ”&lt;em&gt;Our Body and Self&lt;/em&gt;”. Sangat menyegarkan karena menjadi kesempatan untuk menyadari ketubuhan kita sendiri, memberi kesempatan pada tubuh untuk berbicara tentang dirinya, dan akhirnya boleh mengalami tubuh yang mengalami pembebasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berbicara tentang &lt;em&gt;broken body/self, coded body/self, imprisoned body/self&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;exploitated body/self&lt;/em&gt;. Dalam salah satu diskusi kelompok, seorang teman mengatakan, &lt;em&gt;”When the self is strong, eventhough the body is in pain, this self can still carry on the broken body&lt;/em&gt;.” Contohnya, banyak orang di sekitar kita yang tubuhnya tidak utuh atau mengalami sakit, namun ke-diri-annya masih eksis dan bertahan mengatasi keterbatasan tubuhnya. Dan sebaliknya, seorang teman lain mengajukan gagasan, ”&lt;em&gt;We often exploitate our body to get survive of the self, eventhough this body is so painful&lt;/em&gt;.” Jadi, begitulah kita hidup selalu dalam ketegangan antara &lt;em&gt;the body and self &lt;/em&gt;yang ingin ”&lt;em&gt;belong together&lt;/em&gt;” dan kenyataan &lt;em&gt;the body and self&lt;/em&gt; yang sering "&lt;em&gt;split up&lt;/em&gt;". Antara tubuh dan diri yang ingin berjalan seiring serta tubuh dan diri yang terbelah – tidak mau seiring sejalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RvucA_PmQCI/AAAAAAAAAEU/lAw62KnyOIg/s1600-h/pemakaman.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RvucA_PmQCI/AAAAAAAAAEU/lAw62KnyOIg/s320/pemakaman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5114853342600118306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sementara saya berdiskusi berhari-hari tentang tubuh/diri nun jauh di Taiwan sana, seorang teman di Jakarta masuk rumah sakit. Tubuh dan dirinyanya terbaring kesakitan  melawan penyakit lever yang parah. Beberapa kali mengalami ”tidak sadar”. Dan sakramen minyak suci pun diberikan. Doa dan harapan terus-menerus dipanjatkan untuk kesembuhannya, tapi kehendak yang terjadi lain. Teman ini tidak bisa bertahan. Dia meninggal. Betapa rapuhnya tubuh! Beberapa saat sebelumnya, kami masih bertemu, minum kopi, dan dia dalam keadaan bugar. Terbayang kembali tampang seriusnya, senyumnya, suara beratnya, tubuh kokohnya...  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari ini, saya harus mempersiapkan diri untuk menemui tubuh yang sudah membeku kaku itu. Dan di mana diri-nya kini? Saya ditatapkan pada pertanyaan bagaimana jika tubuh melawan dan tidak mau berdamai dengan sang diri.  Sehingga kalimat ”&lt;em&gt;Rest in Peace&lt;/em&gt;” menjadi pahit diterima, ketika kita belum rela menerima kematian. Orang bilang, itu sudah kehendak Tuhan. Orang bilang dia pulang ke rumah Bapa di surga. Aku bilang, aku sedang mencoba mengerti apa yang sedang terjadi bila tubuh dan diri/jiwa tidak lagi bersama...dipisahkan oleh kematian. Jika kita bisa menemukan sisa tubuh/raganya di pekuburan, di mana kita bisa menemukan diri-nya setelah kematian? Semoga memang ada surga, di mana nanti kita bisa bertemu, seperti kata banyak orang beriman. Semoga curahan kegundahan ini bisa melepas rasa kehilangan... (Jakarta, 18 September 2007, di hari kematian seorang teman) Foto: salah satu lukisan dari Kisah Jalan salib, di kapel Rumah Retret di Weetabula.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-4465992909741668687?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/4465992909741668687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=4465992909741668687&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/4465992909741668687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/4465992909741668687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2007/09/tubuh-dan-diri.html' title='Tubuh dan Diri'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RvucA_PmQCI/AAAAAAAAAEU/lAw62KnyOIg/s72-c/pemakaman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-753842908172803651</id><published>2007-05-04T18:24:00.000+07:00</published><updated>2007-05-04T19:06:13.123+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feminisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><title type='text'>Journey of Spirit</title><content type='html'>The title above is the title of my article in God Image. In this articel I wrote a reflection about my experience as feminist. I wrote the stories of my grand mother and my mother, because their strong influence upon me. My grandmother, my mother and I, myself have lived in a circle of injustice, and in some cases it was caused by patriarchy. What make it different from time to time are the forms and the contexts. I learned the nature and dynamics of patriarchy in my life context. But I can trace the damages done by the injustice of patriarchy in the life of my grandmother and my mother. What lessons can I get from the experiences of my grandmother and mother?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From my grandmother, my mother and my own experience, I found the same things in our life circle:&lt;br /&gt;· The injustice of patriarchy in the forms of discrimination, marginalization, neglect, stigma;&lt;br /&gt;· The same feeling of anger and pain because of injustice;&lt;br /&gt;· The same desire and spirit to be free from injustice;&lt;br /&gt;· Then this spirit flow into actions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The three of us – three generations of women – have experienced being neglected, discriminated against and marginalized by the patriarchal system, but we challenged and stood against it in our own ways. There are reasons for the paths that each of us takes, but at the end they lead to the path of liberation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I felt the spirit as a vital force of liberation coming up in my historical context, as it happened to my grandmother and my mother in their own historical contexts. But knowing and receiving their history, I also felt I am filled with their spirit. They inspirit me to continue on the struggle for liberation and justice for their sake, my own, and that of the next generation. Through their history, their spirits come into my existence. I see the ‘interweaving’ between history and the spirit in the life circle of our family.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you need the complete article, you can contact &lt;a href="http://www.awrc4ct.org/"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;In God Image.&lt;/span&gt; &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-753842908172803651?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/753842908172803651/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=753842908172803651&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/753842908172803651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/753842908172803651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2007/05/journey-of-spirit.html' title='Journey of Spirit'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-4860452577716817220</id><published>2007-03-08T21:41:00.000+07:00</published><updated>2008-01-30T01:48:41.092+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feminisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><title type='text'>Hari ini Hari Perempuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RfgQY3vGpcI/AAAAAAAAAB0/2qgj2oopI-Y/s1600-h/kerangka+rumah+bulat.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5041797802305693122" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RfgQY3vGpcI/AAAAAAAAAB0/2qgj2oopI-Y/s200/kerangka+rumah+bulat.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RfgKfXvGpbI/AAAAAAAAABs/IoarEq5kVM0/s1600-h/poto+rumah+bulat1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5041791316905076146" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RfgKfXvGpbI/AAAAAAAAABs/IoarEq5kVM0/s200/poto+rumah+bulat1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari ini tanggal 8 Maret 2007, berarti hari ini adalah hari perempuan internasional. Tadi pagi aku bangun kesiangan. Setelah sebentar memencet-mencet remote TV mencari berita kecelakaan pesawat Garuda kemarin di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jogjakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, lalu aku berhenti di acara Oprah Winfrey show. Ceritanya Oprah sedang ke Etiopia mengunjungi sebuah rumah sakit, namanya The Addis Ababa Fistula Hospital. Di rumah sakit ini, seorang ginekolog, namanya Drs. Catherine Hamlin merawat puluhan ribu perempuan Etiopia yang menderita fistula. Fistula adalah semacam luka pada organ reproduksi perempuan yang diakibatkan karena melahirkan anak. Hal ini banyak terjadi pada perempuan yang melahirkan di bawah umur. Kondisi ini diperburuk dengan ketiadaan bantuan medis dalam melahirkan dalam tradisi masyarakat di Etiopia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Cerita dari Etiopia itu mengingatkanku akan cerita “rumah bulat” di Timor Tengah Selatan – NTT. Orang di NTT pasti mengenal rumah bulat. Rumah ini menjadi tempat tinggal bagi perempuan melahirkan. Rumah bulat yang biasanya beratap ilalang itu biasanya memiliki balai-balai dari bambu, dan dengan alas dari tikar bambu pula atau kadang-kadang tikar daun pandan. Balai- balai ini tinggi atapnya 2 meteran, dengan pintu masuk kurang dari 1 meter – sepinggang orang dewasa, diamater rumah bulat sekitar 2,5 meter. Tengah rumah, terdapat balai-balai, dan sebuah perapian di bawahnya. Lihat foto di atas, bandingkan besarnya dengan anak-anak yang berfoto di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika perempuan melahirkan, dia akan tinggal di atas balai-balai itu dan dengan bara api di bawahnya dan asap mengepul memenuhi rumah bulat yang tidak seberapa besar itu. Bara dari api itu akan menyala siang dan malam selama 40 hari. Kayu yang dibakar pun kayu jenis tertentu, yaitu kayu kosambi atau cemara. Selama itu pula, perempuan yang melahirkan itu tidak boleh mandi, dan hanya boleh makan jagung yang ditumbuk di lesung untuk dihilangkan kulit arinya, tanpa sayur dan lauk. Selama 40 hari itu pula si perempuan yang melahirkan itu beraktivitas di dalam rumah bulat, dan sekitarnya (tidak keluar dari pekarangan rumah bulat), katanya, agar tidak diganggu oleh roh jahat yang berkeliaran. Perempuan itu akan memasak, mencuci baju, mandi dsb di dalam rumah yang biasanya berukuran 2,5 x 2,5 m. Si ibu dan si bayi akan tidur di situ selama 40 hari, di atas bara api dalam rumah bulat itu selama 40 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit membayangkan apa yang terjadi di dalam rumah bulat itu. Jika sehari dua hari masih bisa dibayangkan, tetapi 40 hari apa yang terjadi? Saya membayangkan peluh si ibu dan si bayi, asap yang harus diisap... Pernah terjadi, ibu mengalami pelepuhan kulit karena panas. Juga pernah terjadi ibu yang terbakar karena saat tidur bara apinya membesar. Dan yang sering terjadi, bayi-bayi yang juga tinggal 40 hari di rumah bulat itu mengalami infeksi saluran pernapasan atau yang disebut ispa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih sedih memikirkan begitu banyak perempuan yang nasibnya tidak beruntung. Hari ini, hari perempuan. Masih belum cukup yang kita lakukan untuk perempuan!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-4860452577716817220?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/4860452577716817220/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=4860452577716817220&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/4860452577716817220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/4860452577716817220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2007/03/hari-ini-hari-perempuan.html' title='Hari ini Hari Perempuan'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RfgQY3vGpcI/AAAAAAAAAB0/2qgj2oopI-Y/s72-c/kerangka+rumah+bulat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-7345397238041731518</id><published>2007-02-28T19:56:00.000+07:00</published><updated>2007-06-13T22:26:10.822+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Melania Commisie v Midden Java (1923)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/ReWDLkN8Y0I/AAAAAAAAABg/XHe3p_BZ9Pg/s1600-h/melania+kliniek+1935.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/ReWDLkN8Y0I/AAAAAAAAABg/XHe3p_BZ9Pg/s320/melania+kliniek+1935.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5036575993007727426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1919, Rm. WG. Greutz Lechleitner SJ menganjurkan adanya surat menyurat antara ibu-ibu katolik di Nederland dengan ibu-ibu katolik di Hindia Belanda (Yogya), dengan tujuan memulai gerak Kartini dalam kalangan katolik, khususnya meningkatkan pengetahuan perempuan pada umumnya dan gadis/perempuan katolik pada khususnya. Selain surat menyurat juga diadakan tukar menukar kerajinan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ny. Schmutzer – Hendricksz, Ny. Schmutzer van Rijckevorsel, Ny. U. LegoSeohono, Ny. R. Ay. Maria Soejadi Sasraningrat, Ny. Moerdoatmodjo pun mulai melakukan korespondensi. Tahun 1923 dibentuk “Melania Commisie v Midden Java”.  Dan kemudian dibentuk unit-unit kerja di Yogyakarta dengan Melania Convict, Semarang, Batavia, Buitenzorg, Magelang, Bandung. Pada tahun yang sama, dibentuk unit khusus Roma Katolieke Java Vrouwenbond yang berdiri sendiri. Selanjutnya, untuk meningkatkan pendidikan perempuan, mereka mendirikan sekolah-sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Rm. Van Lith berharap Melania mengutamakan “sekolah-sekolah guru” untuk mendapatkan tenaga-tenaga pendidik yang dapat disebarkan ke tempat-tempat lain. Sementara itu, Mgr. MG. Vuylsteke menegaskan, bahwa para awam ini memegang peranan penting dan merupakan tenaga yang tidak dapat diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan ini diambil dari arsip-arsip Melania&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-7345397238041731518?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/7345397238041731518/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=7345397238041731518&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/7345397238041731518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/7345397238041731518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2007/02/melania-commisie-v-midden-java-1923.html' title='Melania Commisie v Midden Java (1923)'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/ReWDLkN8Y0I/AAAAAAAAABg/XHe3p_BZ9Pg/s72-c/melania+kliniek+1935.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-8919095451651592615</id><published>2007-02-23T04:10:00.000+07:00</published><updated>2007-06-13T22:35:50.347+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Gedenkboek van Mendut (1908 – 1943)</title><content type='html'>Tulisan 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gedenkboek van Mendut (1908 - 1943)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Zr. Fransesco OSF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Op 1 maart van datzelfdejaar begon de pastoor godsdienstlessen te geven elf kinderen die gedoopt wensten te worden. Op 10 april, tweede Paasdag, ontvingen de eerste negen kinderen het H. Doopsel. De beide an deren kregen van hun ouders geen toestemming. Daarom moesten de kinderen het internaat verlaten, want bij aanneming werd steeds bedongen dat het internaat er alleen was voor khatholieke meisjes en voor hen die in de toekomst het H. Doopsel zouden ontvangen. De beide kinderen die weggestuurd werden, kwamen na een week blij terug met het bericht dat ze christen mochten worden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In de volgende jaren meldt de kroniek regelmatig het aannemen van nieuwe internen, maar helaas ook het dikwijls voorkomende vertrek van anderen die door de ouders weerhouden worden zich te laten dopen. Ook wordt in de kroniek regelmatig melding gemaakt van het bezoek van hooggelaatste geestellijke en wereldlijke autoriteiten. Zelfs vereerde in 1910 de Gouverneur Generaal de jonge stichting met zijn bezoek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;In 1912 bedroeg het aantal interne leerlingen reeds 55. behalve jonge kinderen vonden ook steeds meer volwassemen, vaak familieleden van de kinderen of mensen die de zusters bij hun werkzaamheden behulpzaam waren de weg naar de katholieke kerk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In August 1913 wordt voor het eerst melding gemaakt van een examen. Zes meisjes zouden deelnemen aan een examen voor ”kwekeling” te Oengaran. In Oengaran aangekomen – na twee dagen reizen – hadden ze zeer veel bekijks: ze waren de enige vrouwelijke kandidaten. Van de 236 kandidaten mochten er maar 17 slagen! Bij de gelukkige 17 geslaagden behoorden twee meisjes van Mendoet!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In September 1913 werd een begin gemaakt met een nieuw schoolgebouw. In de kroniek lezen we ook voor het eerst over de jongens van het Xaverius – college van Moentilan, die hun zusjes en nichtjes kwamen aanmelden in Mendoet. Zo belde er een kereltje van 11 jaar bij de zusters aan en vroeg in correct Nederlands of de zusters nog een plaatsje hadden voor z’n zusje. Na een paar minuten kreeg hij een bevestigend antwoord en meteen sprong een klein meisje achter het hek vandaan met de bedoeling meteen te bleijven!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20  October 1913 werd voor de eerste keer een huwelijk gesloten tussen een oud-leerlinge van Mendoet en een oud-leerling van Moentilan: het eerste in een lange rij. In 1915 slaagde de eerste vrouwelijke Javaanse onderwijzeres! Opgeleid in Mendoet!&lt;br /&gt;In Juni 1915  vertrok voor het eerst een meisje van Mendoet naar Semarang om opgeleid te worden voor vroedvrouw. Ook is er in dit jaar voor het eerst sprake van ziekenverzorging in de dessa. Het gouvernement verstrekte daarvoor de geneesmiddelen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bijzondere melding wordt jaarlijks gemaakt van het kerstfeest. Zowel in de kerk als in het internaat werd dit waarlijk groots gevierd. De kertboom draagt voor alle kinderen geschenkjes, die van verre – Holland, Batavia – Soerabaja – door gulle gevers gezonden worden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 1916 werd de school gesplits in een zes – jarige cursus, a.i. de kweekschool en een lagere school met vijf klassen. De Inlandse Lagere School werd veranderd in een H.I.S. die dienst moest doen als oefenschool voor de kweekschool voor inlandse onderwijzeressen. Voor de derde hogere klassen van de kweekschool moes ten Europese leeerkrachten worden aangetrokken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In dit jaar verhaalt de kroniek van een uniek uitstapje van de kinderen naar Semarang, naar het moederhuis van de zusters. Van de staats-spoorwegen kregen allen een ”vrijkaartje”. Om 5 uur ’smorgens trok de karavaan uit. Ieder droeg haar eigen bundeltje: een badsarong en een slaapbaadje in een grote zakdoek geknoopt!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Te voet, zeven kwartier, tot Kelangon, daar in de tram tot Willem I. Toen per spoor maar Semarang – Gedangan. Alles wat er in huis en omgeving was, werd bezichtigd. De kinderen waren buiten zich zelf van verwondering. Ook werd er een wandeling naar zee gemaakt. Na acht dagen werd terugreis aanvaard. Tegen de avondwerd Magelang bereikt, omdat het storttregende viel aan verder reizen niet te denken. Moeder Caspara van Magelang schafte raad en die nacht logeerden allen bij de zusters. Welgemoed werd de volgende morgen de reis naar Mendoet voorgezet. Een school-reisje in 1916!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 1917 slaagden de eerste vijf kandidaten voor hulp onderwijzeres: goeroe bantoe. In ditzelfde jaar ontvingen Zr. Odrada Koot en Zr. Rosalie Hamers een verklaring van bevoegheid tot het lesgeven aan de kweekschool en werd de school van gouvernemenswege een subsidie toegezegd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Het jaar 1918 maakt melding van een verschrikkelijke windhoos, die op het missieterrein grote verwoestingen aanrichtte. Als door een wonder gebeurden er geen persoonlijke ongelukken. Nog enkele andere keren maakt de kroniek melding van verwoestende natuurkrachten: wind hozen en verschrikkelijke bandjirs van de rivier de Elo die langs het erf stroomde.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In dit jaar bereikte de zusters het verzoek van het gouvernement om niet meer te spreken van ”kweekschool” maar van ”normaalschool”. Men was bang voor concurrentie met de door het gouvernement op te richten kweekschool. Als aan dit verzoek werd voldaan zou er f.18.000,- worden gegeven voor de voorbije drie jaren. Aan de weens van het gouvernement werd slechts ten deevoldaan: maast de ”normaalschool” bleef ook de kweekschool bestaan. Het bleek wel steeds meer dat de successen van Moentilan een doorn in het oog was voor de Mohammedaanse gezagsdragers en voor de loge-mensen in de Nederlandse regering van Java. Zoals op zoveel plaatsen teisterde in dit jaar de ”Spaamse griep” ook het internaat van Mendoet. 130 van de 153 kinderen lagen zwaar ziek te bed, bovendien ook drie zusters. Zes van de kinderen stierven tijdens deze epidemie.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;To be continued... &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-8919095451651592615?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/8919095451651592615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=8919095451651592615&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/8919095451651592615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/8919095451651592615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2007/02/gedenkboek-van-mendut-1908-1943_23.html' title='Gedenkboek van Mendut (1908 – 1943)'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-2109772644702694407</id><published>2007-02-21T20:04:00.001+07:00</published><updated>2007-06-13T22:26:50.316+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gerakan sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feminisme'/><title type='text'>Perempuan Katolik dalam Pergolakan Buruh 1924</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/ReVlakN8YzI/AAAAAAAAABU/JLRUqI6-7F4/s1600-h/Sujadi+Sasraningrat.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5036543265356931890" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/ReVlakN8YzI/AAAAAAAAABU/JLRUqI6-7F4/s320/Sujadi+Sasraningrat.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah draft buku Mendut selesai, saya kirimkan beberapa &lt;em&gt;copy&lt;/em&gt;-nya kepada ibu-ibu Mendut yang saya wawancarai untuk dibaca dan ditanggapi. Yang tidak saya duga adalah ketika &lt;em&gt;copy&lt;/em&gt; draft itu dikirimkan kembali pada saya, mereka menyertakan dokumen-dokumen yang mereka miliki. Dalam salah satu surat, seorang Ibu mengatakan, “&lt;em&gt;Kalau saya berikan pada nak Iswanti, saya yakin dokumen ini akan bermanfaat. Tetapi, kalau saya simpan saja, ketika saya meninggal mungkin akan dibuang saja, karena mungkin anak cucu saya hanya melihat itu sebagai kertas dan tulisan kuno yang tidak menarik. Mereka tidak paham apa arti dokumen itu. Mereka tidak paham bahwa dokumen itu adalah bukti tentang apa yang pernah saya lakukan di masa lalu&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, dalam amplop yang berisi &lt;em&gt;copy&lt;/em&gt;-an draft itu mereka sertakan foto, buku, catatan tulisan tangan. Tak terkira kegembiraan saya. Menurut saya, bahkan sekarang pun, saya melihat apa yang dilakukan Ibu Maria Soejadi Sasraningrat sangat berani dan radikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Karena saya tidak senang menyimpan kegembiraan itu untuk diri saya sendiri, saya akan membagikan pada teman-teman yang sering mampir ke blog-ku ini, atau pada mereka yang bisa menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah sepotong bagian dari isi pesan yang ditulis Ibu Maria Soejadi Darmosaputro Sasraningrat, perintis dan pendiri Wanita Katolik pada ulang tahun ke-50 Wanita Katolik tahun 1974.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Di dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia telah tercatat bahwa tahun 1923-1924 adalah tahun pergolakan kaum buruh sedunia. Gerakan tersebut mengalir serta menimpa Negeri Belanda pula dan dipimpin oleh Meester Pieter Jelles Toelstra yang menentang parlemennya dengan kata-kata yang sangat tajam mengenai ”November Belofte” (Perjanjian November) kepada Pemerintah Hindia Belanda. Dengan cepat bencana Revolusi buruh ini mengalir, melimpah ke Hindia Belanda, khususnya ke Jawa dan Madura hingga menimbulkan pemogokan-pemogokan di beberapa perusahaan Belanda. Yogyakarta pun tidak luput dari bencana tersebut dan dipimpin oleh seseorang yang kemudian mendapat julukan ”Raja Pemogokan” Staats Spoorwegen, yaitu Jawatan Kereta Api Pemerintah terancam juga, sehingga diadakan Undang-undang Darurat oleh Pemerintah Belanda yang berisi: ”Barangsiapa yang melakukan pemogokan akan dihukum 6 tahun penjara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu Umat Katolik di Yogyakarta sebagian besar terdiri dari rakyat jelata, buruh Paberik Cerutu dan Paberik Gula di mana buruh wanita Katolik merupakan bagian yang cukup dominan. Ketika menyaksikan nasib buruh yang demikian buruknya serta keadaan mereka yang penuh kesengsaraan, Ibu ingat akan suatu pepatah kuno, yaitu: ”Gugur Gunung”. Di waktu Tanah air kita tertimpa bencana, adat istiadat kita mengajak kita untuk ber-Gugur Gunung. Adat istiadat kita memanggil putra-putri Negara Indonesia yang telah cukup dewasa untuk ikut serta berjuang, ikut serta membendung, melawan dan menghadapi bencana yang semakin besar dengan melaksanakan suatu perjuangan yang diarahkan kepada kesejahteraan Rakyat, Nusa dan Bangsa. ”Gugur gunung” inilah yang kami serukan kepada Umat Katolik pada umumnya serta Wanita Katolik pada khususnya, yang pada waktu itu sudah cukup dewasa, yaitu agar dengan semangat Kristiani segera siap sedia untuk ikut serta menghadapi segala bencana serta menyalurkan ke arah kesejahteraan Nusa dan Bangsa SEIRAMA dengan langkah Gereja Katolik. Maka terbentuklah: Organisasi Wanita Katolik di ruangan biara para Suster Ordo Santo Fransiskus di Yogyakarta pada tanggal 24 Jumii 1924.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai langkah perjuangan yang pertama Ibu menemui pengusaha-pengusaha Belanda dari Pabrik Cerutu dan Pabrik Gula di Yogyakarta yang kedua-duanya juga beragama katolik. Buruh kedua pabrik ini sebagian besar terdiri dari buruh wanita. Pertemuan berlangsung dalam suasana damai. Pembicaraan diadakan dari hati ke hati dengan berpedoman pada Ensiklik-ensiklik Gereja Katolik, antara lain Rerum Novarum dari Bapak Leo ke XIII di Roma dan Quadragesimo Anno dari Paus Pius XI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai hasil pembicaraan dengan segera dibentuklah peraturan-peraturan di kedua belah pabrik tersebut untuk perbaikan nasib para buruhnya pada umumnya dan buruh wanita pada khususnya. Langkah berikutnya dari Organisasi Wanita Katolik meliputi kerja sama dengan Usahawan-usahawan Katolik Belanda untuk mengadakan segala macam perbaikan nasib para buruh.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;...&lt;br /&gt;(Maria Soejadi Darmosaputro Sasraningrat, 24-6-1974)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-2109772644702694407?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/2109772644702694407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=2109772644702694407&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/2109772644702694407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/2109772644702694407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2007/02/perempuan-katolik-dalam-pergolakan.html' title='Perempuan Katolik dalam Pergolakan Buruh 1924'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/ReVlakN8YzI/AAAAAAAAABU/JLRUqI6-7F4/s72-c/Sujadi+Sasraningrat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-8593270053096887767</id><published>2007-02-21T19:25:00.000+07:00</published><updated>2007-02-25T11:44:38.835+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah Kolonial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Gedenkboek van Mendut (1908 – 1943)</title><content type='html'>Ini salah satu dokumen yang kudapatkan dari salah satu Ibu eks-siswi Mendut, Ibu Pudyobroto. Isinya tentang kronik Sekolah dan Asrama Mendut yang ditulis oleh Sr. Fransesco OSF pada peringatan perayaan jubilee Sekolah dan Asrama Mendut. Dulunya, Sr. Fransesco adalah salah satu guru di Sekolah Mendut. Kronik ini ditulis dalam bahasa Belanda. Siapa tahu ada yang berminat membacanya dalam bahasa Belanda, atau ada teman dari Belanda yang mau mengaksesnya. Berikut isi dokumen itu, yang akan saya tulis dalam beberapa pecahan tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gedenkboek van Mendut (1908 – 1943)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Zr. Fransesco OSF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Geachte dames,&lt;br /&gt;Gaarne voldoen wij aan uw verzoek u enige gegevens te verschaffen over ons Mendoet, dat in 1983 jubilaresse geweest zou zijn. Bij het doorlezen van de kroniek bekruipt mij het treurige gevoel van: wat is het jammer dat we dit mooie werk in de steek moesten laten, maar tegelijkertijd ook een grote blijdschap en dankbaarheid voor al het goede dat met Gods hulp in Mendoet tot stand mocht komen. Het doet ons veel genoegen dat een groep oudleerlingen van Mendoet elkaar steunt om de goede geest van Mendoet levending te houden en het goede wat daar begonnen is voort te zetten en uit te dragen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Naturrlijk is het niet doenlijk om het hele verloop van de geschiendenis van Mendoet te melden. Ik deed hier en daar een greep en probeerde zo enkele verassende elementen voor u op te schrijven. De kroniek die wij hier hebben gaat slechts tot 1926. Ik denk dat die van de jaren na 1926 in Semarang is. Misschien zelfs tengevolge van oorlog en kampleven verloren is gegaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Het staat u natuurlijk volkomen vrij uit dit verhaal te putten wat u het liefst wilt opnemen. Op Java zijn zeker nog zuzters, die u nog wel een en ander over het oude Mendoet kunnen vertellen, b.v. Zr. Suitberta de Haas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In het begin van de 20e eeuw ward err een begin gemaakt van het meer dan voorheen arbeiden aan de kerste ning van het Javaanse volk. Tot dan toe was de voornaamste zorg er op gericht geweest: het levending houden en beleven van ons christelijk geloof voor de Europese bevolking. In dit verband mag niet verzuimd worden de naam te noemen van Pastoor van Lith, de apostel van de Javanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;De residentie Kedoe was het eerste arbeidsveld. Reeds waren de Paters Jezuiten in Moentilan met hun school begonnen, toen men inzag hoe noodzakelijk het was ook de opvoeding van Javaanse meisjes te behartigen. Mgr. Luypen van Batavia vond de toenmalige overste van de Zusters Franciscanessen van Heythuysen, Moeder Ludmilla, bereid om deze nieuwe werkkring op zich te nemen. 14 Januari 1908 betrokken de eerste vier zusters een klein huisje in Mendoet. ”Nazareth” werd het gedoopt. De ze eerste vier zusters waren: Zr. Aloysia, Zr. Florida, Zr. Ernestine en Zr. Jovira. Er bestond in Mendoet reeds een klein christelijk Javaans schooltje.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Op 14 Februari begonnen de zusters de handwerklessen voor Javaanse meijses. Ook twee Chinese meisjes namen er aan deel. Op 1 Mei warden de twee eerste inlandshe meisjes bij de zusters in huis genomen: twee dochtertjes van de wedono van Moentilan. In Augustus groeide het aantal kinderen van de handwerklessen tot tien. Vijf van hen waren in naam khatoliek maar wisten niets van hun godsdienst. Op 8 September werd het eerste leerlingetje gedoopt: een Javaans prinsesje. Eind October was men met het inrichten van het huis zo ver dat er meer interne leerlingen aangenomen konden worden en 4 November, Javaans Nieuwjaar, kwam de derde interne leerling. Op het einde van de maand was het groepje reeds aangegroeid tot tien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bevalve voor het handwerk volgden onze kinderen voorlopig het onderwijs aan de inlandse buitenschool, maar daar het aantal internen gestadig toenam werd er 4 Januari 1909 een goeroe aangesteld, die de ”kinderen van de zusters” les gaf in een kamer, die vroeger voor kerk gediend had.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;.... to be continued.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-8593270053096887767?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/8593270053096887767/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=8593270053096887767&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/8593270053096887767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/8593270053096887767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2007/02/gedenkboek-van-mendut-1908-1943.html' title='Gedenkboek van Mendut (1908 – 1943)'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-7439601770820695885</id><published>2007-01-23T20:53:00.000+07:00</published><updated>2007-06-13T22:27:30.570+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Pendidikan Perempuan di Flores</title><content type='html'>&lt;em&gt;Champagne&lt;/em&gt; pun segera dikeluarkan dan delapan perempuan berjubah biarawati itu melakukan &lt;em&gt;toast&lt;/em&gt;, merayakan kegembiraan yang meluap ketika kapal yang mereka tumpangi akhirnya berhasil memasuki garis katuliswa. Apa yang istimewa? Yang istimewa, akhirnya garis katulistiwa terlewati juga setelah berbulan-bulan Kapal Torington berlayar di laut lepas menempuh puluhan ribu mil dari Belanda menuju Jawa, yang antara lain membawa penumpang delapan suster Fransiskanes dari Heythuizen. Perjalanan yang melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pada tanggal 16 Februari 1879, sampailah delapan suster OSF dari Belanda itu di biara induk OSF di Gedangan – Semarang. Enam dari delapan suster OSF ini sebenarnya sedang dalam perjalanan untuk menuju daerah misi di Larantuka – Flores. Pada tanggal 18 April 1879 bertolaklah ke-6 suster OSF tersebut dari pelabuhan Jepara menuju Larantuka. Sesampai di Larantuka tanggal 6 Juni 1879 , mereka mulai membuka kelas untuk para perempuan. Para perempuan ini diajari menjahit, merenda, berhitung, memasak, mencuci menenun. Pelan-pelan mereka juga diajari berhitung, membaca dan belajar bahasa Melayu. Tujuannya sangat sederhana, mereka ingin mendidik dan mempersiapkan para perempuan agar bisa menjadi istri dan ibu yang rapi, bersih, rajin dan saleh. &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RbYuz2UCoLI/AAAAAAAAABI/QvSD3DhjUUA/s1600-h/NTT+pendidikan+blog.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5023253902666145970" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 263px; CURSOR: hand; HEIGHT: 196px" height="217" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RbYuz2UCoLI/AAAAAAAAABI/QvSD3DhjUUA/s320/NTT+pendidikan+blog.jpg" width="296" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Selama 36 tahun para suster OSF tersebut bekerja di Larantuka, sebelum akhirnya mereka harus meninggalkan Larantuka pada tahun 1925. Mereka harus meninggalkan Larantuka karena adanya kebijakan pembagian daerah kerja antar tarekat, dan misi tersebut akhirnya diserahkan pada suster-suster SSpS. Makam dua suster OSF, yaitu Sr. Pelagia dan Sr. Cunegonde di Larantuka menjadi saksi kehadiran OSF di Larantuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, pendidikan bagi perempuan di Flores sebenarnya sudah dimulai lebih dari 125 tahun yang lalu. Pada tahun 1910 saja para suster OSF tersebut telah mendapatkan piagam penghargaan dari pemerintah Belanda dengan kewenangan mengajar bahasa Melayu, dan bukan hanya murid asrama susteran saja yang diajari bahasa Melayu melainkan juga penduduk di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas hanyalah satu cerita tentang perkembangan pendidikan perempuan di Flores. Dan dalam sejarah pendidikan bangsa ini, Flores pernah menjadi daerah di antara daerah-daerah yang maju dalam hal pendidikan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RbYcUWUCoII/AAAAAAAAAAc/YAmZFm28pAE/s1600-h/iswantiiii.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5023233570290966658" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RbYcUWUCoII/AAAAAAAAAAc/YAmZFm28pAE/s320/iswantiiii.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Coba saja tengok tabel data di sebelah kiri ini. Tabel di bawah ini adalah data-data tentang pendirian sekolah-sekolah yang dilakukan oleh misi, baik untuk pendidikan laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membandingkan dengan kondisi dan persoalan pendidikan yang dihadapi perempuan di NTT sekarang ini, banyak tanya muncul di benak saya. Lebih parah lagi, saya sendiri masih kesulitan merumuskan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Masih gelap!!!!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-7439601770820695885?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/7439601770820695885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=7439601770820695885&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/7439601770820695885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/7439601770820695885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2007/01/pendidikan-perempuan-di-flores.html' title='&lt;strong&gt;Pendidikan Perempuan di Flores&lt;/strong&gt;'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RbYuz2UCoLI/AAAAAAAAABI/QvSD3DhjUUA/s72-c/NTT+pendidikan+blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-7366283016799277890</id><published>2007-01-23T20:40:00.000+07:00</published><updated>2007-06-13T22:28:18.965+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feminisme'/><title type='text'>Mengapa Memilih Kehidupan dan Pengalaman Perempuan sebagai Titik Pijak?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RbYpD2UCoJI/AAAAAAAAAAw/GOqIZrL3qeE/s1600-h/blog+who+is+she.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5023247580474286226" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 231px; CURSOR: hand; HEIGHT: 173px" height="212" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RbYpD2UCoJI/AAAAAAAAAAw/GOqIZrL3qeE/s320/blog+who+is+she.jpg" width="296" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Sebelum menjawab pertanyaan ”mengapa” tersebut, saya ingin menjelaskan sedikit latar belakang kenapa pertanyaan tersebut saya ajukan. Mumpung masih di awal tahun 2007, sekaligus untuk refleksi. &lt;em&gt;Pertama-tama&lt;/em&gt; pertanyaan tersebut memang saya ajukan pada diri saya sendiri untuk selalu melihat kembali semua sepak terjang yang saya lakukan atas nama ”perempuan”. Apakah saya masih memiliki alasan yang cukup bisa dipertanggungjawabkan bila mengatasnamakan ”perempuan?” Pertanyaan seperti ini harus saya sering-sering ajukan pada diri sendiri, jika masih mengaku feminis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, di tengah hiruk pikuk berbagai persoalan, kita seringkali mudah terhanyut, dan tak sempat mempertanyakan apa yang kita genggam dan telah kita lakukan. Upaya pengarusutamaan gender sudah lumayan lama berlangsung, namun masih banyak sekali terjadi kebuntuan. Apa dan di mana yang menyebabkan kebuntuan tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, masih miskinnya kemampuan kita untuk memasak persoalan dan menemukan formula jawaban pada tataran konseptual, yang hal ini kadang membuat kita frustasi. Apalagi jika kita harus bergerak seperti main lompat tali, turun naik, ke kanan dan kiri, antara konsep dan praksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok jadi serius serius begini... namun pertanyaan-pertanyaan itu saya ajukan, lebih baik ke diri sendiri saja (dan saya bagikan pada yang mau membacanya), untuk menyegarkan dan menguatkan kembali komitmen-komitmen saya untuk semua pekerjaan yang saya lakukan atas nama ”perempuan”. Dan tidak ada yang lebih baik bagi saya, kecuali memulainya kembali dengan membongkar dan mempertanyakan subjek ”perempuan” itu sendiri saja. Dan juga, karena ”perempuan”lah yang menjadi subjek dari seluruh isi blog ini. Semoga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah posisi yang diperhitungkan sebagai titik pijak tentulah sangat penting, mendasar dan memiliki alasan, signifikan serta relevansi yang sangat kuat. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, masyarakat kita, pada kenyataannya dibangun dalam sebuah struktur dan stratifikasi tertentu, seperti ras, kelas, seksualitas, budaya, agama dll., melalui perjalanan sejarah tertentu yang melibatkan akses dan sumber daya kekuasaan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, bangunan struktur dan stratifikasi ini telah menyediakan perbedaan-perbedaan di dalam sumber kekuasaan, situasi/kondisi kehidupan, serta pengaruh dan dampaknya. Perbedaan yang cenderung ada dalam sistem dan hubungan hirarkis ini telah menyediakan ruang dan kesempatan baik menguntungkan di satu pihak atau tidak menguntungkan di pihak lain. Perbedaan ini juga menghasilkan adanya kelompok-kelompok dominan dan kelompok-kelompok marjinal serta terasing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, saya mengangkat alasan yang ditegaskan oleh Sandra Harding, seorang feminis sekaligus epistemolog, bahwa dalam masyarakat yang distratifikasikan oleh gender, perempuan dan laki-laki dimandatkan dengan tugas dan aktivitas berbeda-beda di dalam masyarakat; sebagai akibatnya mereka memiliki situasi dan kehidupan yang berbeda. Malangnya, masyarakat yang distratifisikasikan berdasarkan jenis kelamin ini telah cenderung membentuk masyarakat satu dimensi: masyarakat patriarkis. Sistem patriarki telah menghadirkan berbagai bentuk ketidakadilan seperti dominasi, peminggiran/diskriminasi, pencitraan baku, subordinasi serta kekerasan terhadap perempuan. Berbagai bentuk ketidakadilan ini saling berkelindan di semua strata ras, kelas, agama serta bentuk-bentuk sosial lainnya. Situasi dan persoalan yang dihadapi perempuan tidak pernah berdiri tunggal sebagai hanya “persoalan perempuan”. Persoalan yang dihadapi perempuan, menjadi gambaran dari saling terkaitnya berbagai bentuk strukur sosial masyarakat. Itulah mengapa, persoalan ini tidak hanya untuk ditanggapi perempuan saja, melainkan juga laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;, menggunakan kehidupan dan pengalaman perempuan sebagai “korban” – dalam kehidupan yang berbasis dan berpusat pada laki-laki di semua ras, kelas, budaya atau agama – dapat menghadirkan pemahaman tentang kemanusiaan dan perspektif keadilan yang lebih baik. Bertitik pijak dari “korban” dapat mengajak kita memikirkan kembali makna kemanusiaan, dan berpihak pada korban adalah sebuah bentuk afirmasi terhadap upaya mewujudkan keadilan. “Perempuan sebagai korban” bisa menjadi “cermin” untuk melihat seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem sekuat patriarki ini. “Perempuan sebagai korban” bisa membantu kita mengkonstruksi kehidupan ini menjadi lebih baik, lebih adil, dan lebih bermartabat.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-7366283016799277890?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/7366283016799277890/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=7366283016799277890&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/7366283016799277890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/7366283016799277890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2007/01/mengapa-memilih-kehidupan-dan.html' title='&lt;strong&gt;Mengapa Memilih Kehidupan dan Pengalaman Perempuan sebagai Titik Pijak?&lt;/strong&gt;'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RbYpD2UCoJI/AAAAAAAAAAw/GOqIZrL3qeE/s72-c/blog+who+is+she.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-8003675829014991403</id><published>2006-11-23T18:39:00.000+07:00</published><updated>2007-02-25T12:28:53.122+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Roma Katolieke Java Vrouwenbond                         (Ikatan Wanita Katolik Java)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RbYtV2UCoKI/AAAAAAAAAA8/HF6RR6Z1buY/s1600-h/Reuni+Jogyablog.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5023252287758442658" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 276px; CURSOR: hand; HEIGHT: 196px" height="209" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RbYtV2UCoKI/AAAAAAAAAA8/HF6RR6Z1buY/s320/Reuni+Jogyablog.jpg" width="302" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada tahun 1919, Rm. WG. Greutz Lechleitner SJ menganjurkan adanya surat menyurat antara ibu-ibu katolik di Nederland dengan ibu-ibu katolik di Hindia Belanda (Yogya), dengan tujuan memulai gerak Kartini dalam kalangan katolik, khususnya meningkatkan pengetahuan perempuan pada umumnya dan gadis/perempuan katolik pada khususnya. Selain surat menyurat juga diadakan tukar menukar kerajinan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ny. Schmutzer – Hendricksz, Ny. Schmutzer van Rijckevorsel, Ny. U. LegoSeohono, Ny. R. Ay. Maria Soejadi Sasraningrat, Ny. Moerdoatmodjo pun mulai melakukan korespondensi. Tahun 1923 dibentuk “&lt;em&gt;Melania Commisie v Midden Java&lt;/em&gt;”. Dan kemudian dibentuk unit-unit kerja di Yogyakarta dengan Melania Convict, Semarang, Batavia, Buitenzorg, Magelang, Bandung. Pada tahun yang sama, dibentuk unit khusus &lt;em&gt;Roma Katolieke Java Vrouwenbond&lt;/em&gt; yang berdiri sendiri. Selanjutnya, untuk meningkatkan pendidikan perempuan, mereka mendirikan sekolah-sekolah. Unit khusus Roma Katolieke Java Vrouwenbond oleh Ny. Maria Soejadi Sasraningrat ini dikembangkan menjadi “Wanita Katolik” yang didirikan di aula susteran Kidul Loji (Yogyakarta), 1924. Organisasi ini didukung para guru-guru putri, istri-istri guru dan pegawai, pekerja-pekerja wanita pabrik cerutu NEGRESCO. Pertemuan ini dipimpin sendiri oleh Ny. Maria Soejadi Sasraningrat didampingi Rm. HV Driessche SJ. Semangat nasionalis R. Ay. Maria Soejadi Sasraningrat ini – yang adik kandung Nyi Hajar Dewantoro ini – membuat Wanita Katolik sebagai organisasi mandiri, yang lepas dari Katholieke Vrouwenbound yang berpusat di Nederland. (Dari berbagai sumber)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-8003675829014991403?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/8003675829014991403/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=8003675829014991403&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/8003675829014991403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/8003675829014991403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2006/11/roma-katolieke-java-vrouwenbond-ikatan.html' title='Roma Katolieke Java Vrouwenbond                         (Ikatan Wanita Katolik Java)'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_iwt8xqnkxRM/RbYtV2UCoKI/AAAAAAAAAA8/HF6RR6Z1buY/s72-c/Reuni+Jogyablog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-7701622318777552843</id><published>2006-10-30T21:54:00.000+07:00</published><updated>2006-11-30T17:52:39.170+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger2/5569/456064553223026/1600/berfoto%20di%20bawah%20tali%20jemuran.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 298px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 183px" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger2/5569/456064553223026/400/berfoto%20di%20bawah%20tali%20jemuran.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Inlandse Meisjes der Zusters Franciscanessen Mendut&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;(1908 - 1943)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Inilah anak-anak perempuan pribumi awal yang mengenyam sekolah... di sekolah dan asrama Mendut yang didirikan oleh Suster Fransiskanes dari Heythuizen pada tahun 1908. Sekolah ini ditutup ketika Jepang mulai masuk dan menduduki Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-7701622318777552843?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/7701622318777552843/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=7701622318777552843&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/7701622318777552843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/7701622318777552843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2006/10/inlandse-meisjes-der-zusters.html' title=''/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-702028199513898129</id><published>2006-10-27T21:04:00.000+07:00</published><updated>2007-06-13T22:43:03.257+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafsir Sejarah'/><title type='text'>Dicari Perempuan dalam Sejarah Gereja Katolik Indonesia!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Verdana;"&gt;Dalam bukunya “&lt;i&gt;In Memory of Her”&lt;/i&gt;, &lt;a href="http://www.hds.harvard.edu/faculty/schusslerfiorenza.html"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Elisabeth Schussler Fiorenza&lt;/span&gt; &lt;/a&gt;mendasarkan pemikirannya pada gagasan bahwa kaum perempuan di masa lampau tidak hanya dimarginalkan dan dikorbankan; namun mereka juga telah menjadi agen-agen sejarah yang telah menghasilkan, membentuk dan mempertahankan kehidupan sosial pada umumnya dan hubungan-hubungan sosio-religius Kristen pada awalnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Fiorenza, professor Perjanjian Baru dan Teologi pada Universitas Notre Dame, Indiana, Amerika Serikat itu secara tegas tidak menerima gagasan bahwa perempuan telah dan masih berada pada pinggiran/luaran dan tidak berarti bagi sejarah dan kehidupan sosial. Sebaliknya, dalam buku itu, Fiorenza berusaha membuat perempuan lebih kelihatan di dalam dan di pusat narasi sejarah. Gagasan dasar yang diangkat Fiorenza adalah “pada saat yang sama dalam kenyataan, perempuan dan laki-laki telah bertindak dalam sejarah dan membentuk kehidupan sosial politik, budaya dan keagamaan di masa lampau”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Verdana;"&gt;Berdasarkan pemikiran Fiorenza itu, saya menengok kembali buku-buku sejarah tentang Gereja Katolik di Indonesia, untuk mencari apakah ada narasi tentang peran perempuan dalam sejarah gereja Katolik di Indonesia&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ada? &lt;span id="fullpost"&gt;Dalam 5 jilid buku tebal berjudul &lt;i&gt;Sejarah Gereja Katolik Indonesia&lt;/i&gt;, yang disunting M.P.M Muskens, Dokpen KWI (1972-1974), bisa ditemukan hanya dalam beberapa kalimat dalam narasi tentang perempuan, itu pun kisah berdirinya konggregasi biarawati. Dalam buku &lt;i&gt;Indonesianisasi&lt;/i&gt; karya Dr. Huub J.W.M Boelaars OFM Cap (2005) dan &lt;i&gt;Catholics in Indonesia, A Documented History&lt;/i&gt; karya Karel Steenbrink (2003), narasi tentang perempuan dalam sejarah Gereja (dan Orang Katolik) di Indonesia, nasibnya sama. Ketika saya bertemu kedua penulis tersebut, pada kesempatan yang berbeda, saya tanyakan pada mereka, “Di mana narasi tentang perempuan katolik dalam buku Anda?” Dan mereka tidak bisa menjawab! Seperti biasa, itulah kenyataannya arus besar buku sejarah Gereja Katolik hanyalah menarasikan sejarah para bapa gereja dan hirarkinya! Buku sejarah gereja yang masih tergolong baru misalnya, &lt;i&gt;Menuju Gereja Mandiri, Sejarah Keuskupan Agung Semarang di Bawah Dua Uskup (1940 – 1981)&lt;/i&gt; karya G Budi Subanar (2005), mohon maaf saja, juga masih sulit ditemukan narasi tentang perempuan katolik di dalamnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Verdana;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Verdana;"&gt;, persoalan yang muncul di pikiran saya adalah, jika kita tidak menemukan narasi tentang perempuan dalam sejarah gereja, apakah itu berarti mereka (perempuan itu) “tidak ada”. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, jika “perempuan (katolik) itu ada”, ada di mana mereka, dan bagaimana kita bisa mengetahui bahwa “mereka (perempuan itu) ada”. &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;so what?&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Verdana;"&gt;Ya, memang banyak yang harus dilakukan untuk “menampakkan” perempuan dalam narasi sejarah gereja katolik di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Dan tidak mudah, tentu saja! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Verdana;"&gt;Kembali kepada Fiorenza, buku &lt;i&gt;In Memory of Her&lt;/i&gt; menurutnya, diilhami oleh karya-karya yang berakar pada teologi pembebasan, di mana gerakan dan teologi ini mencari sebuah sejarah dan teologi bagi diri mereka sendiri. Mereka sadar bahwa sejarah yang selama ini ditulis adalah sejarah para pemenang sejarah dan bagaimana kenangan sejarah, studi sejarah, buku sejarah itu telah menciptakan identitas budaya dan keagamaan tertentu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Dan dalam kerangka studi sejarah feminis-pembebasan, &lt;i&gt;In Memory of Her &lt;/i&gt;memang berusaha menginterupsi wacana-wacana historis yang hegemonis.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-702028199513898129?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/702028199513898129/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=702028199513898129&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/702028199513898129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/702028199513898129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2006/10/dicari-perempuan-dalam-sejarah-gereja.html' title='Dicari Perempuan dalam Sejarah Gereja Katolik Indonesia!'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-9153354846842533416</id><published>2006-10-27T21:01:00.000+07:00</published><updated>2007-06-13T22:46:22.039+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah Kolonial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Internaat en School voor Inlandse Meisjes der Zusters Fransiscanessen Mendut (1908 – 1943)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger2/5569/456064553223026/1600/gapura%20mendut_blog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger2/5569/456064553223026/200/gapura%20mendut_blog.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;h2&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sekolah — Asrama untuk Perempuan Pribumi oleh Suster Fransiskanes — Mendut (1908-1943)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  Banyak di antara generasi muda sekarang yang tidak mengetahui tentang sebuah sekolah dan asrama perempuan di Mendut – Magelang, yang sangat terkenal di zaman dahulu. Kalaupun ada yang pernah berjumpa dengan para ibu lulusan Mendut, mereka akan menemukan beberapa hal yang istimewa yang berbeda dengan para ibu lainnya yang sebaya dengan mereka. Bahkan sekarang ini, para ibu lulusan Mendut ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jumlahnya semakin berkurang, dan rata-rata sudah berusia di atas 80 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dekat Candi Mendut ini, pada tahun 1908 dibangun sebuah sekolah dan asrama oleh 4 suster Fransiskanes dari Heythuizen. Sekolah dan asrama ini memiliki sekolah dari taman kanak-kanak, HIS (setingkat SD), MULO (setingkat sekolah menengah), juga &lt;i&gt;kweekschool&lt;/i&gt; (sekolah guru). Sekolah ini seolah kembaran dari sekolah yang sama yang untuk anak laki-laki di Muntilan. Sayang sekali, sekolah ini mulai tutup dengan adanya pendudukan Jepang di Indonesia, dan kemudian kompleks bangunan sekolah itu turut dihancurkan pada tahun-tahun pergolakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Mendut di zaman dulu bukan hanya terkenal karena sekolah dan asrama putrinya saja, tetapi dari sekolah ini juga dapat ditemukan generasi pertama keluarga-keluarga yang menjadi katolik di Jawa, bahkan di kemudian hari banyak siswi Mendut ini yang “merasul” dalam meluaskan agama katolik di Jawa. Jadi, keberhasilan pendidikan di Mendut bukan hanya semata memajukan kepandaian para perempuan dalam hal ilmu, melainkan juga dalam hal bagaimana menjadi orang katolik yang baik dalam ucapan, tindakan dan hidup religius baik dalam keluarga, gereja serta masyarakat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali, kita tidak bisa menemukan banyak sumber tertulis (buku, arsip, dokumen atau catatan lainnya) mengenai sejarah sekolah dan asrama Mendut itu sendiri maupun. Hanya sedikit sekali sumber tertulis tentang mereka, seperti novel tulisan Rm. Mangunwijaya yang berjudul Balada Dara-Dara Mendut, Buletin "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Halo Mendut&lt;/span&gt;", dan yang lainnya mungkin hanya berupa catatan-catatan milik para ibu Mendut sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat kondisi ini, aku berupaya untuk mendokumentasikan tentang sekolah dan asrama Mendut melalui ibu-ibu Mendut yang sekarang ini masih hidup yang jumlahnya tidak banyak lagi. Dalam pendataan awal, masih terdapat sekitar 65 – 70 ibu-ibu Mendut yang bisa menjadi narasumber, walaupun tidak semuanya dalam kondisi kesehatan yang baik. Para ibu ini berdomisili tersebar di berbagai &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;, seperti &lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;, Yogyakarta, Magelang, &lt;st1:city st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:city&gt;, Solo, Klaten, Ambarawa, Wonosobo, &lt;st1:city st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:city&gt; dan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Malang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-9153354846842533416?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/9153354846842533416/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=9153354846842533416&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/9153354846842533416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/9153354846842533416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2006/10/internaat-en-school-voor-inlandse.html' title='Internaat en School voor Inlandse Meisjes der Zusters Fransiscanessen Mendut (1908 – 1943)'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-3902326486581937478</id><published>2006-10-27T20:59:00.000+07:00</published><updated>2007-02-25T12:31:02.558+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Perjalanan Mencari Ibu-ibu eks Siswi Mendut…</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger2/5569/456064553223026/1600/candi%20mendut_blog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 185px; height: 139px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger2/5569/456064553223026/200/candi%20mendut_blog.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Sejak awal Juni 2005 – Januari 2006, saya telah menyusuri beberapa kota seperti Jakarta, Semarang, Magelang, Klaten, Jogjakarta, Solo dan Bandung untuk menemukan ibu-ibu eks-siswi Mendut. Dari catatan yang saya kumpulkan – berdasarkan informasi ibu-ibu yang aktif mengurus perkumpulan ibu-ibu eks-Mendut (reuni Mendut), masih terdapat sekitar 50 – 55 ibu-ibu eks-siswi Mendut yang masih hidup (hingga tahun 2006). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Pada reuni terakhir di Lembang – &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; (20-22 Mei 2005), terdapat 30 ibu-ibu eks-siswi Mendut yang bisa menghadirinya. Jika tahun 2008 nanti Mendut genap 100 tahun, tidak tahu berapa lagi yang masih tersisa. Untuk itulah, saya berkeras mencari ibu-ibu eks-siswi Mendut ini. Saya harus berpacu dengan waktu….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Akhirnya, hingga Januari 2006, saya berhasil menemukan 45 ibu-ibu eks-siswi Sekolah dan Asrama Mendut dari berbagai &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Perjalanan yang melelahkan (dan menguras dompet pribadi itu) terbayar dengan begitu banyaknya “buah tangan” yang bisa saya bawa pulang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Setiba di rumah, kembali saya memikirkan apa yang akan saya lakukan dengan “harta karun” itu. Kembali, boks yang berisi kaset-kaset rekaman itu saya dengarkan ulang. Dan pelan-pelan saya mulai menuliskan kisah-kisah itu, yang saya berharap nantinya bisa berguna bagi perempuan katolik, dan juga sumbangan terhadap sejarah perempuan di negeri ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;photo@iswanti2005&lt;br /&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-3902326486581937478?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/3902326486581937478/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=3902326486581937478&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/3902326486581937478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/3902326486581937478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2006/10/perjalanan-mencari-ibu-ibu-eks-siswi.html' title='Perjalanan Mencari Ibu-ibu eks Siswi Mendut…'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-8561070913974411665</id><published>2006-10-27T20:50:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T19:21:35.550+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi'/><title type='text'>Edisi Perkenalan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger2/5569/456064553223026/1600/Cover%20Kodrat%20yang%20Bergerak1.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 116px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 170px" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger2/5569/456064553223026/400/Cover%20Kodrat%20yang%20Bergerak1.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Gambar cover ini kulukis sendiri dengan judul "&lt;a href="http://www.kanisiusmedia.com/detail.php?id=015054&amp;amp;sort=&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;awal_blok=0&amp;amp;akhir_blok=1&amp;amp;halaman=0&amp;amp;kunci=Kodrat%20yang%20Bergerak&amp;amp;kategori=Agama,%20Pandangan%20Hidup,%20Filsafat&amp;amp;topik=PROD_DESC"&gt;Bergerak di bawah Bulan Purnama&lt;/a&gt;"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Teman-teman semua&lt;/b&gt;,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sebenarnya rada gagap teknologi. Jadi, waktu temanku yang pinter &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;ngutak-ngatik &lt;/span&gt;dan suka main-main di dunia maya itu menawariku untuk membuat blog sendiri, aku bingung. Pertanyaan pertamaku adalah &lt;a href="http://enda.goblogmedia.com/apa-itu-blog.html"&gt;apa itu blog!&lt;/a&gt; Hahaha udik kali ya. Pertanyaan kedua, apa manfaatnya untukku? Sebenarnya aku pesimis, seberapa banyak sih perempuan yang bisa dan memiliki kesempatan mengakses kecanggihan teknologi seperti ini. Sepertinya tidak banyak perempuan yang bisa menikmatinya. Namun demikian, setelah diskusi panjang lebar, termasuk pertimbanganku untuk “berani keluar”, dalam arti mem-“publish’ diriku, akhirnya aku mencoba memanfaatkan “blog-blog”-an ini, karena tergiur manfaat positifnya, yang ditawarkan temanku. Siapa tahu aku bisa ketemu komunitas yang bisa mendukung dan menjadi teman diskusi, sharing atau curhat tentang kepedulian yang kumiliki, yaitu terhadap &lt;a href="http://arts.anu.edu.au/suarsos/chapters/4.htm"&gt;isu perempuan&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Ngomong-ngomong, blog-ku ini kunamai KODRATBERGERAK, karena kuambil dari judul buku yang kuterbitkan tahun 2003. Nah, memang isu perempuan itu luas sekali. Kalau aku, dengan background studi dan juga aktivitas di gerakan dan organisasi yang aku bergabung, aku banyak fokus dalam isu perempuan terkait dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hak_Asasi_Manusia"&gt;HAM&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat"&gt;filsafat&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://world.std.com/~awolpert/"&gt;dunia agama&lt;/a&gt;. &lt;a href="http://situs.kesrepro.info/gendervaw/jan/2003/gendervaw03.htm"&gt;Isu perempuan dan agama&lt;/a&gt;, menurutku isu yang rada berat, dalam arti, semua argumentasi yang dibangun untuk mendasari prinsip, nilai, ajaran, simbol bahkan institusi dari agama yang dibangun dalam kerangka nilai dan ideologi patriarkis itu bahkan dilegitimasi dari kekuasaan ilahiah – surgawi. Wah bagaimana ini, kok jadi serius sekali ya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, tampaknya keprihatinanku ini makin hari makin bertumpuk. Makin hari makin nyesek rasanya, harus melihat dan mengalami perempuan makin diviktimisasi, katanya, demi moral atau kebaikan masyarakat dan bangsa. Lihat saja &lt;a href="http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=681"&gt;Perda-perda dan RUU–RUU yang makin konyol memasung dan memenjarakan perempuan&lt;/a&gt;. Aku sebenarnya sudah rada ‘nek’ sih, tapi bagaimana ya, ini juga harus dihadapi. Jadi, maksudku, aku juga ingin tahu, apakah ada yang masih menyisakan kepedulian untuk hal-hal semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, teman-teman semua, ini nomor perkenalanku. Aku akan senang, jika ada teman-teman yang mau berkenalan dan berdiskusi denganku. Tapi jangan marah jika agak telat-telat menjawabnya, karena aku suka jalan-jalan, dan kadang-kadang tidak setiap kali bisa mengakses internet. Sebelum lupa, Pras, thanks to you ya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam, &lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0307/14/swara/428250.htm"&gt;Iswanti&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-8561070913974411665?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/8561070913974411665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=8561070913974411665&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/8561070913974411665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/8561070913974411665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2006/10/gambar-cover-ini-kulukis-sendiri-dengan.html' title='Edisi Perkenalan'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-2146523395565106823</id><published>2006-10-27T20:40:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T19:20:13.671+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi'/><title type='text'>Teman-temanku</title><content type='html'>&lt;span lang="FI"&gt;Dalam blog-ku ini, aku nge-&lt;i&gt;link&lt;/i&gt; (wah tatabahasa apa ini!) dengan beberapa website dan blog, yang selama ini menjadi teman-teman di sekelilingku, teman main, teman diskusi, teman berdebat dan berantem, teman curhat, teman berjuang dsb. &lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Kenapa aku menaruh mereka di sini, juga karena aku sering sekali ditelepon, dikontak atau disms entah teman, kenalan atau bahkan orang yang tidak kukenal, menanyakan informasi di mana mereka bisa mendapatkan ini dan itu tentang isu perempuan. Nah, kalau kutaruh mereka di sini, selain menambah teman juga ingin menolong teman-teman yang sedang mencari informasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Kuperkenalkan satu demi satu ya. ada "Rahima" di mana teman-temanku di situ fokus pada isu hak-hak perempuan dalam Islam. Ada Ciciek Farkha, Dani dan kawan-kawan, yang sering mengundangku diskusi. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ciciek dan aku ini berteman sudah lama, sejak 1993 di Jogja. Bertemu dalam diskusi atau curhat dengan teman-teman di Rahima sangat menyenangkan, karena ternyata kita memiliki pengalaman, pertanyaan bahkan ”musuh” yang hampir sama, cuma beda penampilan. Kemudian, ada teman-teman yang sangat progresif memikirkan pendidikan alternatif untuk perempuan di Kapal Perempuan. Aku pernah diajak mereka memfasilitasi dan menulis buku yang berjudul &lt;i&gt;Pengalaman Perempuan: Pergulatan Lintas Agama&lt;/i&gt; (2000). Kemudian, teman-teman juga bisa mengakses berbagai informasi mengenai perempuan di Jurnal Perempuan, sebuah "jurnal feminis" yang cukup kritis, dan banyak membantu menumbuhkan kesadaran perempuan dalam menyorot dan memahami realitas dunia yang patriarkis. Di sana banyak sekali teman dan informasi yang bisa diakses.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Aku juga banyak nongkrong dengan teman-teman di TheInstitute for Ecosoc Rights&lt;a href="http://www.ecosocrights.blogspot.com/"&gt;&lt;/a&gt;, karena aku diajak bergabung untuk penelitian tentang ”gizi buruk” di NTT. Teman-teman di Ecosoc ini seru-seru banget, ada Palupi, Albert, Vitri, Yanti, Kristin, Prasetyo juga Reslian. Mereka punya blog yang menarik, dan aku juga beberapa kali menulis dalam blog itu. Aku pasti akan merindukan saat-saat kita berdebat yang kadang kelewatan itu. &lt;i&gt;No more poker&lt;/i&gt; yang gila yaaa...&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;eh, juga ada Reslian yang punya blog. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Aku salut sama dirimu...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sebenarnya masih banyak teman lain, tapi nanti lain kali lagi kuperkenalkan. Tulisan ini sudah terlalu panjang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;Untuk mengunjungi lembaga-lembaga teman-temanku itu, klik di bawah ini ya ..&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.rahima.or.id/"&gt;Rahima&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.kapalperempuan.org/"&gt;Kapal Perempuan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.jurnalperempuan.com/"&gt;Jurnal Perempuan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.komnasperempuan.or.id/"&gt;Komnas Perempuan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.ecosocrights.blogspot.com/"&gt;The Institute for Ecosoc Rights&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://rezlian.blogspot.com/"&gt;Reslian Pardede&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-2146523395565106823?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/2146523395565106823/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=2146523395565106823&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/2146523395565106823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/2146523395565106823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2006/10/teman-temanku.html' title='Teman-temanku'/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3736080820003034561.post-2877575157363420274</id><published>2006-10-27T19:00:00.000+07:00</published><updated>2006-10-28T04:09:36.937+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dear all friends,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Terserah mau dibilang apa...&lt;br /&gt;Dengan blog-ku ini,  aku berharap kesadaranku sebagai perempuan tetap terjaga. Bahwa aku perempuan – yang setiap kali masih harus memijak pendulum, antara &lt;b style=""&gt;perempuan teraniaya&lt;/b&gt; (karena ternyata masih hidup dalam dunia yang sangat patriarkis) dan &lt;b style=""&gt;perempuan merdeka&lt;/b&gt; (karena masih boleh memiliki kebebasan dalam memilih cara menjalani hidup di alam patriarki). Aku juga berharap apa yang kutulis ini bisa menjadi salah satu saluran napas kelegaan dan penghiburanku, supaya tidak nyesak di rongga dada. Selebihnya, terserah bagaimana teman-teman memanfaatkannya. Terimakasih! Salam, Iswanti. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.technorati.com/claim/c4rxy649jz" rel="me"&gt;Technorati Profile&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3736080820003034561-2877575157363420274?l=kodratbergerak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/feeds/2877575157363420274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3736080820003034561&amp;postID=2877575157363420274&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/2877575157363420274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3736080820003034561/posts/default/2877575157363420274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kodratbergerak.blogspot.com/2006/10/dear-all-friends-terserah-mau-dibilang.html' title=''/><author><name>Iswanti Suparma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15243133730113085743</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
